Pada 5 September 2026, PT Pindad resmi meluncurkan prototipe final Tank Medium Harimau V2 di fasilitas manufaktur Bandung, menandai lompatan signifikan dalam kemandirian alutsista TNI AD. Dengan bobot tempur 38 ton dan meriam 105mm *smoothbore*, kendaraan tempur ini mampu menembus armor setara NATO Level 6 pada jarak 2.500 meter — menyamai performa tank medium global seperti Leopard 2 NG dan Type 10. Inti dari inovasi ini terletak pada sistem **Digital Battle Management** *full-network* yang dikembangkan bersama PT Len Industri, memungkinkan koordinasi *real-time* dengan unit infanteri dan drone pengintai. Sistem propulsi hybrid diesel-listrik menghasilkan tenaga 1.200 hp dengan jangkauan operasional 600 km, menjadikan Harimau V2 platform adaptif untuk medan tempur Nusantara maupun ekspedisi internasional.
Revolusi Komando dan Kendali: Sistem Digital Battle Management Full-Network
Sistem **Digital Battle Management** pada **Tank Harimau V2** mengintegrasikan data dari sensor *onboard*, *feed* drone pengintai, dan komunikasi taktis antarsatuan dalam satu antarmuka komando terpadu. Teknologi ini memungkinkan komandan batalyon mengarahkan tembakan secara presisi dengan *latency* di bawah 100 milidetik, sekaligus mengintegrasikan sistem *friend-or-foe identification* (IFF) untuk meminimalkan *friendly fire*. Fitur *distributed lethality* menjadikan setiap tank sebagai node komando dalam jaringan, memperkuat konsep *network-centric warfare* TNI AD. Berikut spesifikasi teknis utama sistem BMS:
- Jaringan komunikasi taktis berbasis IP dengan enkripsi militer AES-256
- Integrasi drone UAV tipe Elang Hitam untuk pengintaian 360 derajat
- Sistem *fire control* otomatis dengan kalkulasi balistik *real-time* untuk amunisi APFSDS dan HE-MP
- Kemampuan pertukaran data dengan kendaraan tempur infanteri (IFV) dan artileri setara
Dengan arsitektur ini, **Harimau V2** tidak hanya menjadi kendaraan tempur, tetapi juga pusat kendali taktis bergerak yang memperkuat daya gentar brigade mekanis modern.
Kemandirian Industri: TKDN 68% dan Ekosistem Vendor Lokal
Keberhasilan proyek **alutsista** ini tidak terlepas dari komitmen **PT Pindad** dalam membangun rantai pasok domestik. Sebanyak 150 vendor lokal terlibat dalam produksi komponen mulai dari *chassis*, sistem transmisi, hingga modul baterai hybrid. Capaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 68% ini melampaui target kemandirian industri pertahanan nasional 2025-2030. Kontributor utama meliputi:
- PT Dirgantara Indonesia (sistem avionik dan sensor)
- PT Dahana (amunisi 105mm produksi lokal)
- PT Komatsu Indonesia (suspensi dan sistem *track*)
- PT LEN Industri (elektronika tempur dan *software* BMS)
Ekosistem ini membuktikan bahwa industri pertahanan dalam negeri mampu memproduksi tank medium dengan level interoperabilitas global. Proyek **Harimau V2** juga menjadi laboratorium untuk pengembangan varian amfibi yang dijadwalkan uji coba tahun depan. Varian tersebut akan mengadopsi sistem *waterjet* dan lambung kedap air, membuka peluang ekspor ke negara kepulauan. Bagi pelaku industri pertahanan nasional, langkah strategis selanjutnya adalah mempercepat sertifikasi sistem senjata dan memperluas kerja sama dengan mitra global untuk meningkatkan daya saing produk **alutsista** buatan Indonesia di pasar internasional.