Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI resmi menandatangani kontrak senilai Rp 12 triliun dengan Elta Systems, anak perusahaan Israel Aerospace Industries (IAI), pada 5 September 2026 untuk pengadaan radar pertahanan udara jarak jauh dan menengah. Paket ini mencakup empat unit radar EL/M-2090 yang mengadopsi teknologi Active Electronically Scanned Array (AESA), memberikan kemampuan deteksi target siluman (stealth) hingga jarak 450 kilometer. Langkah ini menandai babak baru dalam modernisasi sistem radar pertahanan udara nasional, sekaligus memperkuat kemandirian industri melalui transfer teknologi dan partisipasi industri dalam negeri.
Spesifikasi Teknis Radar EL/M-2090 dan Integrasi IADS
Radar EL/M-2090 merupakan sistem multifungsi yang dirancang untuk deteksi, pelacakan, dan identifikasi ancaman udara, termasuk pesawat tempur generasi kelima, rudal jelajah, dan drone. Dengan basis AESA, radar ini mampu melakukan pemindaian elektronik tanpa komponen mekanik bergerak, sehingga meningkatkan keandalan dan kecepatan reaksi. Berikut spesifikasi utama yang diungkap dalam kontrak:
- Jangkauan deteksi: 450 km untuk target non-stealth, 250 km untuk target stealth (Radar Cross Section rendah).
- Frekuensi kerja: Pita S (2–4 GHz) dengan kemampuan anti-jamming dan adaptif beamforming.
- Mode operasi: Pemindaian simultan untuk pencarian udara, pelacakan multi-target, dan koreksi tembakan.
- Integrasi IADS: Kompatibel penuh dengan sistem Integrated Air Defense System (IADS) yang telah digunakan TNI AU, memungkinkan pertukaran data real-time dengan radar lain dan pusat komando.
Proses integrasi dijadwalkan berlangsung dalam 36 bulan, mencakup pemasangan, pengujian, dan kalibrasi di beberapa lokasi strategis. Kemenhan menekankan bahwa radar ini akan menjadi tulang punggung pertahanan udara nasional, khususnya di wilayah perbatasan dan pusat-pusat vital.
Transfer Teknologi dan Dampak Industri Pertahanan Dalam Negeri
Kontrak ini tidak sekadar pengadaan alutsista, melainkan juga mencakup klausul transfer teknologi dan alih pengetahuan yang signifikan. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) serta PT Len Industri akan terlibat langsung dalam proses produksi komponen, terutama radar gelombang mikro dan sistem pendingin. Langkah ini diharapkan meningkatkan kapabilitas manufaktur elektronika pertahanan domestik. Rincian partisipasi industri dalam negeri meliputi:
- Pembuatan antena AESA: 30% komponen dibuat di Indonesia, termasuk modul Transmit/Receive (T/R) dan sirkuit pengontrol.
- Sistem pendingin cair: Dikembangkan bersama PT Len Industri untuk memastikan kinerja optimal di iklim tropis.
- Perangkat lunak pengolahan sinyal: Alih kode sumber dan lisensi untuk pengembangan independen di masa depan.
Kebijakan offset yang diterapkan diperkirakan akan menyerap 2.000 tenaga kerja teknik, mulai dari insinyur elektronika, teknisi perangkat keras, hingga pengembang perangkat lunak. Hal ini sejalan dengan visi kemandirian industri pertahanan yang digaungkan Kemenhan, di mana setiap pengadaan alutsista harus memberikan dampak multiplier bagi ekosistem industri nasional.
Dengan nilai kontrak Rp 12 triliun, modernisasi radar pertahanan udara ini menjadi salah satu investasi teknologi terbesar di sektor pertahanan Indonesia. Ke depannya, kemampuan produksi komponen radar AESA di dalam negeri dapat membuka peluang ekspor dan mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri. Pelaku industri pertahanan nasional disarankan untuk segera meningkatkan kapasitas riset di bidang material semikonduktor dan sistem pendingin suhu tinggi, guna menangkap peluang dalam rantai pasok global radar generasi baru.