READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
DATA INTELEJEN PASAR TRENDING

Data Intelijen Pasar: Industri Pertahanan Global Capai USD 2,4 Triliun, Indonesia Naik ke Peringkat 28 Eksportir

Data Intelijen Pasar: Industri Pertahanan Global Capai USD 2,4 Triliun, Indonesia Naik ke Peringkat 28 Eksportir

Data Intelijen Pasar mencatat industri pertahanan global menembus USD 2,4 triliun dengan pertumbuhan 4,7%, sementara Indonesia naik ke peringkat 28 eksportir dunia dengan pangsa pasar 0,7%. Segmen drone tempur dan counter-drone menjadi katalis pertumbuhan 23%, mendorong perlunya akselerasi pengembangan UAV kelas MALE serta sertifikasi STANAG 4671. Langkah ini menjadi kunci bagi industri pertahanan nasional untuk memperkuat daya saing ekspor dan merebut peluang pasar global.

Data Intelijen Pasar terkini dari Global Defence Market Report 2026 yang dirilis pada September 2026 mencatat nilai industri pertahanan global menembus USD 2,4 triliun dengan pertumbuhan year-on-year sebesar 4,7%. Lonjakan paling agresif terjadi pada segmen drone tempur dan sistem counter-drone yang tumbuh 23%, membuka celah strategis bagi produsen alutsista nasional untuk memperkuat posisi di papan atas rantai pasok global. Indonesia berhasil menempati Peringkat ke-28 dunia dalam daftar eksportir alutsista, dengan pangsa pasar ekspor yang naik 0,3% menjadi 0,7% — setara dengan nilai ekspor sekitar USD 16,8 miliar, didorong oleh penjualan amunisi kaliber kecil dan komponen drivetrain kendaraan taktis.

Spesifikasi Teknis dan Data Industri Pertahanan Global

Berdasarkan Data Industri yang dihimpun dari laporan tersebut, pertumbuhan nilai pasar tidak terlepas dari modernisasi alutsista di kawasan Asia-Pasifik dan Timur Tengah. Kontribusi terbesar masih didominasi oleh sistem persenjataan berat, avionik canggih, dan platform udara nirawak kelas MALE. Berikut poin teknis utama yang mendefinisikan peta persaingan industri saat ini:

  • Nilai total industri: USD 2,4 triliun, dengan kontribusi terbesar dari sistem persenjataan berat, avionik canggih, dan platform udara nirawak (UAV) kelas MALE.
  • Pertumbuhan tahunan: 4,7%, dipicu oleh peningkatan belanja pertahanan negara-negara NATO dan kemitraan strategis di Asia Tenggara.
  • Peringkat eksportir Indonesia: naik dari posisi 32 ke 28, dengan pangsa pasar 0,7% — produk andalan berupa amunisi kaliber kecil (5,56 mm dan 7,62 mm) serta komponen sistem drivetrain kendaraan taktis 4x4 dan 6x6.
  • Pasar tujuan utama: Filipina, Vietnam, Kenya, dan Nigeria, dengan tren peningkatan pengadaan dari kawasan Afrika Barat yang membutuhkan solusi pertahanan hemat biaya.

Lonjakan permintaan pada segmen drone tempur dan counter-drone sebesar 23% menjadi katalis utama yang harus direspons cepat oleh industri pertahanan nasional. Dengan proyeksi nilai pasar drone global mencapai USD 45 miliar pada 2028, Ekspor Alutsista Indonesia perlu diperkuat melalui pengembangan platform UAV yang memenuhi standar internasional.

Peluang Pengembangan Drone Tempur dan Sertifikasi NATO

Menanggapi dinamika pasar global, analis industri merekomendasikan PT Dirgantara Indonesia dan BPPT untuk segera mengakselerasi pengembangan varian drone taktis baru berbasis kelas MALE yang memiliki margin keuntungan hingga 35% per unit. Langkah strategis yang perlu ditempuh mencakup:

  • Sertifikasi standar NATO: Proses sertifikasi STANAG 4671 untuk sistem avionik dan data-link drone nasional akan meningkatkan daya saing di pasar Eropa dan Australia, sekaligus membuka akses ke proyek pertahanan multilateral.
  • Integrasi sensor EO/IR dan Synthetic Aperture Radar (SAR): Memenuhi spesifikasi misi intelijen, surveillance, dan reconnaissance (ISR) yang menjadi primadona buyer global, dengan kemampuan operasi multi-misi.
  • Kemitraan dengan vendor sistem propulsi: Penggunaan mesin turboprop buatan Jerman atau Prancis untuk meningkatkan endurance hingga lebih dari 24 jam, menjadikan platform drone nasional kompetitif di kelas MALE.

Dengan kombinasi Data Industri, sertifikasi internasional, dan integrasi sensor generasi baru, posisi Indonesia dalam peta ekspor alutsista global dapat terus merangkak naik dalam jangka menengah. Ke depan, penguasaan teknologi UAV kelas MALE dan standardisasi mutu menjadi kunci untuk merebut pangsa pasar yang lebih besar. Pelaku industri pertahanan nasional harus bergerak cepat dan kolaboratif agar tidak sekadar menjadi penonton di tengah pertumbuhan industri pertahanan global yang semakin kompetitif.

Intelijen Pasar|Data Industri|Ekspor Alutsista|Peringkat|Global
ENTITAS TERKAIT
Topik: industri pertahanan, ekspor alutsista, drone tempur
Organisasi: PT Dirgantara Indonesia, BPPT, ASEAN, NATO
Lokasi: Indonesia, Afrika
ARTIKEL TERKAIT