READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
OPTIMALISASI KEBUTUHAN TRENDING

Transformasi Strategis: KRI Gajah Mada (ex-Garibaldi) Akan Difungsikan sebagai Drone Carrier dan Helo Platform

Transformasi Strategis: KRI Gajah Mada (ex-Garibaldi) Akan Difungsikan sebagai Drone Carrier dan Helo Platform

KRI Gajah Mada (eks-ITS Giuseppe Garibaldi) ditransformasi menjadi drone carrier dan helikopter multifungsi melalui retrofitting di PT PAL Surabaya. Kapal ini akan mengintegrasikan Bayraktar TB3, helikopter medium, dan sistem C4ISR canggih sebagai sea-based aerial node. Langkah ini memperkuat kemandirian industri pertahanan dan membuka jalan bagi pengembangan kapal induk domestik.

Transformasi doktrin operasi alutsista strategis TNI Angkatan Laut memasuki babak baru melalui pengalihfungsian kapal induk hibah eks-Italia ITS Giuseppe Garibaldi yang akan berganti nama menjadi KRI Gajah Mada. Kapal dengan bobot mati 13.850 ton dan panjang 180,2 meter ini dirancang ulang sebagai drone carrier dan helikopter multifungsi yang mampu mengintegrasikan pesawat nirawak (UAV) tipe Bayraktar TB3 serta helikopter kelas menengah seperti UH-60 Black Hawk dan Mi-17. Secara spesifik, dek penerbangan asli yang semula hanya mendukung operasi AV-8B Harrier II akan dimodifikasi dengan sistem peluncuran dan pendaratan vertikal (VTOL) untuk UAV serta peningkatan kapasitas hingga 10 helikopter secara simultan.

Retrofitting dan Indigenisasi: Dari Kapal Induk Menjadi Drone Carrier Multifungsi

Proses retrofitting di PT PAL Surabaya menjadi tahapan krusial dalam adaptasi teknologi dan indigenisasi alutsista. Tidak sekadar perawatan, PT PAL mendapat mandat untuk melakukan upgrade sistemik yang mencakup:

  • Modifikasi dek penerbangan dan hangar agar kompatibel dengan operasi drone taktis dan helikopter medium.
  • Instalasi sistem komunikasi data link dedicated untuk kendali jarak jauh UAV, termasuk integrasi dengan datalink Bayraktar TB3 yang telah dipesan.
  • Penguatan sistem Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (C4ISR) guna mengelola operasi udara kompleks dari laut secara real-time.
  • Penambahan sistem pendaratan instrumen dan navigasi yang disesuaikan dengan profil penerbangan drone dan helikopter modern.

Langkah ini memperkuat kapabilitas engineering lokal dan menciptakan nilai tambah teknologi di dalam negeri, sejalan dengan kebijakan kemandirian industri pertahanan nasional.

Sea-Based Aerial Node: Arsitektur Pertahanan Masa Depan

Pasca-modernisasi, KRI Gajah Mada diproyeksikan menjadi sea-based aerial node dalam arsitektur pertahanan Nusantara. Kemampuan menerbangkan drone pengintai dan penyerang secara cepat dari titik laut mana pun, dipadukan dengan daya angkut helikopter untuk logistik dan evakuasi, menciptakan deterrence dan response layer yang fleksibel. Kapal ini mengisi celah strategis dalam proyeksi daya cepat TNI AL, terutama di kawasan timur Indonesia yang memiliki rantau pulau terpencil. Selain itu, peran ganda sebagai command center untuk operasi kemanusiaan dan bencana (HADR) menjadikannya aset multifungsi yang mendukung pertahanan sekaligus diplomasi maritim.

Outlook Teknologi: Keberhasilan retrofit KRI Gajah Mada akan menjadi testbed bagi pengembangan doktrin operasi kapal induk domestik serta integrasi UAV/UCAV di lingkungan TNI AL. Pelaku industri pertahanan nasional disarankan mempercepat riset sistem kendali drone angkatan laut, teknologi VTOL untuk platform lebih besar, serta sistem data link terenkripsi yang tahan terhadap perang elektronik. Proyek ini membuka peluang alih teknologi dan peningkatan kemampuan rekayasa dalam negeri, yang pada gilirannya memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen alutsista di kawasan.

kapal|induk|drone|helikopter|multifungsi
ENTITAS TERKAIT
Topik: Transformasi Strategis, Drone Carrier, Helo Platform, Pertahanan Nasional
Organisasi: PT PAL Surabaya, TNI AL
Lokasi: Surabaya, Italia, Nusantara
ARTIKEL TERKAIT