READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
KEAMANAN INTEGRASI TRENDING

TNI AU Terima Dua Pesawat CN-235 MPA untuk Patroli Maritim

TNI AU Terima Dua Pesawat CN-235 MPA untuk Patroli Maritim

PT Dirgantara Indonesia menyerahkan dua unit CN-235 MPA ke TNI AU dengan sensor canggih seperti radar multi-mode, sonobuoy, dan kamera EO/IR. Pesawat ini menjadi ujung tombak patroli maritim dengan endurance 10 jam, sekaligus mendorong kemandirian industri melalui target 60% komponen lokal pada 2028. Langkah ini memperkuat rantai pasok pertahanan nasional dan membuka peluang pengembangan varian MPA dari N219/N245 di masa depan.

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) secara resmi menyerahkan dua unit pesawat CN-235 versi Maritime Patrol Aircraft (MPA) kepada TNI Angkatan Udara dalam seremoni di hanggar produksi Bandung. Pesawat ini membawa muatan sensor canggih yang dirancang untuk patroli maritim, termasuk radar pengawasan multi-mode dengan jangkauan deteksi permukaan hingga 200 mil laut, sistem deteksi sonobuoy untuk identifikasi anomali bawah air, serta kamera elektro-optik/inframerah (EO/IR) resolusi tinggi yang terintegrasi dengan sistem misi otomatis. Dengan endurance mencapai 10 jam dan radius operasi efektif 1.500 mil laut, CN-235 MPA mampu memaksimalkan coverage patroli di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia yang membentang seluas 3,2 juta kilometer persegi — area yang rawan pelanggaran kedaulatan dan aktivitas ilegal.

Patroli Maritim Multi-Domain: Integrasi Sensor Canggih

Keunggulan teknis CN-235 MPA terletak pada arsitektur avionik yang mendukung operasi multi-misi secara real-time. Radar multi-mode tidak hanya berfungsi untuk pencarian permukaan tetapi juga dapat beralih ke mode SAR/ISAR untuk pencitraan resolusi tinggi, serta pemetaan cuaca. Selain itu, sistem akustik sonobuoy aktif/pasif memungkinkan pemantauan lalu lintas bawah air — kemampuan krusial dalam mengawasi pergerakan kapal selam asing di perairan strategis. Berikut spesifikasi sensor utama yang diintegrasikan:

  • Radar multi-mode dengan mode SAR/ISAR untuk pencitraan resolusi tinggi
  • Sistem akustik sonobuoy aktif/pasif untuk deteksi kapal selam
  • Kamera EO/IR dengan resolusi 1080p dan zoom optik 30x pada gimbal stabilisasi
  • Kemampuan data link satelit (SatCom) untuk transmisi real-time ke pusat komando
  • Kapasitas kru: 2 pilot + 1 operator misi + 2 sensor operator

Dengan konfigurasi tersebut, TNI AU kini memiliki aset yang mampu melaksanakan patroli perbatasan, pencarian dan penyelamatan (SAR), hingga penegakan hukum di laut — termasuk anti-piracy dan anti-illegal fishing — dalam satu platform terpadu. Integrasi sensor multi-domain ini menjadikan CN-235 MPA sebagai tulang punggung pengawasan maritim Indonesia di era militer modern.

Kemandirian Industri: Target 60% Komponen Lokal pada 2028

Program pengadaan CN-235 MPA ini merupakan bagian integral dari strategi kemandirian industri pertahanan nasional. PT Dirgantara Indonesia menegaskan bahwa dua pesawat yang diserahkan telah menggunakan komponen lokal hingga sekitar 42% dari total nilai pesawat. Rencana peningkatan bertahap mencapai 60% pada tahun 2028 menjadi komitmen nyata dalam mengurangi ketergantungan pada impor alutsista. Komponen yang telah dilokalkan antara lain struktur sayap dan badan, sistem hidraulik, serta sebagian panel avionik — hasil kerja sama dengan lebih dari 50 vendor dalam negeri. Keberhasilan ini membuka peluang pengembangan varian MPA dari pesawat N219 atau N245 di masa depan.

Dari sisi ekonomi, setiap unit CN-235 MPA yang diproduksi di dalam negeri mampu menyerap hingga 12.000 jam kerja per tahun bagi tenaga ahli teknik. Hal ini sekaligus memperkuat rantai pasok industri pertahanan dalam negeri dan menciptakan multiplier effect bagi ekonomi nasional. Dengan target lokalitas yang agresif, PT Dirgantara Indonesia tidak hanya membangun alutsista, tetapi juga ekosistem industri pertahanan yang berdaulat.

Ke depan, penguasaan teknologi sensor dan integrasi misi pada CN-235 MPA harus menjadi pijakan untuk mengembangkan varian MPA berbasis pesawat N219 atau N245. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri pertahanan adalah mempercepat investasi riset pada radar nasional, sonobuoy, dan data link satelit buatan dalam negeri. Dengan kemandirian komponen yang terus meningkat, Indonesia dapat menjadi hub produksi MPA regional sekaligus memperkuat postur pertahanan maritim di Indo-Pasifik.

CN-235|MPA|PT Dirgantara Indonesia
ENTITAS TERKAIT
Topik: patroli maritim, industri pertahanan
Organisasi: PT Dirgantara Indonesia, TNI AU
Lokasi: Indonesia
ARTIKEL TERKAIT