READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
KEAMANAN INTEGRASI TRENDING

TNI AL Integrasikan Sistem Combat Management dari Kapal Perang Berbeda ke dalam Jaringan 'Archipelago Shield'

TNI AL Integrasikan Sistem Combat Management dari Kapal Perang Berbeda ke dalam Jaringan 'Archipelago Shield'

TNI AL berhasil mengintegrasikan berbagai Combat Management System ke dalam jaringan Archipelago Shield melalui middleware Link-22 ter modifikasi, meningkatkan situational awareness 540% dan meng enable kan cooperative engagement. Integrasi ini membuka peluang bagi industri pertahanan nasional untuk pengembangan system integrator dan middleware interoperabilitas.

TNI Angkatan Laut (AL) telah mencapai terobosan teknis signifikan dengan mengintegrasikan berbagai Combat Management System (CMS) dari kapal perang kelas berbeda—mulai dari frigat, korvet, hingga kapal cepat rudal—ke dalam jaringan pertahanan maritim terpadu 'Archipelago Shield'. Integrasi ini dilakukan melalui middleware berbasis protokol NATO Link-22 yang dimodifikasi, memungkinkan pertukaran data taktis real-time antara kapal dengan CMS Thales TACTICOS, Leonardo SAAR, dan sistem buatan dalam negeri dari PT Len.

Arsitektur Jaringan dan Capability Leap

Jaringan Archipelago Shield membentuk tulang punggung digital untuk integrasi CMS, menghubungkan platform dengan spesifikasi teknis beragam:

  • Protokol Interoperabilitas: Modifikasi Link-22 dengan packet structure 96-bit, throughput 56 kbps per node, latency < 2 detik untuk data track dan senjata guidance
  • Data Fusion Engine: Sistem mampu menggabungkan 1,200+ track per jam dari radar Thales SMART-S Mk2, Leonardo KRONOS, dan sistem elektro-optik lokal
  • Middleware Gateway: Unit berbasis FPGA dari PT Len dengan processing speed 2.4 GHz, AES-256 encryption untuk cross-domain data sharing

Peningkatan Kapabilitas Operasional

Integrasi multi-CMS menghasilkan peningkatan kemampuan operasional yang terukur:

  • Situational Awareness: Meningkat 540% dalam track continuity untuk ancaman asimetris di perairan kepulauan
  • Cooperative Engagement: Memungkinkan korvet kelas Bung Tomo mengarahkan rudal Exocet MM40 Block 3 yang diluncurkan dari frigat Martadinata-class menggunakan data dari radar kapal lain
  • Network Resiliency: Jaringan mesh dengan 6 hopping node, automatic failover dalam 15 detik

Proyek pengembangan termasuk integrasi data dari satelit pengintai maritim dan UAV maritime patrol, menuju terbentuknya Common Operational Picture (COP) yang holistik untuk mengamankan Sea Lines of Communication (SLOC) dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

Dampak Strategis bagi Industri Pertahanan

Terobosan TNI AL membuka peluang bagi industri pertahanan nasional:

  • Permintaan untuk system integrator lokal diproyeksikan tumbuh 35% dalam 5 tahun
  • Pengembangan CMS generasi berikutnya dengan open architecture untuk memfasilitasi integrasi yang lebih seamless
  • Peluang ekspor middleware interoperabilitas ke negara-negara ASEAN dengan kebutuhan maritim serupa

Dengan Archipelago Shield, TNI AL bukan hanya meningkatkan deterrence capability, tetapi juga menciptakan ekosistem teknologi pertahanan yang mendorong inovasi industri dalam negeri dan mengurangi dependency pada solusi tunggal vendor asing.

TNI AL|Combat Management System|Integrasi|Jaringan|Archipelago Shield
ENTITAS TERKAIT
Topik: TNI AL integrasi sistem Combat Management, jaringan pertahanan maritim Archipelago Shield, Combat Management System (CMS), kapal perang kelas berbeda, frigat SIGMA, korvet Bung Tomo, kapal cepat rudal, middleware protokol NATO Link 22, pertukaran data taktis real-time, CMS Thales TACTICOS, Leonardo SAAR, sistem buatan dalam negeri, PT Len, situational awareness, cooperative engagement capability, satelit pengintai maritim, UAV maritime patrol, Common Operational Picture (COP), SLOC, ZEE Indonesia
Organisasi: TNI Angkatan Laut, PT Len, NATO
Lokasi: Indonesia
ARTIKEL TERKAIT