Laksamana TNI Muhammad Ali, Kepala Staf TNI AL, memproyeksikan kapal induk eks Angkatan Laut Italia, ITS Giuseppe Garibaldi, memiliki usia operasional tambahan 15 hingga 20 tahun melalui program modernisasi dan retrofit komprehensif. Kapal dengan panjang 180,2 meter dan daya jelajah 7.000 mil laut ini, meskipun telah beroperasi selama 41 tahun, dinilai masih menyimpan potensi teknis yang signifikan untuk dikembangkan mendukung doktrin operasi TNI AL di wilayah laut tropis Indonesia. Langkah ini merupakan bagian dari strategi optimalisasi kebutuhan alutsista dengan pendekatan cost-effective life extension, di mana investasi retrofit diarahkan untuk memperpanjang umur platform secara drastis dibandingkan pengadaan kapal baru. Dengan kata lain, pembelian dan retrofit kapal bekas menjadi instrumen akselerasi kapabilitas tanpa menunggu siklus pengadaan yang panjang.
Retrofit Komprehensif dan Transfer Teknologi Kritis: Membangun Fondasi Kemandirian Industri
Program retrofit kapal induk ini dirancang tidak hanya sebagai upaya perpanjangan usia, tetapi juga sebagai wahana transfer teknologi kritis. Secara spesifik, proses modernisasi akan menyasar peningkatan sistem propulsi, pembaruan teknologi pendukung operasi udara seperti avionik dan sistem deck, serta adaptasi seluruh sistem terhadap lingkungan operasi baru. Keterlibatan PT PAL Indonesia yang berkolaborasi dengan Fincantieri selaku OEM asal Italia menjadi inti strategi ini. Kolaborasi tersebut dirancang untuk membangun landasan kapabilitas industri pertahanan nasional dalam hal desain, pemeliharaan, dan upgrade kapal induk, sehingga proyek-proyek besar di masa depan dapat dikerjakan dengan tingkat kemandirian yang lebih tinggi.
Ruang lingkup modernisasi dan retrofit yang tengah dipersiapkan meliputi:
- Pembaruan sistem propulsi agar sesuai dengan kebutuhan manuver dan efisiensi bahan bakar di perairan tropis;
- Upgrade sistem avionik, radar, dan perlengkapan deck untuk mendukung operasi helikopter dan UAV;
- Integrasi sistem komunikasi data link dan pusat kendali operasi untuk interoperabilitas pasukan trimatra;
- Perkuatan lambung dan sistem kelistrikan guna memperpanjang umur pakai di lingkungan laut dengan tingkat korosi tinggi.
Proyeksi Kapabilitas Futuristik: Platform Pusat Komando Operasi Hybrid dan Interoperabilitas Trimatra
Dengan spesifikasi teknis yang dimilikinya, integrasi eks kapal induk Italia ini menandai lompatan besar dalam kapabilitas proyeksi kekuatan TNI AL. Platform sepanjang 180,2 meter dengan daya jelajah 7.000 mil laut dapat dikonfigurasikan sebagai pusat komando operasi hybrid, mulai dari operasi militer selain perang (OMSP) hingga pengerahan drone tempur dan helikopter dalam skala besar. Kemampuan ini akan memperkuat interoperabilitas trimatra, menjadikan kapal induk sebagai pangkalan bergerak yang dapat memproyeksikan kekuatan udara dan laut hingga jauh dari wilayah pangkalan darat.
Dalam arsitektur operasi masa depan, posisi kapal ini dapat dipetakan sebagai berikut:
- Mother ship untuk kawanan drone tempur dan helikopter anti-kapal selam di area operasi laut dalam;
- Platform komando dan kontrol untuk operasi hybrid serta koordinasi lintas matra;
- Fasilitas lepas pantai untuk operasi kemanusiaan, evakuasi, dan dukungan logistik;
- Mekanisme proyeksi kekuatan untuk menjaga kedaulatan di pulau-pulau terdepan.
Sebagai studi kasus pertama pengelolaan kapal induk di Indonesia, program life extension ini memberikan pelajaran penting dalam manajemen siklus hidup alutsista kompleks. Bagi pelaku industri pertahanan nasional, keterlibatan dalam modernisasi dan retrofit Garibaldi adalah momentum membangun kompetensi teknis untuk platform kapal besar. Ke depan, kapabilitas serupa dapat direplikasi dalam program perawatan kapal perang modern, pengembangan kapal induk buatan dalam negeri, serta penguasaan teknologi propulsi dan sistem tempur secara mandiri.