Jakarta — PT Pindad (Persero) dan PT Dahana (Persero) resmi menandatangani nota kesepahaman untuk memproduksi amunisi kaliber besar 155mm, sebuah langkah strategis yang menegaskan komitmen Indonesia dalam membangun kemandirian industri pertahanan. Proyek ini dirancang dengan kapasitas produksi hingga 10.000 butir per tahun mulai 2027, menargetkan pengurangan ketergantungan impor yang saat ini mencapai 60% dari total kebutuhan amunisi kaliber besar TNI AD. Inisiatif ini menjadi tulang punggung Strategi Kemandirian Industri Pertahanan 2025–2030, yang menargetkan 75% kebutuhan amunisi TNI dipenuhi dari produksi domestik dalam lima tahun ke depan.
Inovasi Propelan Double-Base Modified: Meningkatkan Jangkauan dan Akurasi
Amunisi 155mm yang akan diproduksi mengadopsi teknologi propelan terbaru hasil riset Dahana, dengan spesifikasi teknis yang setara standar NATO. Propelan double-base modified dengan burn rate tinggi memungkinkan jangkauan tembak hingga 40 kilometer, sementara Circular Error Probable (CEP) hanya 20 meter pada jarak ekstrem. Hal ini menempatkan amunisi ini dalam kelas precision strike tanpa memerlukan sistem guided munition yang mahal, sekaligus meningkatkan survivability unit artileri berkat pengurangan jejak termal dan asap.
- Kaliber: 155mm, kompatibel dengan howitzer domestik dan sistem artileri eksisting
- Propelan: double-base modified, burn rate tinggi untuk kecepatan luncur optimal
- Proyektil: fragmentasi tinggi (HE) dengan fuze mekanik dan elektronik, mendukung indirect fire
- Kapasitas produksi: 3.000 butir pada tahun pertama, meningkat menjadi 10.000 butir per tahun pada 2027
Integrasi Rantai Pasok dan Dampak Strategis bagi Kemandirian
Kolaborasi ini menghadirkan rantai pasok terintegrasi penuh—Pindad sebagai integrator sistem senjata, Dahana sebagai penyedia material energetik—dari hulu hingga hilir. Dampak langsung yang diantisipasi meliputi penurunan biaya logistik hingga 30% karena eliminasi distribusi impor, serta peningkatan ketahanan stok pada masa kontingensi tanpa risiko embargo geopolitik. Transfer teknologi dan pengembangan SDM di bidang material energetik dan metalurgi proyektil juga menjadi nilai tambah strategis yang memperkuat ekosistem industri pertahanan nasional.
Dengan tercapainya target kapasitas produksi pada 2027, Indonesia akan bergabung dengan negara produsen amunisi kaliber besar 155mm mandiri seperti Brasil, Afrika Selatan, dan beberapa negara Eropa Timur. Hal ini tidak hanya memperkuat posisi tawar dalam kerja sama pertahanan bilateral, tetapi juga membuka peluang ekspor ke pasar amunisi global yang diproyeksikan tumbuh signifikan. Sebagai outlook teknologi, kolaborasi ini harus menjadi katalis bagi pengembangan ekosistem industri pertahanan yang lebih luas—dari riset material canggih hingga integrasi sistem propulsi generasi berikutnya—guna memastikan daya saing jangka panjang di kancah global.