Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) resmi merilis roadmap riset dan inovasi teknologi pertahanan periode 2026–2030 yang secara fundamental mengubah arah pengembangan alutsista nasional. Alih-alih fokus pada perakitan platform utuh, strategi baru ini memusatkan sumber daya pada penguasaan teknologi kritis untuk subsystem alutsista — sebuah pendekatan yang dinilai lebih realistis dan berdampak strategis tinggi dalam mempercepat kemandirian industri pertahanan. Tiga pilar utama menjadi fondasi: pengembangan sensor dan elektronika, teknologi propulsi dan energi, serta material komposit dan material maju. Langkah ini diyakini akan meningkatkan Total Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia dalam negosiasi transfer teknologi dengan mitra internasional.
Pilar Sensor dan Elektronika: Miniaturisasi Radar AESA dan Sonar Array
Pada pilar pertama, BPPT memprioritaskan pengembangan radar Active Electronically Scanned Array (AESA) berdaya rendah yang dirancang untuk aplikasi pada drone dan kendaraan darat taktis. Radar ini merupakan hasil kolaborasi dengan PT LEN dan Institut Teknologi Bandung (ITB), dengan target spesifikasi teknis berupa miniaturisasi modul TR (Transmit-Receive) dan konsumsi daya di bawah 500 watt untuk operasi kontinu. Selain radar, pilar ini juga mencakup pengembangan sonar array untuk kapal selam dan seeker rudal berbasis pencitraan inframerah. Menurut data internal BPPT, proyek ini ditargetkan memasuki fase uji integrasi pada tahun 2028 dan siap diproduksi massal pada 2030.
Propulsi dan Material: Menuju Subsystem Kritis Berbasis Kemandirian
Pada pilar teknologi propulsi, BPPT bersama PT Industri Kereta Api (INKA) dan ITS mengadaptasi teknologi powertrain kereta untuk dikonversi menjadi sistem penggerak kendaraan tempur roda rantai generasi mendatang. Fokus utamanya adalah pengembangan mesin diesel high-power berdaya hingga 1.200 HP yang memenuhi standar militer. Sementara itu, untuk kapal selam listrik, BPPT menggandeng PT PAL dan LIPI dalam riset baterai lithium-ion berdensitas tinggi serta bahan bakar ramah lingkungan berbasis hidrogen. Di sisi material, kolaborasi dengan PTDI dan LIPI menghasilkan inovasi komposit serat karbon untuk struktur pesawat dan helikopter, serta armor keramik dan material stealth penyerap radar.
Adapun rincian teknis pengembangan meliputi:
- Radar AESA miniatur: rentang frekuensi X-band, jumlah elemen 256-512, daya pancar < 1 kW, kompatibel dengan UAV kelas taktis.
- Mesin diesel marinir: konfigurasi V12, turbocharged, torsi maksimal 3.500 Nm, efisiensi termal >40%.
- Material komposit serat karbon: modulus elastisitas 230 GPa, kekuatan tarik 3.500 MPa, aplikasi pada sayap dan fuselage pesawat tanpa awak.
Dengan menguasai subsystem kritis ini, Indonesia tidak hanya mampu meningkatkan level of sovereignty dalam rantai pasok alutsista, tetapi juga memperoleh kapasitas untuk mengintegrasikan dan mengembangkan lebih lanjut teknologi yang ditransfer oleh mitra asing. Strategi ini juga memungkinkan alokasi sumber daya riset yang lebih efisien — karena setiap komponen dapat diadopsi oleh berbagai platform dari produsen dalam negeri seperti PTDI, Pindad, dan PAL.
Ke depan, pelaku industri pertahanan nasional perlu mempercepat technology readiness level (TRL) dari masing-masing subsystem agar dapat masuk ke tahap produksi serial dalam waktu 3–5 tahun. Investasi pada fasilitas uji dan sertifikasi, seperti anechoic chamber untuk radar dan laboratorium uji material komposit, menjadi prasyarat mutlak. Dengan keseriusan implementasi roadmap ini, Indonesia berpotensi menjadi supplier subsystem kritis di kawasan Asia Tenggara pada dekade mendatang — sebuah lompatan strategis dari sekadar assembler menjadi technology owner.