READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
RISET & INOVASI ALUTSISTA TRENDING

Spesifikasi Teknis Kapal Induk Giuseppe Garibaldi: Platform untuk Helikopter dan Drone Tempur

Spesifikasi Teknis Kapal Induk Giuseppe Garibaldi: Platform untuk Helikopter dan Drone Tempur

KRI Sriwijaya, hasil transformasi kapal induk ringan ITS Giuseppe Garibaldi, menghadirkan spesifikasi teknis unggul dengan propulsi COGAG 81.000 hp dan dek penerbangan 174 meter yang siap mengintegrasikan drone tempur. Kemampuan jelajah 7.000 nm dan sistem pertahanan berlapis menjadikannya pusat komando bergerak yang memperkuat proyeksi daya maritim TNI AL. Inovasi ini mendorong percepatan kemandirian industri pertahanan nasional dalam pengembangan platform udara otonom.

Kapal induk ringan ITS Giuseppe Garibaldi, yang akan diresmikan sebagai KRI Sriwijaya, menghadirkan lompatan kuantum dalam proyeksi daya maritim TNI Angkatan Laut. Dengan spesifikasi teknis yang solid—panjang 180,2 meter, lebar 33,4 meter—platform eks-Cavour class ini ditenagai sistem propulsi COGAG (Combined Gas Turbine and Gas Turbine) yang menggerakkan empat turbin gas General Electric Avio LM2500. Total output mencapai 81.000 tenaga kuda, mendorong kapal melaju hingga 30 knot. Angka-angka ini bukan sekadar data; mereka adalah fondasi teknis untuk mobilitas strategis di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia yang membentang ribuan kilometer.

  • Sistem Propulsi: COGAG, empat turbin gas GE Avio LM2500, 81.000 hp, kecepatan 30 knot
  • Dimensi: Panjang 180,2 m, lebar 33,4 m, dek penerbangan 174 m dengan ski-jump 6,5°
  • Kapasitas Udara: Hingga 18 helikopter kelas menengah-berat atau kombinasi dengan drone tempur MALE/maritime patrol
  • Sistem Pertahanan: Rudal Aspide dan CIWS DARDO untuk pertahanan udara berlapis
  • Endurance: 7.000 nautical miles pada kecepatan 20 knot

Dek Penerbangan dan Integrasi Drone Tempur: Era Operasi Otonom

Dek penerbangan sepanjang 174 meter dengan sudut ski-jump 6,5 derajat menjadi elemen kunci transformasi kapal ini. Awalnya dirancang untuk pesawat STOVL seperti AV-8B Harrier II, konfigurasi masa depannya untuk TNI AL menegaskan pergeseran paradigma menuju sistem udara otonom. Kapasitas angkutnya yang fleksibel memungkinkan pengoperasian hingga 18 helikopter kelas menengah-berat, seperti AS565 Panther atau AW101, atau kombinasi dinamis antara helikopter dan drone tempur MALE (Medium Altitude Long Endurance) serta drone maritim patroli. Integrasi ini dirancang untuk terhubung langsung dengan sistem C4ISR kapal, menjadikan kapal induk ini sebagai pusat komando bergerak yang mampu mengelola ruang pertempuran multidimensi. Drone tempur seperti varian loitering munition atau UAV pengintai jarak jauh dapat diterbangkan dari dek ini, memperluas jangkauan penginderaan dan serangan tanpa risiko awak.

Daya Tahan dan Pertahanan Berlapis: Pilar Operasi Gabungan

Dengan kemampuan jelajah 7.000 nautical miles pada kecepatan ekonomis 20 knot, KRI Sriwijaya menawarkan endurance yang vital untuk operasi berkelanjutan. Ini bukan sekadar jarak, melainkan loitering time yang diperlukan untuk misi anti-kapal selam, surveillance maritim luas, dan respon cepat dalam bencana alam. Sistem persenjataan pertahanan berlapis—termasuk rudal permukaan-ke-udara Aspide dan sistem CIWS DARDO—memastikan platform ini mampu melindungi dirinya dan kelompok tempurnya dari ancaman udara yang beragam, dari pesawat sayap tetap hingga rudal anti-kapal. Ini menciptakan zona perlindungan udara mandiri yang krusial di lingkungan operasi yang degeneratif. Sebagai mobile command center, kapal ini menjadi force multiplier yang mengubah cara TNI AL beroperasi, mengintegrasikan drone tempur dan sistem udara berawak-awak untuk patroli ZEE yang lebih efisien.

Outlook teknologi ke depan, integrasi penuh antara dek penerbangan KRI Sriwijaya dengan drone tempur generasi berikutnya—seperti UAV combat-capable hasil program kemandirian industri pertahanan nasional—akan menjadi pemicu terbentuknya doktrin operasi udara-otonom di lingkungan maritim. Pelaku industri pertahanan nasional perlu segera memetakan kebutuhan spesifik platform ini dalam hal sistem launch and recovery, datalink, dan mission payload modular. Kolaborasi antara PT PAL, LAPAN, dan konsorsium riset drone tempur lokal menjadi kunci untuk memastikan KRI Sriwijaya tidak hanya menjadi kapal induk impian, tetapi juga menjadi laboratorium terapung bagi ekosistem alutsista otonom Indonesia.

spesifikasi|COGAG|drone|tempur|dek|penerbangan
ENTITAS TERKAIT
Topik: kapal induk, spesifikasi teknis, TNI AL, operasi gabungan
Organisasi: ITS, TNI, TNI AL, General Electric Avio, COGAG, Aspide, DARDO
Lokasi: Indonesia
ARTIKEL TERKAIT