READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
RISET & INOVASI ALUTSISTA TRENDING

Riset LAPAN dan ITB Kembangkan Material Komposit Termal untuk Sayap Drone Tempur MALE

Riset LAPAN dan ITB Kembangkan Material Komposit Termal untuk Sayap Drone Tempur MALE

Riset bersama LAPAN dan ITB berhasil mengembangkan material komposit termal berbasis serat karbon aerospace khusus sayap drone tempur MALE, dengan ketahanan suhu hingga 300°C dan kepadatan 15% lebih ringan dari aluminium. Material ini akan diintegrasikan pada Elang Hitam generasi kedua, meningkatkan endurance menjadi 36 jam dan payload 1,5 ton. Terobosan ini mendorong kemandirian industri pertahanan nasional melalui rantai pasok serat karbon dan resin termal dalam negeri.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil mengembangkan material komposit termal berbasis serat karbon kelas aerospace yang dirancang khusus untuk sayap drone tempur MALE (Medium Altitude Long Endurance). Material inovatif ini mampu mempertahankan integritas struktural pada suhu kontinu hingga 300°C tanpa degradasi modulus elastisitas, sekaligus lolos uji terowongan angin dengan beban aerodinamis setara kecepatan 250 knot. Capaian ini menegaskan posisi LAPAN dan ITB sebagai pusat riset material komposit strategis dalam ekosistem kemandirian alutsista nasional, khususnya untuk platform udara nirawak generasi berikutnya.

Spesifikasi Teknis dan Ketahanan Termal Material Sayap MALE

Material komposit termal hasil riset LAPAN-ITB menggunakan matriks resin termal yang diperkuat serat karbon kelas aerospace, memungkinkan distribusi panas merata dan resistensi terhadap thermal cycling ekstrem yang umum terjadi pada misi MALE berdurasi panjang. Pendekatan rekayasa ini menjadi solusi kritis bagi operasi pengintaian dan serangan di lingkungan termal tinggi. Berikut spesifikasi teknis utama yang menjadikannya kandidat kuat pengganti logam konvensional:

  • Ketahanan suhu kontinu: hingga 300°C tanpa penurunan modulus elastisitas yang signifikan.
  • Densitas material: 1,6 g/cm³ — lebih ringan 15% dibanding aluminium alloy standar.
  • Kekuatan tarik ultimate: 1.200 MPa pada suhu ruang, dan 980 MPa pada 300°C.
  • Konduktivitas termal terkontrol: 45 W/mK — memungkinkan manajemen panas sayap terdistribusi optimal.
  • Uji beban dinamik: telah lolos simulasi flutter hingga frekuensi 50 Hz pada terowongan angin.

Dibandingkan material komposit konvensional berbasis epoksi yang umumnya memiliki batas operasional di bawah 180°C, inovasi ini memberikan margin keamanan termal jauh lebih lebar. Hal tersebut sangat relevan untuk sayap drone tempur MALE yang kerap beroperasi di atas area konflik dengan radiasi panas tinggi dari permukaan maupun dari engine itu sendiri.

Integrasi pada Elang Hitam Generasi Kedua dan Dampak Industri

Teknologi material komposit termal ini akan diaplikasikan pada sayap drone tempur MALE Elang Hitam generasi kedua yang tengah dikembangkan PT. Dirgantara Indonesia. Dengan material ini, drone diproyeksikan memiliki endurance 36 jam dan kapasitas payload hingga 1,5 ton — peningkatan signifikan dari generasi sebelumnya. Proses manufaktur material telah dirancang kompatibel dengan metode infus vakum resin transfer molding (RTM), sehingga memungkinkan produksi massal yang efisien di dalam negeri. Riset ini merupakan bagian dari program Riset & Inovasi Alutsista yang didanai Kementerian Riset dan Teknologi, sejalan dengan roadmap kemandirian industri pertahanan 2025–2030. Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan performa platform Elang Hitam, tetapi juga menciptakan ekosistem rantai pasok serat karbon dan resin termal di dalam negeri, mengurangi ketergantungan pada impor material komposit kelas aerospace.

Ke depan, adopsi material komposit termal ini pada platform sayap tetap lainnya — termasuk pesawat latih tempur dan UAV taktis — akan memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen alutsista mandiri di kawasan. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri pertahanan adalah mempercepat investasi pada fasilitas produksi serat karbon dalam negeri dan memperkuat kolaborasi antara LAPAN, perguruan tinggi, serta BUMN strategis untuk menciptakan rantai pasok yang resilien. Dengan demikian, terobosan ini tidak hanya menjawab kebutuhan teknis operasional drone tempur MALE, tetapi juga menjadi fondasi bagi ekosistem inovasi material pertahanan nasional yang berkelanjutan.

drone tempur|MALE|material komposit|LAPAN
ENTITAS TERKAIT
Topik: pengembangan material komposit termal, sayap drone tempur MALE, riset alutsista
Organisasi: LAPAN, ITB, PT. Dirgantara Indonesia, Kementerian Riset dan Teknologi
ARTIKEL TERKAIT