Pada 28 Agustus 2026, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan keberhasilan prototipe radar FMCW pita Ka-band yang dirancang khusus untuk mendeteksi drone taktis jarak rendah. Radar ini mampu menjangkau hingga 12 km untuk target dengan Radar Cross Section (RCS) 0,01 m², setara dengan ukuran drone kelas mini. Resolusi jaraknya mencapai 0,5 meter dan dapat melacak 64 target secara simultan—sebuah terobosan dalam kemampuan riset pertahanan nasional. Teknologi ini menjadi fondasi sistem Counter-Unmanned Aerial System (C-UAS) yang dijadwalkan siap pada tahun 2027, menandai langkah konkret menuju kemandirian alutsista.
Arsitektur FMCW Ka-Band: Superioritas Spektral dan Efisiensi Daya
Pemilihan teknologi FMCW bukan tanpa alasan. Berbeda dengan radar pulsed konvensional, radar FMCW mentransmisikan gelombang kontinu yang dimodulasi frekuensinya, sehingga memiliki resistensi tinggi terhadap jamming dan footprint daya yang sangat rendah. Pita Ka-band (26,5–40 GHz) memberikan keunggulan resolusi spasial tinggi dan kemampuan membaur dengan lingkungan—ideal untuk deteksi drone siluman berkecepatan rendah. Prototipe ini dirancang agar dapat diintegrasikan pada kendaraan taktis maupun stasiun tetap, mendukung mobilitas operasional TNI. Kepala LAPAN menekankan bahwa riset ini merupakan langkah kunci menuju kemandirian alutsista, mengurangi ketergantungan pada produk impor.
Uji Lapangan dan Peta Jalan Pengembangan C-UAS Nasional
Prototipe telah melewati uji lapangan di area uji Pusat Teknologi Pertahanan dan Keamanan (Pustekhan) di Sukabumi. Target uji coba menggunakan drone DJI Phantom 4 yang bergerak hingga kecepatan 150 km/jam—terdeteksi dan dilacak dengan akurasi tinggi. Berikut spesifikasi teknis kunci yang dirilis:
- Jangkauan deteksi: 12 km (RCS 0,01 m²)
- Resolusi jarak: 0,5 meter
- Kapasitas tracking: 64 target simultan
- Kecepatan target maksimum: 150 km/jam
- Frekuensi operasi: Pita Ka-band (26,5–40 GHz)
- Mode transmisi: Frequency Modulated Continuous Wave (FMCW)
Tahap riset selanjutnya berfokus pada miniaturisasi komponen RF dan modul pemroses sinyal, serta integrasi dengan sistem pertahanan udara lapangan yang lebih luas. BRIN menargetkan purwarupa siap produksi pada awal 2027, yang nantinya akan menjadi tulang punggung sistem C-UAS terintegrasi berbasis radar nasional.
Dari perspektif industri pertahanan, pengembangan radar FMCW Ka-band ini membuka peluang besar bagi produsen komponen lokal untuk terlibat dalam rantai pasok alutsista. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri adalah segera melakukan alih teknologi di bidang gallium nitride (GaN) untuk modul daya, serta memperkuat kemampuan integrasi sistem berbasis AI untuk otomatisasi deteksi dan pelacakan drone. Tanpa langkah ini, kemandirian C-UAS nasional hanya akan menjadi wacana. Dengan keberhasilan LAPAN dan BRIN, Indonesia kini berada di jalur tepat untuk menguasai teknologi deteksi drone generasi baru, sekaligus memperkuat ekosistem industri pertahanan tanah air.