PT Dirgantara Indonesia (PT DI) mencatatkan tonggak baru dalam pengembangan alutsista nasional melalui uji coba material komposit serat karbon yang dilapisi lapisan penyerap radar (Radar Absorbent Material/RAM) pada sayap UAV MALE Elang Hitam generasi kedua. Hasil uji laboratorium di anechoic chamber Bandung menunjukkan penurunan Radar Cross Section (RCS) hingga 0,02 meter persegi, setara dengan RCS seekor burung besar. Pada frekuensi X-band (8-12 GHz), material ini mampu menyerap gelombang radar hingga 90%, mengonfirmasi efektivitas teknologi stealth yang diintegrasikan pada platform UAV strategis ini.
Spesifikasi Teknis dan Performa Stealth UAV Elang Hitam Gen-2
Pengembangan material komposit ini tidak hanya meningkatkan kemampuan siluman, tetapi juga memberikan efisiensi struktural yang signifikan. Bobot sayap berkurang 15% dibandingkan versi sebelumnya, sehingga daya angkut muatan (payload) meningkat hingga 250 kilogram. Berikut adalah spesifikasi utama yang dicapai dari inovasi ini:
- Material: Serat karbon dengan lapisan RAM, diuji pada frekuensi X-band (8-12 GHz)
- RCS: 0,02 m², setara dengan burung besar
- Penyerapan radar: 90% pada rentang frekuensi X-band
- Bobot sayap: turun 15% dari versi sebelumnya
- Payload capacity: hingga 250 kg
- Endurance: 36 jam pada ketinggian operasi 30.000 kaki
- Penerbangan perdana menggunakan material komposit baru: dijadwalkan 2027
Dampak Industri dan Kemandirian Alutsista Nasional
Program stealth coating ini merupakan hasil kolaborasi antara PT DI, LAPAN, dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Keberhasilan uji coba material komposit ramah radar ini menempatkan Indonesia pada posisi strategis sebagai salah satu produsen UAV militer dengan kemampuan siluman di Asia Tenggara. Dengan penguasaan teknologi komposit dan RAM, PT DI tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor material, tetapi juga membuka peluang untuk pengembangan varian UAV lain dengan kemampuan stealth. Inovasi ini juga berpotensi diaplikasikan pada platform udara lain seperti pesawat tempur ringan atau drone taktis.
Ke depan, pengembangan material komposit dengan kemampuan serapan radar yang lebih luas frekuensinya dan integrasi dengan sistem avionik cerdas akan menjadi fokus utama. Bagi pelaku industri pertahanan nasional, langkah PT DI ini menjadi sinyal bahwa kemandirian alutsista bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang terukur. Investasi dalam riset material dan uji laboratorium perlu terus diperkuat untuk mempercepat roadmap produksi UAV siluman Indonesia yang siap bersaing di pasar global.