READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
RISET & INOVASI ALUTSISTA TRENDING

Riset Generasi Baru Kendaraan Tempur Lapis Baja 'Harimau 2' Mulai Masuk Tahap Fabrikasi Prototipe

Riset Generasi Baru Kendaraan Tempur Lapis Baja 'Harimau 2' Mulai Masuk Tahap Fabrikasi Prototipe

Proyek riset bersama PT Pindad, FNSS Turki, dan ITB telah memasuki tahap fabrikasi prototipe kendaraan tempur lapis baja Harimau 2, yang membawa perubahan signifikan dari kendaraan angkut personel menjadi kendaraan tempur infanteri (IFV) dengan bobot 28 ton, meriam kaliber 40 mm, dan BMS buatan dalam negeri. Dengan investasi riset Rp 1,8 triliun dan target 200 unit untuk TNI AD, program ini memperkuat kemandirian alutsista serta membuka peluang ekspor industri pertahanan nasional dalam lima tahun ke depan.

Konsorsium riset yang melibatkan PT Pindad, FNSS Turki, dan Institut Teknologi Bandung (ITB) resmi memasuki tahap fabrikasi prototipe kendaraan tempur lapis baja generasi baru yang dijuluki Harimau 2. Berbeda dengan pendahulunya yang berperan sebagai kendaraan angkut personel, Harimau 2 dirancang sebagai kendaraan tempur infanteri (IFV) dengan bobot tempur 28 ton. Platform ini mengusung perlindungan armor komposit modular, meriam otomatis kaliber 40 mm, serta sistem propulsi mesin diesel 600 hp yang mampu melaju hingga 70 km/jam di jalan raya. Kehadiran Harimau 2 menandai lompatan signifikan dalam upaya kemandirian alutsista TNI AD, sekaligus menunjukkan kapabilitas industri pertahanan nasional dalam mengembangkan kendaraan tempur dengan teknologi mutakhir.

Spesifikasi Teknis Harimau 2: Dari APC Menuju IFV Berat

Transisi dari Harimau 1 yang berperan sebagai angkut personel menjadi Harimau 2 yang berstatus kendaraan tempur lapis baja kelas IFV membawa konsekuensi besar pada aspek proteksi, daya tembak, dan mobilitas. Rancangan ini dioptimalkan untuk medan tropis dengan integrasi teknologi sistem tempur modern yang adaptif. Beberapa spesifikasi kunci yang menjadi perhatian utama dalam tahap fabrikasi prototipe meliputi:

  • Bobot tempur 28 ton dengan proteksi armor komposit modular yang memungkinkan penggantian modul lapis di lapangan sesuai tingkat ancaman.
  • Meriam otomatis kaliber 40 mm yang mampu melibatkan sasaran darat dan udara pada jarak taktis, dengan sistem kendali tembakan terintegrasi.
  • Mesin diesel berdaya 600 hp yang memberikan rasio power-to-weight ratio optimal dan kecepatan operasional 70 km/jam di jalan raya.
  • Inovasi utama berupa Battle Management System (BMS) buatan dalam negeri yang terintegrasi penuh dengan data-link taktis untuk pertukaran informasi antar unit secara real-time.
  • Arsitektur sistem kelistrikan dan data bus militer yang mendukung pengembangan selaras dengan tren network-centric warfare.

BMS Buatan Dalam Negeri dan Target Produksi untuk TNI AD

Aspek paling strategis dari proyek Harimau 2 adalah penggunaan Battle Management System (BMS) yang dikembangkan secara mandiri oleh para peneliti ITB dan direkayasa integrasinya oleh PT Pindad. Sistem ini dirancang untuk memperkuat interoperabilitas antar satuan TNI AD dalam operasi lintas matra, sekaligus mengurangi ketergantungan pada sistem impor yang selama ini menjadi kendala pemeliharaan. Dengan nilai investasi riset mencapai Rp 1,8 triliun, konsorsium riset ini menargetkan produksi sebanyak 200 unit untuk memperkuat kebutuhan alutsista tempur darat TNI AD dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Proyek ini juga menjadi pijakan nyata bagi transfer teknologi dan pembentukan ekosistem pemasok lokal.

Tahap fabrikasi prototipe menjadi momentum krusial yang tidak hanya menguji kemampuan manufaktur, tetapi juga menilai kesiapan sistem dalam menghadapi evaluasi teknis dan uji kelaikan militer. Kolaborasi antara PT Pindad, FNSS, dan ITB membuktikan bahwa sinergi industri pertahanan dalam negeri dengan mitra strategis asing mampu menghasilkan platform kendaraan tempur lapis baja berkelas dunia. Ke depan, kesuksesan program Harimau 2 akan membuka peluang ekspor dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci di kancah industri pertahanan global, khususnya dalam segmen kendaraan tempur menengah.

Dari perspektif outlook teknologi, pengembangan Harimau 2 seharusnya menjadi langkah awal untuk menciptakan roadmap platform tempur generasi berikutnya yang modular dan kompatibel dengan teknologi unmanned aerial vehicle (UAV) serta sistem kendali otonom. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri pertahanan nasional adalah mempercepat sertifikasi komponen lokal, meningkatkan kapasitas uji balistik di dalam negeri, dan membangun lini produksi yang fleksibel untuk varian turunan seperti kendaraan komando, kendaraan amunisi, dan kendaraan recovery. Dengan fondasi riset yang kuat, kemandirian industri pertahanan nasional bukan lagi sekadar wacana, melainkan keniscayaan yang tinggal menunggu waktu.

kendaraan tempur lapis baja|Harimau 2|riset|PT Pindad|FNSS
ENTITAS TERKAIT
Topik: Kendaraan tempur lapis baja Harimau 2, riset generasi baru
Organisasi: PT Pindad, FNSS Turki, Institut Teknologi Bandung (ITB), TNI AD
Lokasi: Turki
ARTIKEL TERKAIT