Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan posisinya sebagai katalis kemandirian alutsista nasional melalui pengembangan proyektil artileri cerdas kaliber 155 mm yang telah memasuki tahap uji balistik di Lapangan Tembak Cikeusik. Sistem ini mengintegrasikan panduan inersia (INS) dengan navigasi satelit multi-konstelasi GPS/GLONASS, menjadikannya amunisi presisi tinggi dengan potensi Circular Error Probable (CEP) di bawah 10 meter pada jarak tembak 40 kilometer. Dengan hulu ledak fragmentasi dan algoritma koreksi lintasan real-time, proyektil ini dirancang untuk memberikan efek penghancuran yang terukur pada target titik maupun area, sebuah lompatan signifikan dari amunisi konvensional yang bergantung pada dispersi statistik. Inisiatif ini tidak hanya menjawab kebutuhan mendesak TNI AD akan substitusi impor, tetapi juga memperkuat fondasi riset alutsista dalam negeri.
Spesifikasi Teknis dan Sistem Kendali Penerbangan
Proyektil artileri cerdas 155 mm ini mengusung arsitektur kendali yang kompleks untuk mencapai performa presisi tinggi. Beberapa parameter teknis utama dari sistem ini meliputi:
- Sistem Navigasi Hibrida: Menggabungkan INS dengan penerima GPS/GLONASS untuk menyediakan data posisi dan orientasi yang redundan, tahan terhadap interferensi elektronik.
- Koreksi Lintasan Real-Time: Algoritma onboard memproses data sensor secara kontinu dan menyesuaikan sudut serang melalui kanard kontrol yang dapat diprogram ulang, memungkinkan koreksi lateral maupun longitudinal.
- Hulu Ledak Fragmentasi: Dirancang untuk menghasilkan sebaran fragmentasi seragam, optimal untuk menghancurkan sasaran personel, kendaraan taktis, atau infrastruktur ringan.
- Jangkauan dan Presisi: CEP <10 meter pada jarak 40 km, setara dengan standar NATO untuk amunisi guided artillery seperti M982 Excalibur, meski dengan pendekatan teknologi yang lebih adaptif untuk lingkungan produksi lokal.
Keberadaan kanard kontrol yang dapat diprogram ulang memberikan fleksibilitas misi yang tinggi—memanfaatkan data misi yang dimasukkan sebelum penembakan—serta membuka jalan bagi integrasi sensor alternatif seperti seeker inframerah pada varian mendatang. Tahap uji balistik saat ini berfokus pada validasi aerodinamika, integritas struktural saat menerima beban setinggi 15.000 G, serta akurasi algoritma panduan dalam kondisi lintasan nyata.
Implikasi Strategis bagi Kemandirian Industri Pertahanan Nasional
Program pengembangan amunisi cerdas oleh BRIN ini merupakan bagian integral dari roadmap substitusi impor alutsista, khususnya untuk sistem artileri howitzer yang dioperasikan TNI AD. Dengan data pengadaan global menunjukkan bahwa pasar amunisi guided kaliber 155 mm bernilai lebih dari USD 3 miliar per tahun, penguasaan teknologi ini memberikan leverage bagi industri pertahanan nasional untuk menembus rantai pasok global di samping memenuhi kebutuhan domestik. Kepala Pusat Riset Teknologi Pertahanan BRIN menekankan bahwa proyek ini mengusung semangat kemandirian melalui riset alutsista, dengan target uji tahap akhir pada kuartal I 2027 dan produksi awal pada 2028.
Dari segi industri, kolaborasi antara BRIN, PT Pindad (sebagai calon integrator sistem), dan lembaga penelitian lokal lainnya menciptakan ekosistem produksi yang terintegrasi. Tantangan yang masih dihadapi meliputi sertifikasi NATO STANAG untuk interoperabilitas serta pengembangan rantai pasok komponen kritis seperti aktuator kanard dan unit INS/gimbal miniatur. Namun, dengan dukungan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang ketat pada pengadaan alutsista, proyek ini memiliki jendela peluang yang kuat untuk mencapai produksi massal tepat waktu.
Ke depannya, outlook teknologi untuk amunisi cerdas 155 mm BRIN dapat diperluas ke varian dengan kemampuan anti-armor (EFP), modus ledakan udara (airburst), serta pemanfaatan artificial intelligence untuk optimasi lintasan multi-target. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri pertahanan nasional adalah mulai membangun kapasitas produksi komponen mikroelektronika dan aktuator presisi sejak dini, sehingga ketika tahap produksi awal dimulai pada 2028, rantai pasok telah siap. Selain itu, keterlibatan akademisi dalam riset material kanard dan algoritma navigasi akan mempercepat iterasi desain dan menekan biaya pengembangan. Dengan langkah ini, BRIN|Amunisi Cerdas|Artileri|Riset Alutsista tidak hanya menjadi proyek jangka pendek, melainkan fondasi bagi ekosistem inovasi pertahanan yang berkelanjutan.