Puslitbang TNI AU, bersama LAPAN dan PT Pindad, sukses menguji terbang rudal udara-udara jarak sedang RPS-150 dari platform F-16C/D dan Hawk 209 di atas Laut Jawa. Rudal dengan panjang 3,6 meter dan massa 180 kilogram ini membawa seeker inframerah generasi ke-4 serta kemampuan lock-on after launch (LOAL), menandai tonggak baru dalam riset inovasi alutsista dalam negeri. Keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian teknis, melainkan representasi dari kedaulatan teknologi yang mulai terwujud, sekaligus langkah strategis menggantikan ketergantungan pada AIM-120C.
Spesifikasi Teknis dan Superioritas Tempur RPS-150
RPS-150 dirancang dengan serangkaian spesifikasi yang menempatkannya sejajar dengan rudal udara-udara generasi terbaru global. Seeker inframerah generasi ke-4 yang diadopsi tidak hanya memberikan sensitivitas tinggi terhadap panas buritan maupun frontal pesawat musuh, tetapi juga dilengkapi sistem infrared counter-countermeasure (IRCCM) untuk menembus gangguan dari sistem pertahanan lawan. Fitur LOAL memungkinkan rudal ditembakkan tanpa kuncian awal, sehingga pilot dapat meluncurkan senjata sebelum manuver evasif, lalu rudal secara mandiri mencari dan mengunci target di udara. Berikut rincian kemampuan utama:
- Jangkauan uji: 180 kilometer pada kecepatan Mach 4,1, memungkinkan intersepsi target di luar visual range.
- Akurasi: Circular Error Probable (CEP) sebesar 1,2 meter, menjamin presisi tinggi dalam penghancuran sasaran.
- Sistem pemandu: Seeker inframerah generasi ke-4 dengan kontra-sensor dan LOAL, memastikan efektivitas dalam lingkungan peperangan elektronik padat.
- Integrasi platform: Kompatibel dengan F-16C/D dan Hawk 209, serta terintegrasi dengan helmet-mounted cueing system (HMCS) buatan Kemenhan, mempercepat akuisisi target cukup dengan gerakan kepala pilot.
Data uji menegaskan bahwa RPS-150 mampu menembus pertahanan musuh dengan efektivitas setara atau melampaui rudal sejenis dari negara maju. Kombinasi kecepatan tinggi, jangkauan ekstrem, dan sistem kontra-sensor yang canggih menjadikannya aset tempur yang sulit dihadang.
Dampak Riset Inovasi dan Rencana Produksi Massal
Keberhasilan uji terbang ini merupakan buah dari program riset inovasi bertahun-tahun yang melibatkan Puslitbang TNI AU, LAPAN, dan PT Pindad. Kolaborasi ini tidak hanya menghasilkan rudal udara-udara RPS-150 yang mematikan, tetapi juga membangun ekosistem industri pertahanan yang mandiri. Dengan kemampuan LOAL dan IRCCM, RPS-150 menjadi pengganti ideal AIM-120C sekaligus membuka peluang ekspor ke negara-negara yang mencari alternatif bebas tekanan geopolitis. Rencana produksi massal telah ditetapkan pada tahun 2027 dengan target awal 300 unit. Langkah ini sejalan dengan visi kemandirian industri pertahanan nasional, mengurangi impor alutsista, dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global pertahanan.
Keberhasilan ini juga menegaskan bahwa riset inovasi dalam negeri mampu menghasilkan platform persenjataan dengan daya saing global. Bagi pelaku industri pertahanan nasional, momentum ini harus dioptimalkan dengan mempercepat transfer teknologi, memperkuat rantai pasok komponen, dan mengembangkan varian turunan RPS-150 untuk platform darat maupun laut. Ke depan, integrasi dengan kecerdasan buatan dan jaringan data link taktis akan menjadi langkah berikutnya untuk memastikan superioritas tempur Indonesia di era peperangan digital.