READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
RISET & INOVASI ALUTSISTA TRENDING

Pusat Teknologi Artileri TNI AD Uji Coba Amunisi Kendali Presisi (PGK) Buatan Lokal

Pusat Teknologi Artileri TNI AD Uji Coba Amunisi Kendali Presisi (PGK) Buatan Lokal

Pusat Kesenjataan Artileri Medan TNI AD berhasil menguji coba amunisi kendali presisi (PGK) lokal untuk kaliber 155mm, mengubah peluru konvensional menjadi munisi berpandu dengan CEP di bawah 10 meter menggunakan sistem GPS/INS dan canard control surface. Inovasi ini menawarkan efisiensi logistik dan biaya 40% lebih rendah dibandingkan impor, serta membuka jalan bagi modernisasi besar-besaran artileri TNI AD. Keberhasilan ini juga menandai kematangan ekosistem riset dan manufaktur pertahanan nasional dalam menghadirkan teknologi presisi yang mandiri dan berdaya saing.

Pussenarmed TNI AD baru saja menyelesaikan rangkaian uji coba sistem amunisi kendali presisi (Precision Guided Kit/PGK) untuk howitzer kaliber 155mm yang dikembangkan sepenuhnya oleh industri pertahanan dalam negeri. Integrasi kit panduan berbasis GPS/INS dengan canard control surface pada proyektil konvensional menghasilkan koreksi lintasan real-time pada fase terminal, menekan Circular Error Probable (CEP) hingga di bawah 10 meter — sebuah lompatan signifikan dari akurasi artileri standar. Keberhasilan ini menandai uji tembak perdana teknologi presisi yang dirancang untuk transformasi besar-besaran dalam doktrin tembakan tidak langsung TNI AD, sekaligus membuktikan kapabilitas ekosistem riset dan manufaktur pertahanan nasional dalam menghasilkan solusi alutsista otonom.

Spesifikasi Teknis dan Mekanisme Kendali PGK Lokal

Kit PGK yang diuji merupakan modul aerodinamis yang dipasang pada bagian proyektil, terdiri dari tiga subsistem utama: sensor navigasi inersia dan satelit, aktuator servo, serta sirip kendali (canard) yang dapat digerakkan secara independen. Saat proyektil meluncur setelah ditembakkan, sistem navigasi membandingkan koordinat target yang telah diprogram dengan posisi aktual proyektil, lalu mengirim perintah ke canard untuk melakukan koreksi lintasan pada fase terminal — ketika proyektil berada sekitar 30 detik sebelum menghantam target. Hasilnya, akurasi meningkat drastis dibandingkan artileri konvensional yang umumnya memiliki CEP antara 50-100 meter untuk jarak tembak maksimal 30 km.

  • Akurasi: CEP <10 meter (setara dengan munisi berpandu impor kelas M1156 PGK), memungkinkan penghancuran target titik dengan satu hingga dua tembakan.
  • Efisiensi amunisi: Pengurangan konsumsi amunisi hingga 60% untuk satu target, menekan biaya logistik dan risiko collateral damage.
  • Kompatibilitas: Dirancang untuk proyektil standar NATO 155mm, baik tipe HE (high explosive), WP (white phosphorus), maupun illuminasi.
  • Biaya produksi: Diperkirakan 40% lebih murah dibandingkan harga impor PGK setara, berkat penggunaan komponen lokal dan desain modular yang memudahkan integrasi dengan howitzer buatan dalam negeri seperti FH-88 dan CAESAR.

Dampak Strategis bagi Modernisasi Artileri dan Kemandirian Alutsista

Inovasi PGK lokal tidak hanya meningkatkan daya bunuh artileri, tetapi juga memberikan fleksibilitas operasional yang lebih besar. Dengan kemampuan mengubah stok peluru konvensional menjadi munisi presisi di pangkalan (in-service conversion), TNI AD dapat menghindari investasi besar untuk membeli munisi berpandu impor dalam jumlah massal. Langkah ini sejalan dengan program Minimum Essential Force (MEF) tahap III yang menargetkan modernisasi sistem persenjataan artileri hingga 70 persen pada 2024. Keberhasilan uji coba juga mendorong sektor riset untuk mengembangkan varian lanjutan, termasuk panduan laser semi-aktif (SAL) dan course-correcting fuze (CCF) untuk proyektil 105mm dan 122mm, serta integrasi dengan UAV intai untuk koreksi target langsung di medan perang.

Dari perspektif industri pertahanan nasional, produksi PGK lokal menciptakan rantai pasok baru yang melibatkan berbagai UKM, laboratorium material, dan fasilitas manufaktur presisi. Keterlibatan Pussenarmed dalam proses riset dan validasi operasional memastikan bahwa produk yang dihasilkan tidak hanya memenuhi standar militer, tetapi juga siap diproduksi massal dalam waktu dekat. Pemerintah diperkirakan akan memasukkan PGK sebagai program prioritas dalam Rencana Induk Pengembangan Alutsista (RIPAN) 2025-2029, dengan target minimal 2.500 unit kit diproduksi setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan stok strategis.

Outlook Teknologi: Keberhasilan uji coba PGK lokal menjadi preseden penting bagi pengembangan smart munisi otonom berikutnya, seperti proyektil antipersonel dengan submunisi panduan laser, atau amunisi anti-tank top-attack kaliber 155mm. Untuk mempercepat adopsi teknologi ini, pelaku industri pertahanan nasional disarankan untuk menjalin kerja sama dengan lembaga riset luar negeri dalam bidang algoritma kontrol terminal dan material komposit tahan panas, serta mendirikan fasilitas manufaktur terintegrasi di kawasan sentra industri pertahanan, seperti di Subang, Jawa Barat. Langkah ini akan memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen amunisi berpandu mandiri di Asia Tenggara dan mengurangi ketergantungan pada pasokan impor dari NATO.

riset|amunisi|kendali presisi|uji coba|teknologi artileri
ENTITAS TERKAIT
Topik: uji coba amunisi kendali presisi, artileri, industri pertahanan
Organisasi: TNI AD, Pussenarmed
ARTIKEL TERKAIT