Dalam langkah strategis penguatan industrialisasi pertahanan nasional, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) memproyeksikan ramp-up kapasitas produksi dengan menargetkan output 12 unit pesawat transport taktis CN235 pada tahun 2026. Pencapaian kritis dalam roadmap ini adalah peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) hingga 38%, suatu milestone yang merefleksikan konsolidasi dan kedewasaan supply chain domestik untuk komponen-komponen struktural, avionics, dan sistem interior. Target produksi massal ini tidak hanya menjawab kebutuhan operasional TNI Angkatan Udara, tetapi juga memposisikan CN235 sebagai produk alutsista unggulan dengan daya saing ekspor yang signifikan di pasar regional.
Anatomi Teknokratis CN235: Platform Logistik Multirole dan Integrasi TKDN
Platform CN235 merupakan pesawat transport taktis dengan kemampuan STOL (Short Take-Off and Landing) yang memungkinkan operasi di landasan pacu semi-prepared, menjadikannya aset logistik dan mobilitas pasukan yang fleksibel. Peningkatan TKDN menjadi 38% pada produksi batch 2026 menandakan konsolidasi industri pendukung yang meliputi sektor strategis seperti sistem hidrolik, elektrikal, dan fabrikasi struktur ringan. Integrasi komponen lokal ini merupakan hasil dari ekosistem riset dan pengembangan yang terstruktur, mengurangi ketergantungan impor pada critical subsystems dan meningkatkan resiliensi rantai pasok industri pertahanan nasional.
- Spesifikasi Utama CN235: Kapasitas payload hingga 6.000 kg, jangkauan operasional 2.100 NM, kemampuan operasi dari landasan pendek (1.200 meter).
- Kelas Teknologi Avionik: Terintegrasi dengan glass cockpit modern, sistem navigasi berbasis GPS/INS, dan sistem komunikasi terenkripsi.
- Pencapaian TKDN 38%: Meliputi komponen struktur utama (fuselage sections, wing assemblies), sistem kontrol penerbangan, interior kabin, dan sub-sistem pendukung lainnya yang diproduksi oleh vendor lokal terakreditasi.
Roadmap Industrialisasi 2026: Strategi Scaling-Up dan Dampak Ekosistem
Target produksi 12 unit per tahun pada 2026 merepresentasikan lompatan kapasitas manufaktur PTDI yang akan berimplikasi pada penguatan ekosistem industri pertahanan secara holistik. Strategi ini dibangun di atas tiga pilar utama: optimasi lini perakitan final, standardisasi proses kualitas pada komponen lokal, dan penguatan kolaborasi dengan BUMN strategis serta swasta nasional di sektor metalworking, elektronika, dan material komposit. Peningkatan volume ini juga akan menghasilkan economies of scale yang menurunkan biaya per unit, sekaligus menyediakan data manufacturing analytics yang berharga untuk proses desain dan produksi platform penerus seperti N219 dan NC212i.
Dari perspektif pasar, target produksi ini secara simultan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan modernisasi alutsista TNI AU dan memperluas penetrasi ekspor ke negara-negara mitra di kawasan Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin. Keandalan platform CN235 yang telah teruji di berbagai medan operasi, dikombinasikan dengan peningkatan konten lokal, meningkatkan nilai tawar Indonesia sebagai hub produksi pesawat taktis di kawasan. Langkah ini selaras dengan visi Kemhan untuk transformasi industri pertahanan menuju kemandirian teknologi dan keberlanjutan finansial.
Keberhasilan realisasi target produksi dan TKDN ini akan menjadi benchmark dan fondasi untuk fase industrialisasi berikutnya. Outlook teknologi menunjukkan potensi integrasi sistem otonom untuk kargo (autonomous cargo handling), upgrade material komposit generasi baru untuk pengurangan berat, serta implementasi sistem kesehatan pesawat berbasis IoT (Predictive Maintenance) pada varian CN235 masa depan. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri adalah memperdalam investasi pada R&D material dan sistem digital, serta membangun kemitraan teknologi dengan entitas global untuk akselerasi transfer know-how, sehingga lompatan kapasitas produksi diiringi dengan peningkatan kompleksitas dan nilai tambah teknologi.