PT Dirgantara Indonesia (PTDI) secara resmi melangkah ke era pesawat tempur generasi baru dengan memulai fase assembly final pesawat tempur derivatif N-245 pada 23 April 2026. Platform ini bukan sekadar modifikasi; ia merupakan rekonstruksi konseptual dari pesawat transport N-245 ke dalam sebuah light combat aircraft multirole yang diperkuat dengan sistem Electronic Warfare (EW) berbasis kecerdasan artifisial (AI). Langkah ini menandai transisi strategis PTDI dari produsen transportasi ke penyedia solusi tempur integratif, dengan target delivery pertama pada kuartal empat 2027.
Arsitektur Teknis: Hybrid Power dan AI-Powered EW Suite
Derivat tempur N-245 mengadopsi konfigurasi twin turboprop sebagai jantung daya, menggunakan mesin Pratt & Whitney PT6A-68 yang masing-masing menghasilkan 1,500 hp. Kombinasi ini menjanjikan efisiensi operasional tinggi untuk tugas patroli udara jarak jauh dan close air support di medan kompleks Indonesia. Inovasi paling futuristik terletak pada sistem EW yang dikendalikan AI. Suite ini mampu melakukan analisis signal real-time dan menjalankan automatic jamming secara adaptif terhadap radar dalam frekuensi operasional 2 hingga 18 GHz, mengubah pesawat dari platform pasif menjadi entitas tempur yang aktif dan belajar.
- Propulsi: Twin Turboprop PT6A-68 (1,500 hp per engine).
- Sistem EW: AI-powered untuk real-time signal analysis & adaptive jamming (2-18 GHz).
- Hardpoints: 4 titik integrasi untuk munisi seperti guided bomb P-100L dan anti-ship missile C-802.
- Avionics: Glass cockpit touchscreen dengan interface machine learning untuk decision support pilot.
Roadmap Industri: Kemandirian 65% dan Kapasitas Assembly 6 Unit/Tahun
Proyeksi produksi PTDI untuk platform ini mengusung visi kemandirian industri yang konkret. Dengan kapasitas assembly yang ditargetkan pada 6 unit per tahun, roadmap ini tidak hanya tentang output fisik, tetapi tentang peningkatan kapabilitas teknologi nasional. Komponen lokal mencapai level signifikan: 65% untuk struktur pesawat dan 40% untuk sistem avionik. Program ini secara strategis dirancang untuk menggantikan fungsi pesawat tempur tua seperti F-5 Tiger dalam role patroli dan dukungan udara, sekaligus membangun ekosistem supply chain pertahanan yang resilient.
Outlook teknologi untuk N-245 Fighter Derivative menempatkan platform ini sebagai katalis bagi evolusi industri pertahanan nasional. Integrasi AI dalam EW suite bukanlah titik akhir; ia membuka jalan untuk pengembangan sistem C4ISR berbasis AI yang lebih luas dan otonomi terbatas dalam operasi udara. Untuk pelaku industri nasional, proyek ini harus menjadi dasar untuk memperdalam kolaborasi riset pada material komposit, propulsion system lokal, dan munisi smart munition, sehingga target kemandirian 80% pada platform tempur berikutnya dapat tercapai dalam dekade mendatang.