PT Dirgantara Indonesia (PTDI) resmi mengamankan posisi strategis dalam rantai pasok global jet tempur generasi 4.5 melalui alokasi produksi 15% struktur utama (airframe) pesawat KF-21 Boramae. Berdasarkan Industrial Collaboration Agreement dengan Korea Aerospace Industries (KAI), kontrak pengadaan awal mencakup 16 unit untuk TNI AU dengan nilai proyeksi mencapai USD 2,9 miliar. Tiga unit pertama ditargetkan dikirimkan pada Q4 2028 hingga Q1 2029, menyusul rampungnya Fase Engineering and Manufacturing Development (EMD) pada Mei 2026. Kesepakatan ini menandai lompatan besar dalam pengadaan alutsista yang tidak hanya memperkuat armada tempur tetapi juga membangun fondasi industri dirgantara nasional.
Revitalisasi Fasilitas Produksi dan Penguasaan Teknologi AFP
Nilai tambah strategis dari kerja sama ini melampaui sekadar pembelian platform. PTDI akan menerima injeksi investasi sekitar USD 100 juta untuk revitalisasi fasilitas produksi di Bandung, dengan fokus pada penguasaan teknologi Automated Fiber Placement (AFP). Teknologi fabrikasi robotik ini memungkinkan penempatan presisi pita serat karbon (carbon fiber tows/prepreg) — suatu kemampuan kritis dalam produksi struktur komposit canggih untuk pesawat tempur modern. Spesifikasi teknis utama dari paket investasi ini meliputi:
- Implementasi lengan robot AFP dengan akurasi penempatan ±0,1 mm untuk komponen airframe KF-21.
- Kapasitas produksi hingga 200 kg prepreg per jam, memungkinkan fabrikasi bagian sayap dan badan pesawat secara efisien.
- Integrasi sistem pemantauan real-time berbasis IoT untuk mengontrol kualitas laminasi komposit.
Penguasaan AFP akan secara signifikan meningkatkan kapabilitas PTDI dalam rantai pasok global, sekaligus mempercepat substitusi impor komponen strategis di masa depan.
Transfer Teknologi dan Model Kemandirian Industri Pertahanan
Proyeksi kemandirian industri diukur melalui transfer teknologi intensif yang mencakup pelatihan kualifikasi bagi puluhan insinyur dan teknisi PTDI oleh KAI. Program ini mencakup pendalaman teknik desain airframe berbasis digital twin, penguasaan proses curing autoclave untuk komposit suhu tinggi, serta sertifikasi perawatan tingkat organisasi. Skema Industrial Collaboration ini menyelaraskan kebutuhan operasional TNI AU dengan tujuan strategis jangka panjang, di mana setiap unit KF-21 yang diakuisisi berkorelasi langsung dengan peningkatan kapasitas manufaktur, desain, dan pemeliharaan dalam negeri. Data dari KAI menunjukkan bahwa kontribusi lokal pada airframe KF-21 secara bertahap akan meningkat hingga 30% pada batch produksi berikutnya.
Outlook teknologi ke depan: Keberhasilan model pengadaan alutsista berbasis koliaborasi industri ini menjadi preseden bagi proyek-proyek strategis lain, seperti pengembangan pesawat nirawak atau sistem pertahanan udara. Rekomendasi bagi pelaku industri nasional adalah mempercepat alih teknologi pada bidang advanced composites dan sistem avionik, serta mempersiapkan sumber daya manusia yang tersertifikasi untuk mengejar technology readiness level (TRL) 8-9. Dengan fondasi ini, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna tetapi juga pemain kunci dalam ekosistem manufaktur dirgantara global.