PT Pindad berhasil menyelesaikan uji tembak rudal anti-armor jarak menengah generasi baru 'Kanjuruhan' di lapangan tembak Puslatpur Cikeusik. Rudal ini mengintegrasikan sistem panduan ganda berupa infrared imaging dan laser beam riding, memungkinkan akuisisi target presisi tinggi dalam berbagai kondisi medan. Dengan kemampuan menembus armor setebal 1.000 mm Rolled Homogeneous Armour (RHA) pada jarak hingga 5 km, serta proyektil tandem warhead yang dirancang untuk menetralisir Explosive Reactive Armor (ERA), Kanjuruhan menandai lompatan signifikan dalam kemampuan anti-armor nasional. Proses uji melibatkan 12 kali tembakan terhadap target tank T-72 hasil modifikasi, mencatatkan akurasi 95% pada jarak 3 km dan 88% pada jarak 5 km — angka yang setara dengan rudal kelas berat buatan Rusia dan NATO.
Spesifikasi Teknis dan Performa Uji Tembak
Rudal Kanjuruhan mengusung sistem propulsi motor roket dual-thrust yang menghasilkan kecepatan jelajah Mach 1,2, memadukan akselerasi awal tinggi dengan dorongan sustain untuk mencapai jangkauan efektif 5 km. Berikut rincian spesifikasi utama yang terkonfirmasi dalam uji tembak:
- Sistem panduan: Infrared imaging (IIR) untuk akuisisi thermal dan laser beam riding untuk koreksi jalur akhir, memberikan ketahanan terhadap countermeasure elektronik.
- Kemampuan penetrasi: 1.000 mm RHA di belakang ERA berkat konfigurasi tandem warhead ganda.
- Akurasi: 95% (jarak 3 km) dan 88% (jarak 5 km) — diukur dari Circular Error Probable (CEP) di bawah 0,5 m.
- Kecepatan: Mach 1,2 (sekitar 408 m/s) pada fase jelajah, memperpendek waktu terbang dan mengurangi kerentanan terhadap hard-kill countermeasure.
- Propulsi: Motor roket dual-thrust dengan propelan padat, memungkinkan pembakaran dua fase tanpa throttle mekanis.
Uji ini juga memvalidasi integrasi sistem navigasi inersia (INS) buatan PT LEN yang mendukung kemampuan fire-and-forget penuh — operator cukup mengunci target, menembak, dan beralih ke sasaran lain tanpa perlu designation kontinu.
Strategi Kemandirian Industri dan Proyeksi Produksi
Direktur Teknologi PT Pindad mengonfirmasi bahwa tingkat komponen lokal (TKDN) rudal Kanjuruhan mencapai 72%, termasuk INS dari PT LEN dan sistem aktuator dari konsorsium BPPT. Capaian ini menjadi fondasi untuk rencana produksi massal yang dijadwalkan mulai awal 2027, menggantikan rudal AT-5 buatan Rusia yang mulai menua di gudang amunisi TNI AD. Anggaran pengadaan tiga batalyon — setara sekitar 1.200 rudal — diproyeksikan sebesar Rp4,5 triliun, menghemat devisa hingga 40% dibandingkan impor sistem sejenis. PT Pindad juga menjajaki kerja sama dengan BPPT untuk pengembangan varian air launch (udara-ke-darat) yang akan dipasang pada helikopter serang atau drone tempur taktis — membuka spektrum operasi baru bagi anti-armor jarak menengah.
Dengan keberhasilan uji tembak ini, Kanjuruhan menjadi tonggak penting dalam peta jalan kemandirian alutsista nasional. Ke depan, diperlukan penguatan rantai pasok lokal untuk komponen kritis seperti seeker head dan motor roket, serta percepatan sertifikasi interoperabilitas dengan platform tempur TNI. Rekomendasi strategis bagi industri pertahanan adalah mengalokasikan investasi R&D berkelanjutan untuk varian air launch dan sistem lock-on after launch berbasis network-centric warfare, agar kapabilitas rudal anti-armor Indonesia tidak hanya mandiri tetapi juga unggul di kancah regional.