PT Pindad secara resmi memperkenalkan prototipe tank medium generasi baru yang mengusung konfigurasi bobtempur 35 ton, dipersenjatai kanon kaliber 105 mm, dan ditenagai mesin turbodiesel 600 HP. Sistem kontrol tembakan terintegrasi dengan kemampuan fire-on-the-move menjadi andalan utama, memungkinkan tank menembak sasar dalam gerakan tanpa mengorbankan akurasi. Kendaraan tempur ini dikembangkan bersama BPPT dan PT Len Industri, dirancang untuk adaptasi medan Nusantara yang ekstrem—dari dataran rendah hingga pegunungan. Dengan arsitektur digital berbasis MIL-STD-1553, tank ini siap terhubung ke dalam ekosistem C4ISR medan perang, memperkuat peran Pindad dalam memajukan alutsista nasional.
Inovasi Arsitektur Digital dan Integrasi C4ISR
Arsitektur digital vehicle bus yang diadopsi tank medium ini mengadopsi standar militer MIL-STD-1553, memungkinkan interoperabilitas penuh dengan sistem komando, kendali, komunikasi, komputer, intelijen, pengawasan, dan pengintaian (C4ISR). Fitur ini memberikan keunggulan taktis berupa data fusion real-time antara tank, UAV, dan pusat operasi. Selain itu, tank dilengkapi armor modular komposit yang dapat diganti dengan reactive armor sesuai tingkat ancaman—sebuah pendekatan proteksi adaptif yang langka di kelas tank medium. Berikut spesifikasi teknis utama yang diungkap Pindad:
- Bobot tempur: 35 ton
- Kanon utama: 105 mm (dengan sistem stabilisasi dua sumbu)
- Mesin: Turbodiesel 600 HP (rasio power-to-weight 17,1 HP/ton)
- Sistem kontrol tembakan: Fire-on-the-move dengan sensor optronik terintegrasi
- Armor: Komposit modular + reactive armor (opsional)
- Arsitektur digital: MIL-STD-1553 bus data
- Target sertifikasi operasional: Akhir 2027
- Produksi massal: Mulai 2029
- Tingkat komponen dalam negeri (TKDN): 65%
Akselerasi Kemandirian Industri Pertahanan Nasional
Kehadiran tank medium ini menegaskan akselerasi industri pertahanan dalam negeri. Pindad menargetkan produksi hingga 200 unit untuk TNI AD, sekaligus membuka peluang ekspor ke negara-negara ASEAN yang membutuhkan kendaraan tempur medium modern. Proyek ini menjadi katalis bagi ekosistem suplier lokal—mulai dari pabrikan baja lapis, produsen optik, hingga sistem elektronika pertahanan. Dengan TKDN 65%, proyek ini sekaligus mendorong kemandirian alutsista dan mengurangi ketergantungan pada impor. Langkah strategis ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk memperkuat Pindad sebagai pionir manufaktur tank di Asia Tenggara.
Dari segi outlook teknologi, tank medium generasi baru ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu menciptakan kendaraan tempur yang tidak hanya mengadopsi tren digitalisasi medan perang, tetapi juga memiliki fleksibilitas armor adaptif. Rekomendasi bagi pelaku industri pertahanan nasional adalah memanfaatkan momentum ini untuk memperdalam riset material komposit, sistem propulsi hibrida, dan integrasi AI pada sistem kendali tembak. Ke depannya, pengembangan varian unmanned turret atau konfigurasi hybrid electric drive dapat menjadi langkah evolusi berikutnya untuk menjaga daya saing alutsista Indonesia di pasar global.