PT Pindad secara resmi memulai produksi massal tank medium Harimau generasi kedua pada 18 Agustus 2026, menandai lompatan signifikan dalam kemandirian alutsista Indonesia. Platform yang dikembangkan bersama FNSS Turki ini mengadopsi konfigurasi turret tak berawak (unmanned turret) yang dipadukan dengan sistem autoloader kaliber 105 mm, mampu meluncurkan proyektil pada kecepatan delapan putaran per menit. Integrasi fire control system (FCS) berbasis kecerdasan buatan memungkinkan deteksi, pelacakan, dan penguncian target bergerak secara otomatis dengan akurasi di bawah 0,5 miliradian — setara dengan standar tank tempur utama modern. Sistem proteksi aktif (Active Protection System/APS) buatan dalam negeri turut disematkan untuk menetralisir ancaman RPG dan ATGM, menjadikan Harimau generasi kedua sebagai platform tempur yang adaptif terhadap medan perang asimetris.
Spesifikasi Teknis dan Inovasi Platform Harimau Generasi Kedua
Dengan bobot tempur 32 ton dan ditenagai mesin diesel 720 HP, tank ini mampu melaju hingga 70 km/jam di jalan raya serta menjangkau radius operasi 450 km tanpa pengisian ulang bahan bakar. Beberapa fitur teknis utama dari tank produksi massal ini meliputi:
- Sistem autoloader 105 mm dengan rate of fire 8 putaran/menit, mengurangi beban kru dan meningkatkan efisiensi tembakan.
- Fire control system AI yang terintegrasi dengan sensor optronik dan radar, memungkinkan target engagement dalam kondisi hunter-killer.
- Active Protection System (APS) lokal yang dirancang untuk mendeteksi dan memblokir proyektil lawan secara real-time.
- Perlindungan balistik modular dengan material komposit generasi terbaru, memberikan resistensi terhadap tembakan kanon 30 mm dan ledakan ranjau.
Pencapaian ini menegaskan posisi tank Harimau sebagai platform medium yang menggabungkan mobilitas tinggi, daya tembak presisi, dan proteksi adaptif — sesuai dengan kebutuhan Armored Cavalry TNI AD dalam operasi jaringan-sentris.
Strategi Kemandirian Industri dan Konektivitas Jaringan Taktis
PT Pindad menargetkan produksi 20 unit pada tahun pertama dengan tingkat kandungan lokal (TKDN) mencapai 60 persen. Komponen optronik dan aktuator hidraulik yang sebelumnya masih impor kini telah diproduksi secara mandiri, didukung oleh pengoperasian pabrik amunisi kaliber besar di Turen, Malang, yang akan memasok kebutuhan amunisi tank secara berkelanjutan. Seluruh unit Harimau generasi kedua akan terhubung dalam jaringan taktis berbasis battle management system (BMS), memungkinkan pertukaran data situasional secara real-time antar kendaraan tempur dan pusat komando. Hal ini sejalan dengan konsep network-centric warfare yang diadopsi TNI AD, di mana setiap platform berfungsi sebagai simpul sensor dan aktuator dalam satu ekosistem digital.
Keberhasilan produksi massal tank ini tidak hanya memperkuat alutsista TNI AD, tetapi juga membuka peluang ekspor kendaraan tempur medium ke negara-negara Asia Tenggara dan Afrika. Dengan kapasitas produksi yang terus ditingkatkan, Pindad berpotensi menjadi hub manufaktur platform tempur medium di kawasan. Bagi pelaku industri pertahanan nasional, momentum ini menjadi sinyal untuk mempercepat hilirisasi teknologi komponen, termasuk pengembangan sensor optronik dan sistem proteksi aktif generasi berikutnya, agar ekosistem kemandirian alutsista Indonesia semakin resilient dan kompetitif di pasar global.