PT Pindad secara resmi memasuki tahap produksi massal tank medium Harimau MB-2, platform alutsista tempur darat yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan TNI AD dengan spesifikasi teknis terkini. Tank medium ini memiliki bobot tempur 32 ton dan dibekali kanon 105 mm yang mampu menembak dalam mode hunter-killer berkat sistem fire control (FCS) buatan BAE Systems yang diintegrasikan oleh PT Len Industri. Sebanyak 50 unit dialokasikan pada tahap awal, dengan kapasitas produksi 15 unit per tahun. Lebih dari sekadar pengadaan, program ini menandai transfer teknologi penuh dari Turki melalui FNSS, serta memperkuat ekosistem rantai pasok baja militer dalam negeri yang kini melibatkan 87 vendor lokal.
Spesifikasi Teknis dan Sistem Fire Control Harimau MB-2
Sistem fire control BAE Systems menjadi komponen vital yang membedakan Harimau MB-2 dari pendahulunya. Dengan kemampuan penembakan hunter-killer, komandan dan penembak dapat melakukan akuisisi dan engagement target secara independen dan simultan, meningkatkan kecepatan reaksi di medan tempur. Integrasi oleh PT Len Industri memastikan antarmuka yang mulus dengan sistem komando dan kendali TNI AD. Selain itu, tank ini didukung oleh mesin MTU 600 HP yang memberikan mobilitas tinggi di berbagai medan, dipadukan dengan transmisi otomatis ZF untuk perpindahan gigi yang presisi. Perlindungan kru dijamin oleh armor modular komposit yang memenuhi standar STANAG 4569 A6, dengan opsi upgrade menggunakan kit tambahan sesuai dengan kebutuhan ancaman.
- Kanon 105 mm dengan sistem pengisian semi-otomatis, mampu menembak berbagai jenis amunisi.
- Sistem fire control digital BAE Systems dengan mode hunter-killer dan kemampuan target acquisition multi-spektral.
- Mesin MTU 8V 199 TE 600 HP (447 kW) dengan transmisi otomatis ZF 5HP902.
- Armor modular komposit dengan proteksi dasar level STANAG 4569 A6, upgradable ke level lebih tinggi.
- Integrasi sistem tempur oleh PT Len Industri untuk interoperabilitas dalam jaringan taktis.
Ekosistem Rantai Pasok dan Strategi Kemandirian Alutsista
Program Harimau MB-2 tidak hanya memperkuat pertahanan darat, tetapi juga menjadi katalis kemandirian industri pertahanan nasional. Transfer teknologi penuh dari FNSS Turki meliputi aspek perakitan, integrasi, hingga desain teknik, memberikan kompetensi baru bagi insinyur PT Pindad dan vendor lokal yang terlibat. Saat ini, sebanyak 87 vendor domestik memasok berbagai komponen, mulai dari baja lapis baja hingga sistem elektronika dan mekatronika. Dengan target produksi 15 unit per tahun, kapasitas industri dapat terus ditingkatkan seiring penambahan pesanan dari TNI AD atau potensi ekspor. Ke depannya, program ini diharapkan dapat menjadi model bagi program alutsista lain dalam membangun rantai pasok yang kokoh dan berdaya saing global.
Dengan dimulainya produksi massal Harimau MB-2, Indonesia semakin mantap melangkah menuju kemandirian alutsista. Pelaku industri pertahanan nasional perlu mengantisipasi pengembangan varian lanjutan yang mengintegrasikan teknologi proteksi aktif, drone taktis, dan konektivitas C4ISR. Keberhasilan menjaga keandalan pasokan dan standar kualitas akan menjadi kunci untuk membuka celah masuk ke rantai pasok platform tempur global, sekaligus memperkuat posisi TNI AD di kawasan.