PT PAL Indonesia mencatat momen teknostrategis dengan menyelesaikan uji coba integrasi pertama Autonomous Underwater Vehicle (AUV) ‘Wikan’ ke dalam sistem komando kapal selam Scorpène Evolved di fasilitas simulator integrasi senjata Surabaya. Uji coba ini memvalidasi protokol komunikasi akustik terenkripsi untuk kendali AUV hingga jarak 20 km dan simulasi proses launch-and-recovery dari tabung torpedo 533mm, menandai lompatan kapabilitas dalam konsep networked undersea warfare. AUV Wikan, hasil pengembangan bersama BPPT, membawa spesifikasi futuristik: operasi hingga kedalaman 500 meter, daya tahan 72 jam, serta dilengkapi Side Scan Sonar (SSS) dan magnetometer untuk misi Mine Countermeasure (MCM) dan Intelligence, Surveillance, Reconnaissance (ISR).
Arsitektur Teknis: Integrasi SUBTICS dan Transformasi Scorpene Sebagai Mothership
Inti dari uji coba integrasi ini terletak pada modifikasi antarmuka pada SUBTICS combat management system milik kapal selam Scorpene. Modifikasi ini memungkinkan sistem menerima dan memproses data sonar dari AUV Wikan secara real-time melalui kabel fiber optic tether. Hasilnya, kapal selam berubah peran menjadi mothership yang mampu melakukan penginderaan jarak jauh dan penunjukan sasaran (target designation) tanpa perlu mengekspos diri di area berisiko tinggi. Kapabilitas ini secara signifikan meningkatkan survivability armada kapal selam, terutama dalam misi penyapuan ranjau atau pengintaian di perairan dangkal dan terbatas.
Jalur Strategis Menuju Kemandirian Sistem Bawah Laut Otonom
Pengembangan ini bukan sekadar demonstrasi teknologi, melainkan langkah krusial dalam peta jalan kemandirian industri pertahanan nasional. PT PAL menargetkan penguasaan penuh atas seluruh siklus integrasi, pengujian, dan sertifikasi untuk sistem tak berawak kompleks. Target ini mencakup:
- Penguasaan protokol komunikasi akustik dan data link yang aman.
- Kemampuan modifikasi dan kustomisasi Combat Management System (CMS) platform kapal selam asing.
- Pengembangan prosedur operasi standar (SOP) untuk peluncuran, pemulihan, dan misi gabungan.
Keberhasilan integrasi AUV Wikan dengan sistem Scorpene membuka paradigma operasi baru yang lebih tersebar (distributed) dan tangguh. Dalam konteks futuristik, armada kapal selam dapat berfungsi sebagai pusat komando bagi sejumlah AUV yang melakukan survei area luas, membentuk undersea sensor network. Bagi pelaku industri pertahanan nasional, momentum ini harus dimanfaatkan untuk mengakselerasi riset pada teknologi kunci seperti artificial intelligence untuk navigasi otonom, sensor sonar generasi berikutnya dengan resolusi lebih tinggi, dan pengembangan energy harvesting untuk memperpanjang daya tahan misi. Kolaborasi tripartit antara industri (PT PAL), lembaga riset (BPPT), dan pengguna akhir (TNI AL) perlu ditingkatkan untuk menyinkronkan kebutuhan operasional dengan roadmap pengembangan teknologi, memastikan setiap inovasi memiliki operational pull yang kuat dan langsung memperkuat deterrence posture Indonesia di laut.