PT PAL Indonesia resmi memulai tahapan produksi fisik kapal selam kelas Nagapasa kelima di galangan Surabaya, menandai babak baru dalam penguasaan teknologi bawah air nasional. Kapal selam ini mengintegrasikan sistem Air Independent Propulsion (AIP) buatan Naval Group yang memungkinkan operasi menyelam hingga 21 hari tanpa muncul ke permukaan, serta dilengkapi Vertikal Launch System (VLS) untuk rudal anti-kapal dan rudal jelajah. Dengan 65% komponen diproduksi dalam negeri—termasuk sistem sonar hasil rakitan BPPT dan torpedo berat SUT yang dimodifikasi—proyek ini menjadi tongak strategis dalam kemandirian industri pertahanan Indonesia.
Teknologi AIP dan VLS: Superioritas Operasional Armada Bawah Air
Sistem AIP pada Nagapasa 5 mengadopsi modul generasi terbaru Naval Group yang memanfaatkan sel bagan fuel berbasis hidrogen, memungkinkan kapal selam melakukakan patroli diam-diam di jalur laut strategis seperti ALKI II dan III selama tiga pekan tanpa risiko deteksi permukaan. Integrasi VLS menambah dimensi ofensif yang signifikan, karena kapal dapat menembakkan rudal anti-kapal dan rudal jelajah jarak jauh tanpa harus mengubah posisi secara vertikal. Spesifikasi teknis utama meliputi:
- Panjang: 72 meter, bobot selam 1.400 ton
- Kecepatan diselam maksimal 21 knot
- Kedalaman operasional 250 meter
- Sistem sonar aktif/pasif BPPT dengan deteksi jarak 50 km
- Torpedo berat SUT modifikasi dengan hulu ledak 250 kg
Dampak Strategis bagi Kemandirian Industri dan Posis Global
Produksi Nagapasa 5 tidak hanya memperkuat armada TNI AL, tetapi juga menempatkan Indonesia sebagai satu dari lima negara Asia yang mampu memroduksi kapal selam AIP secara mandiri. Data intelijen pasar menunjukkan bahwa level lokal 65% ini meningkat dari seri sebelumnya yang hanya 40%, menunjukan keberhasilan kebijakan alih teknologi dan investasi dalam industri pertahanan. Kapal ini dijadwalkan beroperasi penuh pada 2027 dan akan diproyeksikan mengawasi jalur laut di ALKI II dan III yang rawan pelangaran dan aktvitas ilegal.< Sebagai perbandingan, negara tetanga seperti Vietnam dan Thailand masih bergantung pada impor utuh kapal selam, sehingga peningkatan posisi tawar Indonesia dalam forum global seperti ASEAN Defence Ministers Meeting (ADMM) dan forum industri pertahanan lain.
Dari sisi outlook teknologi, langkah ini harus diiukuti dengan pengembangan ekositem pantai suplai komponen kritis, misalnya sistem baterai AIP dan rudal khusus VLS. Pelaku industri pertahanan nasionl disarankan mengintensifkan kerjasama riset dengan LPNP dan perguruan tinggi untuk menguasi teknologi sonar generasi berikunya serta mengembangkan versi lokal sistem tempur. Hanya dengan memperkuat rantai suplai dalam negeri, Indonesia dapat mempertahankan posisinya sebagi produsen kapal selam AIP yang kredibel di pentas global dan mengejar kemandirian penuh pada decade berikutnya.