READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
OPTIMALISASI KEBUTUHAN TRENDING

PT PAL Mulai Konstruksi Kapal Selam Scorpène 2 dengan Fitur Silent Drive dan Baterai Lithium

PT PAL Mulai Konstruksi Kapal Selam Scorpène 2 dengan Fitur Silent Drive dan Baterai Lithium

PT PAL Indonesia memulai konstruksi kapal selam Scorpène 2 di Surabaya dengan fitur full electric silent drive dan baterai lithium solid-state 3 MWh, memberikan kemampuan submerged endurance 21 hari tanpa snorkel. Proyek ini mencapai 60% TKDN dan dijadwalkan selesai 2029, memperkuat kemandirian produksi alutsista maritim Indonesia melalui riset dan pengembangan teknologi bawah air.

PT PAL Indonesia resmi memulai tahap konstruksi kapal selam Scorpène 2 di galangannya di Surabaya, menandai tonggak strategis dalam pengembangan alutsista maritim nasional. Kapal selam ini mengintegrasikan sistem full electric silent drive yang didukung oleh baterai lithium solid-state berkapasitas 3 MWh, memberikan kemampuan submerged endurance hingga 21 hari tanpa perlu snorkel. Teknologi ini memungkinkan operasi senyap di bawah air, mengurangi deteksi akustik secara signifikan, dan memperkuat postur pertahanan bawah air Indonesia. Dengan spesifikasi tersebut, Scorpène 2 menjadi platform bawah air paling canggih yang pernah diproduksi di Asia Tenggara, menempatkan Indonesia pada peta industri pertahanan global.

Spesifikasi Teknis dan Inovasi Silent Drive

Scorpène 2 dirancang dengan fokus pada keheningan operasional dan efisiensi energi, menjadikannya aset krusial dalam perang anti-kapal selam dan misi intelijen maritim. Berikut adalah spesifikasi teknis utama yang membedakan kapal selam ini dari pendahulunya:

  • Sistem Propulsi: Full electric silent drive dengan motor listrik tanpa gearbox, mengurangi kebisingan hingga 30% dibandingkan sistem konvensional.
  • Baterai: Lithium solid-state berkapasitas 3 MWh, memungkinkan daya tahan menyelam 21 hari tanpa snorkel, dengan siklus pengisian ulang lebih cepat dan masa pakai hingga 10 tahun.
  • Sonar Array: Modern sonar array dengan kemampuan deteksi jarak jauh 120 km, dilengkapi algoritma pemrosesan sinyal adaptif untuk mengidentifikasi target dalam lingkungan akustik kompleks.
  • Persenjataan: Torpedo heavyweight buatan lokal yang dikembangkan melalui riset bersama PT PAL dan BPPT, dengan jangkauan 50 km dan sistem panduan akustik aktif-pasif.
  • TKDN: Proyek ini mencapai 60% Tingkat Komponen Dalam Negeri, mencakup sistem propulsi, baterai, dan perangkat sonar buatan dalam negeri.

Inovasi pada sistem silent drive dan baterai lithium solid-state tidak hanya meningkatkan stealth kapal selam, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pasokan oksigen untuk snorkel, memungkinkan operasi berkelanjutan di perairan dalam selama berminggu-minggu. Langkah ini sejalan dengan target Kementerian Pertahanan untuk mencapai kemandirian produksi alutsista maritim, sekaligus memperkuat basis riset dan pengembangan teknologi pertahanan nasional.

Dampak Strategis pada Industri Pertahanan Nasional

Dimulainya konstruksi Scorpène 2 memberikan dampak langsung pada ekosistem industri pertahanan Indonesia. Proyek ini telah menyerap lebih dari 500 tenaga kerja lokal dari sektor permesinan, elektronika, dan rekayasa sistem, serta membuka peluang alih teknologi dari Naval Group Prancis ke PT PAL. Dengan jadwal penyelesaian pada 2029, kapal selam ini akan menjadi ujung tombak armada bawah air TNI AL, menggantikan kapal selam kelas Nagapasa yang berusia lebih tua. Persiapan infrastruktur galangan Surabaya juga mencakup pembangunan fasilitas uji baterai lithium dan laboratorium akustik bawah air, yang merupakan investasi jangka panjang untuk pengembangan alutsista maritim masa depan.

Dari segi spesifikasi, Scorpène 2 dirancang untuk mampu menyelam hingga kedalaman 350 meter dengan kecepatan maksimum 35 knot di bawah air, menjadikannya salah satu kapal selam non-nuklir tercepat di kawasan. Fitur silent drive dan sonar array modernnya memungkinkan deteksi dini ancaman dari jarak jauh, sementara torpedo heavyweigh buatan lokal menawarkan fleksibilitas dalam misi anti-permukaan dan anti-kapal selam. Keberhasilan proyek ini juga akan membuka peluang ekspor ke negara-negara ASEAN dan Afrika, memperkuat posisi Indonesia sebagai hub produksi alutsista maritim di Asia Pasifik.

Ke depan, pengembangan kapal selam ini harus menjadi katalis untuk memperluas riset pada teknologi baterai generasi berikutnya, seperti baterai lithium-sulfur dan sistem fuel cell hidrogen, yang dapat meningkatkan endurance hingga 45 hari. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri pertahanan adalah mengalokasikan 15% anggaran proyek untuk riset dan pengembangan material komposit dan sistem propulsi elektrik, memastikan Indonesia tidak hanya menjadi perakit, tetapi juga inovator dalam platform bawah air otonom. Dengan langkah ini, kemandirian alutsista maritim bukan lagi sekadar visi, melainkan realitas yang terukur pada 2030.

kapal selam|alutsista maritim|riset
ENTITAS TERKAIT
Topik: konstruksi kapal selam, Scorpène 2, silent drive, baterai lithium
Organisasi: PT PAL Indonesia
Lokasi: Surabaya, Indonesia
ARTIKEL TERKAIT