PT PAL Indonesia (Persero) secara resmi memulai tahap konstruksi fisik kapal selam baru untuk TNI AL, yang merupakan turunan dari desain kelas Scorpene, di galangan kapal Surabaya. Kapal selam ini menandai lompatan signifikan dalam kemampuan industri pertahanan nasional, khususnya di segmen platform bawah air. Dengan panjang 72 meter dan bobot selam mencapai 1.800 ton, kapal ini mengadopsi sistem propulsi independen udara (Air Independent Propulsion/AIP) berbasis fuel cell, memungkinkan patroli bawah air hingga 30 hari tanpa perlu muncul ke permukaan untuk snorkeling. Sistem tempurnya mengintegrasikan Combat Management System (CMS) buatan Thales, yang mampu mengelola data dari sonar array dan torpedo modern secara real-time.
Spesifikasi Teknis dan Keunggulan Sistem AIP Fuel Cell
Kapal selam turunan Scorpene ini dirancang dengan fokus pada kemampuan siluman dan endurance tinggi. Berikut adalah spesifikasi kunci yang membedakannya dari varian sebelumnya:
- Dimensi: 72 m × 6,4 m (diameter lambung tekan), dengan bobot selam 1.800 ton — lebih besar dibanding varian Scorpene standar (1.500–1.600 ton).
- Sistem propulsi: AIP Fuel Cell yang dipasok oleh grup Naval Group, menghasilkan daya listrik untuk motor penggerak turbin tanpa memerlukan udara luar, mengurangi jejak akustik dan infrared secara drastis.
- Sistem tempur: CMS Thales TACTICOS yang diadaptasi untuk platform bawah air, dengan kemampuan multi-target tracking dan integrasi langsung dengan sonar dan torpedo.
- Persenjataan: Torpedo berat 533 mm dengan sistem peluncuran hidrolik, serta kemampuan menembakkan rudal antikapal melalui tabung torpedo (masih dalam tahap integrasi dengan toples kendali Indonesia).
- Durasi patroli: 30 hari terus-menerus di bawah permukaan tanpa snorkeling, berkat pasokan oksigen melalui fuel cell dan sistem penyimpanan hidrogen.
Keunggulan utama sistem AIP adalah kemampuan kapal untuk tetap menyelam dalam waktu lama pada kecepatan rendah hingga sedang, tanpa harus mengisi ulang baterai secara konvensional. Hal ini menjadikan kapal selam ini sangat efektif untuk misi intelijen, pengintaian, dan pengepungan laut — sebuah lompatan teknologi yang memperkuat postur TNI AL di kawasan.
Langkah Strategis Menuju Kemandirian Galangan Nasional
Proyek ini tidak hanya memperkuat armada TNI AL, tetapi juga menjadi batu loncatan bagi kemandirian galangan nasional. Salah satu poin penting adalah peningkatan tingkat komponen lokal (TKDN) menjadi 45%, naik signifikan dibandingkan kapal selam sebelumnya yang hanya di kisaran 20–30%. Komponen yang dibuat di dalam negeri meliputi sistem baterai lithium-ion yang diproduksi oleh anak perusahaan PT PAL dan bagian lambung tekan yang difabrikasi di galangan Surabaya. PT PAL juga melibatkan lebih dari 50 vendor lokal dalam rantai pasokan, mencakup sistem kelistrikan, pipa tekanan, hingga peralatan interior kapal. Direktur Utama PT PAL, Kaharuddin Djenod, dalam seremoni peletakan lunas menyatakan bahwa proyek ini menjadi fondasi bagi pengembangan kapal selam otonom dan varian ekspor di masa depan.
Ke depan, kapal selam turunan Scorpene ini dapat menjadi platform uji untuk integrasi teknologi siluman generasi berikutnya, seperti sistem manajemen energi cerdas dan material komposit peredam sonar. Bagi pelaku industri pertahanan nasional, proyek ini membuka peluang kolaborasi jangka panjang dalam pengembangan subsistem bawah air, termasuk sonar array buatan dalam negeri dan sistem kendali rudal. Dengan fondasi TKDN 45% dan transfer teknologi dari Naval Group, Indonesia berpotensi menjadi hub produksi kapal selam di Asia Tenggara, memperkuat posisi PT PAL sebagai galangan kelas dunia yang mandiri.