PT PAL Indonesia secara resmi meluncurkan Kapal Selam Nagapasa-6 (kelas Chang Bogo modifikasi) di dok galangan Surabaya, menandai tonggak baru dalam penguasaan teknologi propulsi independen-udara (AIP) dan sensor sonar canggih. Kapal selam sepanjang 61,3 meter ini mengintegrasikan sistem AIP berbasis fuel cell hidrogen yang dipasok oleh DSME Korea Selatan, memungkinkan operasi menyelam kontinu hingga 30 hari tanpa perlu snorkel. Sonar array samping dan bukaan 360 derajat Thales TSM 2233 memberikan kemampuan deteksi ancaman pada jarak 100 km, menjadikan Nagapasa-6 sebagai aset strategis untuk patroli bawah air jarak jauh.
Sistem Propulsi Independen-Udara: Revolusi Daya Tahan Operasi
Keunggulan utama Nagapasa-6 terletak pada sistem AIP fuel cell yang menggantikan generasi baterai konvensional. Dengan teknologi ini, kapal selam mampu beroperasi secara silent submerged selama hampir satu bulan tanpa perlu muncul ke permukaan, mengurangi risiko deteksi musuh. DSME menyertakan protokol transfer teknologi tahap ketiga yang memungkinkan PT PAL menguasai 70% nilai tambah lokal — termasuk integrasi AIP. Langkah ini menjadi landasan bagi dua kapal berikutnya yang akan menggunakan sistem AIP lokal hasil kerja sama dengan BPPT dan ITB, dengan target kemandirian penuh pada 2027.
Sonar Bukaan 360 Derajat dan Integrasi Sensor
Sistem sonar Thales TSM 2233 yang diadopsi pada Nagapasa-6 tidak hanya memberikan cakupan deteksi penuh 360 derajat, tetapi juga terintegrasi dengan array samping (flank array) untuk menangkap sinyal akustik jarak jauh. Dalam uji simulasi, sistem ini mampu mengidentifikasi kapal permukaan dan kapal selam lawan hingga jarak 100 kilometer dengan resolusi tinggi. Kombinasi AIP dan sonar canggih memungkinkan kapal selam melaksanakan misi anti-kapal permukaan (ASuW) dan anti-kapal selam (ASW) secara simultan tanpa pengisian ulang bahan bakar.
Dari sisi spesifikasi teknis, Nagapasa-6 mencatat beberapa capaian strategis:
- Dimensi: Panjang 61,3 meter, diameter 6,3 meter, bobot selam 1.400 ton
- Sistem Propulsi: AIP fuel cell hidrogen + diesel generator cadangan, kecepatan selam maksimum 21 knot
- Endurance: 30 hari menyelam kontinu, awak 40 personel
- Sensor: Sonar Thales TSM 2233 flank array + bukaan 360°, radar navigasi Kelvin Hughes
- Persenjataan: 8 tabung torpedo 533 mm (kapasitas 16 torpedo/persenjataan)
- Tingkat Kandungan Lokal: 70% pada fase ketiga transfer teknologi
Peluncuran ini sekaligus menegaskan roadmap PT PAL menuju produksi kapal selam 100% lokal. Dengan berakhirnya transfer teknologi tahap ketiga, galangan nasional kini memiliki kompetensi merakit dan mengintegrasikan sistem AIP serta sonar rakitan dalam negeri. Direktur Utama PT PAL menekankan bahwa dua unit berikutnya — yang mulai dibangun pada 2026 — akan menguji coba sistem AIP lokal berbasis hydrogen fuel cell yang dikembangkan bersama BPPT dan ITB, dengan target penurunan biaya produksi 30% dibanding impor.
Bagi pelaku industri pertahanan nasional, keberhasilan Nagapasa-6 menjadi sinyal bahwa kemandirian alutsista bukan lagi visi jangka panjang. Langkah strategis yang perlu diambil meliputi: percepatan sertifikasi komponen AIP lokal, pengembangan rantai pasok hidrogen untuk fuel cell, serta kolaborasi dengan universitas untuk riset sonar array generasi berikutnya. Jika ekosistem ini terbentuk, Indonesia berpotensi menjadi hub produksi kapal selam AIP di kawasan Asia Tenggara pada dekade mendatang.