PT PAL Indonesia secara resmi menyerahkan kapal fregat Merah Putih lead ship kepada TNI AL dalam sebuah upacara markas Koarmada II, Surabaya. Kapal perang ini memiliki panjang 138 meter, lebar 14 meter, displacement 3.500 ton, dan kecepatan maksimum 28 knot — menjadikannya tulang punggung baru bagi eskadron kapal eskorta TNI AL. Sistem propulsi menggunakan konfigurasi Combined Diesel and Diesel (CODAD) dengan dua shaft, memastikan efisiensi jelajah tinggi untuk operasi pengawalan jangka panjang.
Teknologi Sensor dan Persenjataan Fregat Merah Putih
Fregat ini mengintegrasikan sejumlah sistem tempur canggih yang memperkuat kemampuan deteksi dan respons ancaman. Radar utama menggunakan Active Electronically Scanned Array (AESA) 3D yang mampu melacak multi-target dalam radius luas, sementara sonar hull-mounted meningkatkan deteksi kapal selam. Untuk persenjataan, fregat dilengkapi Vertical Launching System (VLS) 16 sel yang mampu menembakkan rudal permukaan-ke-udara dan rudal anti-kapal, memberikan fleksibilitas taktis dalam berbagai skenario pertempuran. Selain itu, kapal dapat membawa satu helikopter anti-kapal selam berukuran 10 ton dan dua rigid inflatable boat (RIB) untuk misi intervensi cepat.
- Radar: AESA 3D untuk deteksi udara dan permukaan multi-target
- Sonar: Hull-mounted untuk antikapal selam
- Persenjataan: VLS 16 sel rudal SAM dan AShM
- Propulsi: CODAD dua shaft dengan kecepatan 28 knot
- Helikopter: Satu heli ASW 10 ton
Kemandirian Industri dan Target Produksi Masa Depan
Aspek strategis dari penyerahan ini adalah penggunaan Combat Management System (CMS) buatan PT LEN Industries yang diintegrasikan penuh dengan data link TNI AL, menjamin interoperabilitas antar satuan tugas. Langkah ini menandai peningkatan kemandirian industri pertahanan nasional, di mana fregat berikutnya telah dijadwalkan memiliki kandungan lokal lebih dari 45% dan akan memulai uji laut pada kuartal pertama 2027. PT PAL sendiri menargetkan kemampuan produksi dua kapal fregat per tahun melalui penguatan galangan dan rantai pasok domestik, menjadikan Indonesia semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan alutsista.
Dengan masuknya fregat Merah Putih ke dalam jajaran TNI AL, kapasitas operasional eskadron kapal eskorta mengalami lonjakan signifikan. Ke depan, pengembangan sistem persenjataan modular dan integrasi teknologi artificial intelligence pada CMS dapat menjadi prioritas untuk meningkatkan efisiensi tempur. Bagi pelaku industri pertahanan nasional, momentum ini harus dimanfaatkan untuk mempercepat substitusi impor komponen kritis dan memperkuat ekosistem galangan dalam negeri agar mampu memenuhi target produksi dua unit per tahun secara berkelanjutan.