Pada 10 September 2026, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) secara resmi menyerahkan tiga unit drone MALE (Medium Altitude Long Endurance) Chiroq 100 kepada TNI Angkatan Udara (AU) dalam sebuah seremoni di hanggar Bandung, Jawa Barat. UAV tempur ini merupakan evolusi signifikan dari varian sebelumnya, Chiroq 80, dengan peningkatan aerodinamika sayap dan integrasi mesin Rotax 915 iS yang lebih efisien. Dengan wingspan 18 meter, Chiroq 100 mampu beroperasi hingga 24 jam non-stop pada ketinggian operasional 8.000 meter, serta membawa muatan mencapai 450 kg yang mencakup kamera elektro-optik/inframerah, radar Synthetic Aperture Radar (SAR), dan dua misil laser-guided AGM-114 Hellfire produksi PT Pindad. Sistem komunikasi satelit Ku-band yang diadopsi memungkinkan kendali jarak jauh hingga 1.500 km, memperkuat kemampuan ISTAR (Intelligence, Surveillance, Target Acquisition, and Reconnaissance) di perbatasan Kalimantan dan Laut Natuna. Langkah ini menandai tonggak penting dalam kemandirian industri pertahanan nasional, dengan 70% komponen dalam negeri, termasuk Engine Management System dan avionik buatan PT Len Industri.
Spesifikasi Teknis dan Kemampuan Operasional Chiroq 100
Chiroq 100 dirancang sebagai UAV tempur multiperan yang mengintegrasikan teknologi propulsi modern dan avionik canggih untuk mendominasi medan tempur udara. Berikut adalah rincian spesifikasi teknis utama dari platform ini:
- Dimensi dan Propulsi: Wingspan 18 meter dengan struktur komposit ringan; ditenagai mesin Rotax 915 iS yang menghasilkan tenaga 141 hp, meningkatkan efisiensi bahan bakar hingga 15% dibandingkan pendahulunya.
- Performa Terbang: Kecepatan jelajah 200 km/jam, daya jelajah 24 jam non-stop, dan ketinggian operasional maksimum 8.000 meter (26.247 kaki), memungkinkan misi pengintaian dan serangan presisi di area terpencil.
- Sistem Muatan: Kapasitas muatan internal 450 kg, mencakup kamera elektro-optik/inframerah (EO/IR) untuk pengintaian siang-malam, radar SAR untuk pemetaan medan, serta dua misil AGM-114 Hellfire yang diproduksi oleh PT Pindad dengan sistem laser-guidance.
- Kendali dan Komunikasi: Sistem komunikasi satelit Ku-band memungkinkan kendali dari jarak 1.500 km, didukung oleh data link enkripsi militer untuk keamanan transmisi data real-time.
- Kemandirian Komponen: 70% komponen dalam negeri, termasuk Engine Management System dan sistem avionik terintegrasi buatan PT Len, serta radar dan sensor elektro-optik buatan PT LAPI ITB.
Dengan spesifikasi ini, drone MALE Chiroq 100 mampu mendukung misi ISTAR, Close Air Support (CAS), dan serangan presisi terhadap target bernilai tinggi di medan perang modern.
Dampak Strategis bagi TNI AU dan Kemandirian Industri Pertahanan
Penyerahan tiga unit Chiroq 100 ke Skadron Udara 51 (UAV) menandai modernisasi signifikan dalam armada pertahanan udara Indonesia. TNI AU kini memiliki kemampuan operasional untuk melaksanakan misi pengintaian dan serangan tanpa pilot di kawasan perbatasan, seperti Kalimantan dan Laut Natuna, yang memerlukan daya tahan terbang panjang dan persistensi tinggi. PT DI, sebagai prime contractor, menargetkan produksi 5 unit per tahun untuk memenuhi kebutuhan tiga matra (AU, AD, AL) dan telah menandatangani MoU ekspor dengan Bangladesh dan Filipina. Langkah ini memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen UAV tempur di kawasan Asia Tenggara, sekaligus mendorong kemandirian industri melalui transfer teknologi dan lokaliasi komponen strategis.
Outlook teknologi ke depan, PT DI direncanakan mengembangkan varian Chiroq 200 dengan kemampuan Silent Mode dan integrasi AI Combat Management System pada 2030, memungkinkan operasi swarm swarming dan serangkaian misi otonom. Bagi pelaku industri pertahanan nasional, rekomendasi strategis meliputi investasi dalam riset material komposit ringan, pengembangan algoritma AI untuk navigasi otonom, serta penguatan rantai pasok komponen dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor dan mencapai target 75% komponen dalam negeri pada 2030.