PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama Korea Aerospace Industries (KAI) mengumumkan tuntasnya uji terbang tahap akhir pesawat tempur generasi 4,5 KF-21 Boramae pada 8 September 2026. Uji ini mengonfirmasi kemampuan manuver supersonik pada kecepatan Mach 1,8, validasi sistem avionik terintegrasi, dan peluncuran rudal udara-ke-udara beyond visual range (BVR). Dengan jangkauan tempur mencapai 1.200 km, KF-21 dirancang sebagai platform multirole yang mampu mengisi celah transisi menuju kemampuan siluman (stealth). Keberhasilan ini menandai lompatan signifikan dalam kemandirian industri alutsista nasional, sekaligus memperkuat posisi PTDI sebagai hub manufaktur pesawat tempur di kawasan.
Spesifikasi Teknis dan Kinerja Supersonik KF-21 Boramae
Dari sisi aerodinamika, KF-21 mengadopsi konfigurasi canard-delta wing yang dioptimalkan untuk manuver kecepatan tinggi dan daya angkat rendah. Sistem avioniknya mengintegrasikan radar AESA (Active Electronically Scanned Array) buatan Hanwha Systems, yang mampu mendeteksi target pada jarak lebih dari 150 km dalam mode udara-ke-udara. Dalam uji coba tahap akhir, pesawat berhasil melaksanakan profil penembakan rudal udara-ke-udara jarak menengah (MRAAM) dan short-range (SRAAM) dalam kondisi taktis simulasi. Berikut data teknis utama yang dikonfirmasi:
- Kecepatan maksimum: Mach 1,8 (sekitar 2.200 km/jam) pada ketinggian optimal.
- Radius tempur: 1.200 km tanpa tangki eksternal; meningkat 30% dengan konfigurasi drop tank.
- Kapasitas persenjataan: 10 stasiun external hardpoint (udara-ke-udara, udara-ke-darat, dan pod pengintaian).
- Sistem misi: Integrated Data Link untuk pertukaran data taktis real-time dengan platform lain.
Dampak Strategis terhadap Kemandirian Industri Alutsista Nasional
Indonesia akan menerima 48 unit KF-21 yang diproduksi secara paralel di fasilitas PTDI Bandung, melibatkan 300 insinyur lokal dalam proses final assembly, integrasi sistem, dan uji terbang. Program ini menargetkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 35% pada 2028, yang mencakup produksi struktur sayap, panel fuselage, dan beberapa subsistem avionik. Proses transfer teknologi dari KAI mencakup desain aerodinamika, pemrograman fly-by-wire, dan perakitan mesin General Electric F414-GE-400 yang sudah dilisensikan. Langkah ini secara langsung mengurangi ketergantungan impor alutsista dan membangun rantai pasok industri pertahanan dalam negeri yang berkelanjutan.
Keberhasilan uji terbang tahap akhir KF-21 Boramae juga membuka peluang pengembangan varian khusus untuk kebutuhan TNI AU, termasuk integrasi rudal udara-ke-darat dan pod electronic warfare. Bagi pelaku industri pertahanan nasional, momentum ini harus dimanfaatkan untuk mempercepat penguasaan teknologi kunci seperti radar AESA, sistem datalink, dan material komposit struktural. Dengan target TKDN 35%, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk membangun ekosistem manufaktur pesawat tempur yang mandiri secara bertahap. Rekomendasi strategis ke depan adalah mendorong kerja sama riset antara PTDI, LAPAN, dan universitas dalam pengembangan elektronika dirgantara dan simulasi uji terbang, guna memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama industri pesawat tempur Asia pada dekade 2030-an.