READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
RISET & INOVASI ALUTSISTA TRENDING

PT Dirgantara Indonesia Kembangkan Pesawat Angkut Militer N-245 Generasi Berikut

PT Dirgantara Indonesia Kembangkan Pesawat Angkut Militer N-245 Generasi Berikut

PT Dirgantara Indonesia memulai fase desain rinci pesawat angkut militer N-245 dengan kapasitas 10 ton, teknologi fly-by-wire, dan mesin Pratt & Whitney PW150C. Biaya operasional ditargetkan 25% lebih rendah dari CN-235, dengan komponen lokal 70% pada prototipe pertama tahun 2028. Proyek ini memperkuat kemandirian alutsista dan membuka peluang ekspor di Asia Tenggara.

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) resmi memulai fase desain rinci (detailed design) pesawat angkut militer generasi berikut, N-245. Pesawat turboprop ini dirancang untuk menggantikan CN-235 dengan kapasitas muatan 10 ton dan konfigurasi 50 kursi pasukan terjun payung (paratroop). Dua mesin Pratt & Whitney Canada PW150C masing-masing menghasilkan 5.000 shp, dipilih untuk efisiensi bahan bakar dan keandalan operasi di landasan tak berpaved. Dengan biaya operasional yang ditargetkan 25% lebih rendah dari pendahulunya, N-245 menjadi tonggak baru dalam kemandirian alutsista nasional.

Inovasi Teknis N-245: Fly-by-Wire dan Avionik Masa Depan

N-245 mengadopsi sistem kendali fly-by-wire digital yang memungkinkan respons penerbangan presisi tinggi dan mengurangi beban kerja pilot. Kokpit sepenuhnya glass cockpit dengan multifunction display (MFD) berukuran 15 inci menyajikan data penerbangan dan misi secara real-time. Kemampuan Short Takeoff and Landing (STOL) menjadi fitur andalan, hanya membutuhkan landasan sepanjang 600 meter untuk lepas landas dan mendarat. Spesifikasi teknis utama lainnya meliputi:

  • Kapasitas kargo: 10 ton, mampu mengangkut peralatan berat militer
  • Konfigurasi paratroop: 50 kursi untuk operasi lintas udara
  • Mesin: 2× Pratt & Whitney Canada PW150C (5.000 shp per mesin)
  • Jangkauan operasional: lebih dari 2.000 km dengan muatan penuh
  • Avionik: sistem IFR (Instrument Flight Rules) lengkap untuk penerbangan malam dan cuaca buruk

Desain pesawat angkut militer ini difokuskan pada operasi logistik ke daerah terpencil dan tanggap bencana, menjadikan N-245 solusi strategis bagi kebutuhan mobilitas TNI AU dan lembaga sipil.

Strategi Kemandirian Industri dan Potensi Pasar Regional

Proyek N-245 merupakan bagian dari program Riset & Inovasi Alutsista yang didanai bersama Kementerian Riset dan Kementerian Pertahanan. PTDI menargetkan penggunaan komponen lokal hingga 70% pada prototipe pertama, yang dijadwalkan roll-out pada akhir 2028. Langkah ini sejalan dengan visi kemandirian industri pertahanan nasional. Pasar potensial mencakup TNI AU yang membutuhkan 30 unit, Kepolisian, serta negara-negara Asia Tenggara yang mengoperasikan pesawat turboprop serupa untuk misi angkut jarak pendek. Dengan biaya operasi yang kompetitif dan kemampuan STOL, N-245 diproyeksikan menjadi pemain utama di segmen pesawat angkut ringan militer kawasan.

Outlook Teknologi: Penguasaan teknologi fly-by-wire dan integrasi avionik mutakhir pada N-245 membuka peluang bagi PTDI untuk mengembangkan varian lain, seperti pesawat intai maritim atau tanker ringan. Bagi pelaku industri pertahanan, momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat rantai pasok komponen lokal dan mempercepat sertifikasi sistem. Investasi pada pusat uji terbang dan simulator sangat direkomendasikan untuk memastikan proses sertifikasi tepat waktu dan meningkatkan daya saing ekspor di pasar pesawat turboprop global.

pesawat angkut|N-245|PT DI|angkut militer|pesawat turboprop
ENTITAS TERKAIT
Topik: pesawat angkut militer, N-245
Organisasi: PT Dirgantara Indonesia, Pratt & Whitney Canada, Kementerian Riset, Kementerian Pertahanan, TNI AU, Kepolisian
Lokasi: Asia Tenggara
ARTIKEL TERKAIT