PT Dirgantara Indonesia (PT DI) resmi menuntaskan uji terbang perdana prototipe N-245 Maritime Patrol Aircraft (MPA) versi militer di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Platform ini mengadopsi Integrated Sensor Suite generasi ketiga yang memadukan radar AESA Selex ES-05 Raven, sistem EO/IR Star Safire 380HD, dan pemrosesan akustik sonobuoy dari Thales. Kapabilitas deteksi radar mencakup 360 derajat dengan jangkauan hingga 250 nautical miles untuk target kapal permukaan, sementara sensor fusion EO/IR mampu mengidentifikasi objek seukuran perahu karet pada jarak 18 km. Konfigurasi ini menegaskan keunggulan maritime patrol yang dimiliki N-245 dalam mengawasi perairan strategis Nusantara, sekaligus menjawab kebutuhan TNI AL akan platform patroli maritim modern dengan daya tahan misi tinggi.
Integrasi Sensor Fusion dan Arsitektur Open Architecture
Integrasi sistem sensor fusion pada N-245 MPA dikendalikan oleh mission computer buatan PT LEN yang menerapkan arsitektur open architecture (OA). Arsitektur ini memungkinkan plug-and-play untuk sensor masa depan, mempermudah upgrade tanpa modifikasi besar. Pada uji terbang, prototipe berhasil mengujicoba data link SATCOM untuk streaming real-time intelligence ke kapal induk KRI Dr. Soeharso dan markas besar Koarmada I. Performa operasional menunjukkan endurance 10 jam dengan radius patroli 1.200 km, menjadikan N-245 aset ideal untuk pengawasan ALKI dan ZEE Indonesia. Spesifikasi teknis utama meliputi:
- Radar AESA Selex ES-05 Raven dengan deteksi 360° dan jangkauan 250 nm
- EO/IR turret Star Safire 380HD untuk identifikasi objek jarak 18 km
- Sistem akustik sonobuoy processing Thales untuk deteksi kapal selam
- Mission computer open architecture dari PT LEN
- Data link SATCOM untuk real-time intelligence
- Endurance 10 jam, radius patroli 1.200 km
Strategic Roadmap dan Kemandirian Alutsista Nasional
Pengembangan N-245 MPA merupakan bagian dari strategic roadmap PT DI 2025-2035 dengan investasi riset mencapai Rp850 miliar. Tahap selanjutnya akan fokus pada integrasi weapon system, termasuk rudal anti-kapal Kongsberg Naval Strike Missile dan sonar magnetic anomaly detector (MAD). Produksi awal direncanakan sebanyak 6 unit untuk TNI AL dengan nilai kontrak diperkirakan Rp4,2 triliun, menggantikan fungsi pesawat patroli CN-235 MPA yang telah beroperasi sejak 1990-an. Langkah ini memperkuat kemandirian alutsista dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor. Rincian program produksi awal:
- Investasi riset Rp850 miliar dalam roadmap 2025-2035
- Integrasi rudal NSM dan MAD pada tahap berikutnya
- Produksi awal 6 unit untuk TNI AL senilai Rp4,2 triliun
- Menggantikan CN-235 MPA yang sudah uzur
Dengan keberhasilan uji terbang ini, PT DI tidak hanya menunjukkan kapabilitas sebagai integrator sistem pertahanan udara maritim, tetapi juga membuka peluang ekspor ke negara-negara maritim di Asia dan Afrika. Adopsi arsitektur open architecture dan sensor fusion generasi terbaru menempatkan N-245 MPA sebagai platform yang adaptif terhadap perkembangan teknologi peperangan asimetris. Ke depan, kolaborasi dengan BUMN strategis seperti PT LEN dan industri pertahanan global akan menjadi kunci dalam mempercepat kemandirian alutsista nasional sekaligus memperkuat postur pertahanan maritim Indonesia.