PT Pindad (Persero) telah menyelesaikan uji statis mortir kaliber 120mm hasil pengembangan sendiri pada 26 Agustus 2026 di Pusat Uji Senjata Berat Cipatat, Jawa Barat. Mortir yang diberi nama 'Naga-120' ini mencatatkan spesifikasi teknis yang signifikan: jangkauan tembak mencapai 7,2 kilometer dengan sistem pengisian semi-otomatis dan amunisi panduan laser. Bobot total 340 kilogram dengan panjang laras 1,8 meter, serta kecepatan tembak 8 butir per menit. Uji statis ini merupakan tahap krusial sebelum uji tembak langsung yang dijadwalkan pada Oktober 2026 dengan dihadiri oleh TNI AD, menandai langkah maju dalam kemandirian alutsista nasional.
Spesifikasi Teknis dan Inovasi Naga-120
Mortir Naga-120 dirancang untuk meningkatkan daya tembak batalion infantri secara eksponensial. Berbeda dengan mortir konvensional, Naga-120 mengadopsi sistem amunisi panduan laser yang memberikan akurasi tinggi dalam kondisi medan berat. Berikut rincian spesifikasi teknis utama:
- Kaliber: 120mm, memungkinkan penggunaan proyektil eksplosif tinggi dan amunisi berpandu.
- Jangkauan Efektif: 7,2 km, cukup untuk mendukung taktik tembak-tembakan jarak jauh di operasi kontra-insurjensi.
- Kecepatan Tembak: 8 butir per menit, didukung sistem pengisian semi-otomatis yang mengurangi beban operator.
- Berat Total: 340 kg, dioptimalkan untuk mobilitas taktis dengan kendaraan taktis ringan.
- Panjang Laras: 1,8 meter, memberikan stabilitas balistik tinggi.
Integrasi amunisi panduan laser memungkinkan Naga-120 untuk mengenai target titik dengan presisi sub-meter, mengurangi risiko collaterial damage dalam operasi infantri di lingkungan urban atau perbatasan. Teknologi ini sejajar dengan tren global smart mortar systems yang dikembangkan negara-negara maju.
Daya Tembak untuk Operasi Kontra-Insurjensi dan Pertahanan Perbatasan
Pindad menargetkan Naga-120 sebagai pengganti mortir lama yang masih bergantung pada sistem manual. Dalam operasi kontra-insurjensi, kemampuan tembak cepat dan akurat sangat vital untuk membubarkan konsentrasi musuh tanpa perlu dukungan artileri berat. Untuk pertahanan wilayah perbatasan, jangkauan 7,2 km memberikan coverage terhadap area yang sulit dijangkau oleh pasukan patroli. Rencana produksi serial dijadwalkan pada Q1 2027 dengan harga per unit Rp 800 juta, yang relatif kompetitif dibandingkan produk sejenis dari Asia Tenggara. Uji tembak langsung pada Oktober 2026 akan menjadi validasi akhir sebelum masuk tahap produksi massal. TNI AD sebagai pengguna utama diharapkan mengadopsi mortir ini untuk memperkuat batalion infantri di korps kavaleri dan kostrad.
Keberhasilan Naga-120 membawa implikasi strategis bagi ekosistem industri pertahanan nasional. Pindad membuktikan kemampuan rekayasa dalam mengembangkan senjata berat dengan teknologi panduan, yang membuka peluang ekspor ke negara-negara berkembang yang mencari solusi artileri murah namun presisi. Ke depannya, adopsi material komposit untuk mengurangi bobot dan integrasi sistem kendali tembak digital dapat menjadi langkah peningkatan. Para pelaku industri pertahanan nasional disarankan untuk mulai mengembangkan amunisi panduan laser produksi dalam negeri guna memperkuat kemandirian rantai pasok. Dengan momentum ini, alutsista buatan Indonesia siap bersaing di panggung global.