Panglima TNI menetapkan target teknologi kritis dalam pidato Forum Strategi Pertahanan Nasional 2026: pengembangan radar AESA generasi baru dengan kemampuan multi-mode scanning hingga 400 km, sistem propulsi roket hibrida berbasis bahan bakar gel untuk rudal jelajah jarak menengah, serta material komposit stealth dengan radar cross-section (RCS) di bawah 0,001 m² untuk platform udara masa depan. Strategi ini menjadi respons teknis terhadap proyeksi ancaman multi-domain menjelang 2030, yang memaksa industri pertahanan nasional melakukan transformasi paradigma dari pengguna menjadi inovator teknologi militer.
Pilar Teknologi Kritis dan Target Produksi 2030
Tiga pilar kemandirian alutsista diformulasikan dengan parameter yang dapat diukur: penguasaan critical technologies melalui program reverse engineering dan co-development dengan lembaga riset global, peningkatan kapasitas produksi melalui teknologi additive manufacturing untuk komponen strategis, serta penguatan rantai pasok lokal berbasis digital twin untuk mengoptimasi efisiensi. Target spesifik Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 70% untuk platform utama pada 2030 akan dipacu melalui integrasi sistem produksi modular, dengan fokus pada komponen seperti sensor fusi multi-spectral, sistem kendali penerbangan autopilot, dan transmisi daya untuk kapal selam.
- Pengembangan radar AESA dengan teknologi Gallium Nitride (GaN) untuk meningkatkan density power output
- Implementasi sistem propulsi Air Independent Propulsion (AIP) berbasis fuel cell untuk kapal selam konvensional dengan durasi operasi submerged hingga 14 hari
- Peningkatan kapasitas produksi drone loyal wingman dengan integrasi AI-based swarm intelligence untuk misi reconnaissance-strike kompleks
Model Pengembangan dan Skema Pendanaan Hibrida
Implementasi strategis kemandirian industri akan diwujudkan melalui model pengembangan platform future weapons systems yang mengadopsi pendekatan open architecture, memungkinkan integrasi cepat dengan sistem komando dan kendali berbasis artificial intelligence. Program prioritas meliputi rudal jelajah serang darat jarak menengah dengan kemampuan terrain masking dan all-weather targeting, drone tempur loyal wingman dengan payload modular hingga 500 kg, serta kapal selam konvensional dengan sensor array multi-static. Skema pendanaan hibrida menjadi enabler utama, dengan komposisi APBN 40%, investasi BUMN strategis 35%, dan kemitraan venture capital teknologi pertahanan global 25%, untuk mencapai target peningkatan anggaran R&D industri pertahanan menjadi 15% dari total belanja alutsista pada 2028.
Outlook teknologi untuk pembangunan strategis industri pertahanan nasional mengarah pada konsolidasi kemampuan produksi sistem persenjataan high-end, dengan fokus pada domain cross-domain synergy. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri meliputi adopsi teknologi digitalisasi rantai pasok berbasis blockchain untuk traceability komponen, investasi pada laboratorium testing integrated warfare system untuk validasi kinerja platform, serta pembentukan konsortium riset material advanced composite dengan perguruan tinggi untuk mencapai breakthrough dalam teknologi stealth generasi ketiga.