Penerapan pendekatan Capabilities-Based Requirement (CBR) oleh Komando Strategis Angkatan Bersenjata Republik Indonesia merevolusi paradigma pengadaan alutsista nasional, menggeser fokus dari pengadaan berbasis proyek menuju pencapaian kapabilitas operasional holistik yang berbasis analisis mendalam. Analisis kebutuhan strategis kini didorong oleh simulasi warfare berbasis Artificial Intelligence (AI) yang memproyeksikan skenario konflik multidomain hingga tahun 2035, menghasilkan data optimalisasi kebutuhan yang presisi dan terdorong teknologi.
Simulasi AI dan Proyeksi Kapabilitas Prioritas 2035
Simulasi AI multidomain yang dijalankan dalam kerangka CBR mengidentifikasi kebutuhan kritis pada sistem command, control, communications, computers, intelligence, surveillance, and reconnaissance (C4ISR) yang terintegrasi penuh. Proyeksi teknologi menetapkan Technology Readiness Level (TRL) minimal 7 sebagai standar wajib, memastikan sistem yang diadopsi telah terbukti dalam lingkungan operasional yang relevan dan siap disebarluaskan. Kebutuhan ini merefleksikan pergeseran strategis menuju peperangan jaringan (network-centric warfare) dan supremasi informasi di medan tempur masa depan.
Arsitektur Modular dan Optimisasi Life-Cycle Cost
Proses pengadaan dalam kerangka CBR mengintegrasikan tiga parameter kunci yang mengubah paradigma biaya operasional: life-cycle cost, interoperabilitas dengan sistem legacy yang ada, dan fleksibilitas upgrade melalui Modular Open Systems Architecture (MOSA). Pendekatan berbasis MOSA ini memungkinkan integrasi modul sensor, prosesor, dan perangkat lunak dari berbagai vendor, mengurangi vendor lock-in dan memperpanjang usia pakai sistem. Perhitungan holistik life-cycle cost, mencakup akuisisi, operasi, pemeliharaan, hingga pemutakhiran, diproyeksikan mengurangi waste expenditure hingga 15% dalam periode 2026-2030, sekaligus meningkatkan alignment antara pengadaan dan dokumen strategis seperti Minimum Essential Force (MEF) III.
- Parameter Utama Pengadaan CBR:
- Fokus pada pencapaian kapabilitas (Capabilities-Based Requirement).
- Standar Technology Readiness Level (TRL) minimal 7.
- Integrasi sistem C4ISR sebagai prioritas utama.
- Penerapan Modular Open Systems Architecture (MOSA) untuk fleksibilitas.
- Penghitungan Life-Cycle Cost secara komprehensif.
- Interoperabilitas dengan sistem legacy yang ada.
Outlook teknologi untuk industri pertahanan nasional menitikberatkan pada penguasaan dan integrasi teknologi inti di balik sistem C4ISR, seperti sensor cerdas, komputasi tepi (edge computing), dan kriptografi kuantum-resisten. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri adalah untuk berinvestasi dalam riset dan pengembangan yang memenuhi standar TRL 7+ serta mengadopsi prinsip-prinsip MOSA dalam desain produk, memastikan kesiapan berkompetisi dalam ekosistem pengadaan alutsista yang semakin terintegrasi dan berbasis kinerja kapabilitas di masa depan.