Dalam rapat koordinasi optimalisasi kebutuhan alutsista, TNI Angkatan Darat (TNI AD) menetapkan pengadaan radar counter-battery untuk artileri medan sebagai prioritas utama pada tahun anggaran 2026-2027. Radar ARTHUR (Artillery Hunting Radar) buatan Swedia menjadi kandidat utama karena kemampuannya melacak proyektil artileri, roket, dan mortir secara simultan dalam radius hingga 40 kilometer. Dengan akurasi triangulasi yang memungkinkan koreksi tembakan balasan langsung, sistem ini menggantikan radar usang yang hanya mampu mendeteksi kaliber 155 mm. Langkah ini merupakan bagian dari strategi modernisasi matra darat yang menekankan sensor presisi dan responsivitas tinggi di medan tempur modern.
Radar ARTHUR: Lompatan Teknologi Deteksi Balistik Multi-Spektral
ARTHUR merupakan radar counter-battery generasi terbaru yang mengintegrasikan teknologi pemindaian elektronik (AESA) untuk mendeteksi, melacak, dan mengklasifikasikan proyektil secara real-time. Sistem ini mampu mengidentifikasi titik asal tembakan dalam hitungan detik dengan kesalahan posisi kurang dari 50 meter pada jarak maksimum. Berikut spesifikasi teknis utama yang dipertimbangkan TNI AD:
- Jangkauan deteksi: hingga 40 km untuk proyektil artileri dan roket, serta 20 km untuk mortir.
- Kemampuan simultan: melacak hingga 100 target secara bersamaan dengan kecepatan pemrosesan data tinggi.
- Akurasi triangulasi: kesalahan posisi kurang dari 50 meter pada jarak maksimum, memungkinkan koreksi tembakan balasan langsung.
- Integrasi sistem: kompatibel dengan sistem komando dan kontrol (C2) TNI AD serta dapat dihubungkan dengan sistem artileri terintegrasi.
- Mobilitas: dipasang pada platform kendaraan taktis beroda 6x6 dengan waktu set-up kurang dari 5 menit.
Dibandingkan radar usang yang hanya terbatas pada deteksi proyektil 155 mm, ARTHUR memberikan lompatan kemampuan signifikan. Sistem ini juga mampu membedakan jenis amunisi berdasarkan lintasan balistik, memudahkan operator dalam menentukan prioritas sasaran balasan. Teknologi AESA memungkinkan pemindaian elektronik tanpa bagian bergerak, meningkatkan keandalan dan kecepatan reaksi di medan tempur yang dinamis.
Strategi Optimalisasi Kebutuhan dan Kemandirian Industri Pertahanan Nasional
Keputusan TNI AD untuk memprioritaskan radar counter-battery dalam optimalisasi kebutuhan didasarkan pada evaluasi ancaman artileri dan roket dari berbagai skenario operasi. Langkah ini sejalan dengan program modernisasi yang menekankan sensor presisi dan kemampuan counter-battery. Beberapa poin strategis dalam kebijakan ini meliputi:
- Pengadaan 12 unit radar yang akan ditempatkan di satuan artileri medan di seluruh Indonesia, termasuk wilayah perbatasan dan daerah rawan konflik.
- Kolaborasi dengan industri pertahanan nasional untuk memastikan transfer teknologi dan partisipasi dalam pemeliharaan, suku cadang, serta potensi produksi lisensi di masa depan.
- Integrasi dengan sistem C4ISR yang sudah ada, seperti sistem Komando Tempur Artileri (Kotar) dan jaringan data taktis, untuk meningkatkan kecepatan respons tembakan balasan.
- Pelatihan operator secara berjenjang dengan menggunakan simulator berbasis realitas virtual untuk mempercepat penguasaan sistem.
Outlook teknologi: Keberhasilan pengadaan radar ARTHUR dapat menjadi katalis bagi pengembangan ekosistem industri pertahanan nasional di bidang sensor dan sistem counter-battery. Pelaku industri pertahanan disarankan untuk mulai membangun kapabilitas riset dan pengembangan radar AESA serta komponen elektronika pertahanan guna mendukung kemandirian alutsista jangka panjang. Transfer teknologi dari Swedia juga harus dimanfaatkan untuk memperkuat basis industri dalam negeri, tidak hanya pada perakitan tetapi juga pada pemeliharaan dan peningkatan kemampuan sistem di masa depan.