TNI Angkatan Darat telah memasuki fase evaluasi teknologi determinatif untuk sistem rudal jarak pendek atau SHORAD generasi penerus, menargetkan pengganti RBS-70 yang mampu membentuk lapisan pertahanan udara dalam yang tangguh. Proses evaluasi teknologi ini berfokus pada parameter futuristik yang jauh melampaui pendahulunya, dengan spesifikasi teknis minimum mencakup jangkauan efektif >8 km, kecepatan rudal >Mach 2.5, serta integrasi sistem pemandu terkini seperti imaging infrared (IIR) dan laser beam riding. Sistem baru ini dirancang untuk menjadi elemen mobile yang terintegrasi penuh dalam arsitektur jaringan C4ISR TNI AD.
Spesifikasi Teknis Futuristik dan Simulasi Skenario Ancaman Multidomain
Kajian teknis tidak hanya mengukur spesifikasi statis, tetapi mensimulasikan skenario pertempuran riil melawan ancaman masa depan. Target uji kandidat MANPADS dan sistem peluncur lainnya mencakup ancaman asimetris kompleks, dengan parameter kinerja kunci yang harus dipenuhi:
- Kemampuan Anti-Swarm: Probabilitas penghancuran (Pk) tinggi terhadap formasi swarm UAV (5-10 unit) dan loitering munition dengan Radar Cross Section (RCS) minimal.
- Reaksi Super Cepat: Waktu reaksi sistem di bawah 5 detik dengan kemampuan lock-on before launch.
- Sensor Generasi III+: Pemandu Infrared/Imaging Infrared (IR/IIR) mutakhir untuk penargetan presisi tinggi, termasuk melawan helikopter serang berprofil stealth.
- Mobilitas dan Integrasi: Masa penyiapan tempur di bawah 3 menit, kompatibilitas penuh dengan radar 3D mobile dan command post terpusat, serta kemampuan integrasi dengan kendaraan ringan 4x4.
Kandidat teknologi mutakhir seperti Mistral 3 dengan pemandu IR generasi III+ dan Starstreak II dengan hulu ledak kinetic-energetic akan diuji ketat berdasarkan parameter operasional ini.
Roadmap OT&E dan Peluang Kemandirian dalam Rantai Pasok SHORAD
Implementasi sistem SHORAD baru akan melalui fase Operational Test & Evaluation (OT&E) yang ketat di berbagai medan operasi Indonesia, dari tropis basah hingga kering. Pengujian ini dirancang untuk memverifikasi parameter Reliability, Maintainability, and Availability (RMA) dalam kondisi nyata. Lebih dari sekadar akuisisi, program ini menjadi pintu masuk strategis bagi industri pertahanan nasional untuk berperan dalam pengembangan subsistem kritis, menciptakan peluang kemandirian di bidang:
- Pengembangan varian peluncur untuk sistem MANPADS.
- Rancang-bangun Transporter-Erector-Launcher (TEL) berbasis kendaraan domestik.
- Produksi subsistem pendeteksi elektro-optik dan fire control unit.
- Integrasi komponen buatan dalam negeri untuk meningkatkan nilai tambah teknologi dan memperkuat supply chain industri pertahanan udara.
Keputusan akhir dalam program pencarian pengganti RBS-70 ini akan menentukan arsitektur layered air defense TNI AD untuk dekade mendatang. Outlook teknologi menekankan pada perlunya sistem yang tidak hanya memenuhi spesifikasi teknis saat ini, tetapi juga memiliki arsitektur terbuka (open architecture) untuk mengakomodasi peningkatan sensor, pemandu, dan kemampuan jaringan di masa depan, memastikan relevansi sistem dalam menghadapi evolusi ancaman udara yang semakin cepat dan kompleks.