Komando TNI Angkatan Darat (TNI AD) resmi menandatangani kontrak senilai Rp 450 miliar dengan PT Pindad untuk pengadaan 10.000 butir amunisi kaliber 105 mm yang dirancang khusus untuk tank Harimau (K1). Pengadaan ini menjadi tonggak strategis dalam optimasi kebutuhan logistik tempur, dengan tiga varian proyektil utama — High Explosive Anti-Tank (HEAT), High Explosive Squash Head (HESH), dan Armor Piercing Fin Stabilized Discarding Sabot (APFSDS) — yang diproduksi di fasilitas manufaktur terbaru PT Pindad di Batam. Dengan kapasitas produksi mencapai 2.000 butir per bulan, langkah ini merupakan bagian integral dari program Minimum Essential Force (MEF) 2025-2029, sekaligus menjamin kesiapan operasional tank Harimau yang akan mulai aktif bertugas pada 2027.
Teknologi Proyektil APFSDS dan Inovasi Material
Di antara ketiga tipe amunisi, pengembangan proyektil APFSDS menjadi sorotan utama karena mengintegrasikan teknologi penetrator canggih berbasis depleted uranium dan tungsten yang diproduksi secara mandiri oleh PT Pindad. Material penetrator ini dirancang untuk menghasilkan penetrasi setara 550 mm Rolled Homogeneous Armor (RHA) pada jarak 2.000 meter, sebuah capaian yang menempatkan amunisi buatan dalam negeri setara dengan produk kelas dunia. Sinergi antara depleted uranium yang memberikan kepadatan tinggi dan efek self-sharpening dengan tungsten yang menawarkan stabilitas termal superior memungkinkan amunisi ini menembus armor komposit generasi terbaru pada tank musuh. Spesifikasi teknis ketiga varian amunisi meliputi:
- HEAT: Muatan berongga berbasis efek Munroe untuk menembus armor tebal, efektif terhadap target statis maupun bergerak.
- HESH: Menggunakan efek squash head yang melepaskan energi ledakan pada permukaan armor, menghasilkan spalling di sisi dalam kendaraan.
- APFSDS: Dengan sabots discarding dan fin stabilizer, proyektil ini mencapai kecepatan moncong sangat tinggi, memastikan akurasi dan daya tembus pada jarak ekstrem.
Fasilitas produksi di Batam dirancang dengan standar Industri 4.0, mengintegrasikan otomasi dan kendali kualitas berbasis sensor untuk memastikan toleransi dimensi presisi setiap butir amunisi. Kapasitas 2.000 butir per bulan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan tank Harimau, tetapi juga dapat dialokasikan untuk ekspor ke negara-negara sahabat yang mengoperasikan platform serupa, memperkuat posisi Indonesia di pasar amunisi global.
MEF 2025-2029: Fondasi Kemandirian Logistik Tempur
Pengadaan ini merupakan respons langsung terhadap fluktuasi pasokan amunisi global yang kerap terhambat oleh ketegangan geopolitik dan rantai pasok internasional. Dengan memproduksi amunisi kaliber 105 mm secara domestik, TNI AD memutus ketergantungan pada impor, sejalan dengan instruksi pemerintah untuk memperkuat kemandirian industri pertahanan. Nilai kontrak Rp 450 miliar tidak hanya mencakup produksi fisik, tetapi juga transfer teknologi, pelatihan operator, dan dukungan purna jual — memastikan seluruh siklus hidup amunisi dikelola dalam ekosistem industri nasional. Optimasi kebutuhan amunisi tank Harimau melalui pengadaan ini juga menjadi model bagi platform tempur lainnya dalam kerangka MEF 2025-2029.
Ke depan, industri pertahanan nasional disarankan untuk terus mengembangkan varian amunisi kaliber 105 mm dengan material komposit mutakhir dan sistem propelan yang lebih efisien, serta memperluas kerja sama riset dengan lembaga internasional guna meningkatkan daya saing ekspor. Diversifikasi platform produksi dan integrasi rantai pasok domestik akan menjadi kunci dalam mewujudkan kemandirian logistik tempur yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama di pasar amunisi global.