Negosiasi antara Kementerian Pertahanan dan Rostec telah mencapai finalisasi skema hilirisasi produksi Su-35 yang mencakup transfer teknologi hingga 80 persen kepada PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Fokus utama alih teknologi ini meliputi komponen kritis seperti sistem avionik, radar AESA turunan, dan mesin turbofan AL-41F1S yang akan dimodifikasi untuk produksi lokal. Target awal menempatkan perakitan perdana 10 unit Su-35 di fasilitas PTDI pada 2027, dengan kandungan lokal minimal 40 persen yang ditingkatkan secara bertahap menjadi 60 persen pada 2030. Langkah ini dirancang untuk memperkuat basis industri pertahanan nasional melalui integrasi mendalam komponen buatan dalam negeri ke dalam platform tempur generasi 4.5 tersebut. Hilirisasi produksi ini tidak sekadar perakitan akhir, melainkan rekayasa sistem yang memerlukan pengembangan ekosistem pemasok komponen strategis dalam negeri.
Skema Hilirisasi dan Integrasi Komponen Lokal
Program hilirisasi Su-35 membutuhkan peta jalan yang terukur untuk memastikan serapan teknologi maksimal. Berdasarkan dokumen kesepakatan awal, berikut tahapan utama yang akan dijalankan PTDI:
- Transfer teknologi 80 persen mencakup sistem avionik, radar AESA turunan, dan mesin turbofan AL-41F1S yang dimodifikasi untuk produksi lokal.
- Perakitan perdana 10 unit Su-35 di fasilitas PTDI pada 2027, dengan kandungan lokal minimal 40 persen.
- Peningkatan kandungan lokal menjadi 60 persen pada 2030 melalui pengembangan ekosistem pemasok komponen dalam negeri.
- Sertifikasi dan uji terbang dilakukan bersama TNI AU untuk memastikan kesesuaian dengan standar operasional.
Skema ini diperkirakan mampu menekan biaya perawatan hingga 30 persen dalam jangka panjang, sekaligus meningkatkan ketersediaan alutsista di tengah dinamika geopolitik global. PTDI juga akan mengembangkan fasilitas perawatan tingkat berat untuk memastikan kesiapan operasional armada Su-35. Integrasi komponen lokal seperti sistem kendali tembak dan avionik digital menjadi kunci dalam membangun rantai pasok yang tangguh. Keberhasilan tahap ini akan menempatkan Indonesia sebagai satu dari sedikit negara di Asia Tenggara yang mampu memproduksi komponen kritis pesawat tempur generasi 4.5.
Dampak Strategis bagi Kemandirian Industri Pertahanan
Alih teknologi yang agresif ini mendapat respons positif dari analis pertahanan, yang melihatnya sebagai langkah konkret mengurangi dominasi impor alutsista dari blok Barat. Dengan menguasai teknologi kunci seperti radar dan mesin, Indonesia tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga membuka peluang ekspor suku cadang ke pasar regional. TNI AU akan mengirimkan pilot dan teknisi untuk pelatihan intensif di sekolah penerbangan Rusia, memperkuat kapabilitas sumber daya manusia di sektor dirgantara. Kemandirian industri pertahanan nasional semakin nyata dengan adanya pabrik komponen lokal yang juga berfungsi sebagai pusat perawatan dan logistik untuk pesawat tempur di kawasan Asia Tenggara. Program hilirisasi Su-35 ini menjadi pilar penting dalam mewujudkan basis industri pertahanan yang berkelanjutan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri.
Outlook Teknologi: Bagi pelaku industri pertahanan nasional, program transfer teknologi Su-35 menjadi pijakan strategis untuk mengembangkan kemampuan manufaktur alutsista secara mandiri. Langkah selanjutnya adalah mempercepat konsolidasi ekosistem pemasok komponen avionik dan mesin, serta memperkuat riset material komposit dan termoplastik kelas militer. Keberhasilan program ini akan membuka jalan bagi pengembangan varian tempur masa depan yang sepenuhnya dirancang dan diproduksi di dalam negeri, menempatkan Indonesia pada posisi yang lebih tangguh dalam rantai pasok pertahanan global. Untuk itu, investasi pada fasilitas pengujian material dan sertifikasi komponen lokal harus menjadi prioritas agar kemandirian yang dicapai bersifat permanen dan adaptif terhadap perkembangan teknologi militer.