Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin secara resmi menyerahkan 12 unit Amphibious Assault Vehicle (AAV) M-35 kepada TNI Angkatan Laut dalam seremoni di Kesatrian Marinir Hartono, Cilandak, Jakarta Selatan. Kendaraan tempur amfibi berbasis roda rantai (tracked) ini merupakan gelombang pertama dari total 35 unit yang direncanakan melalui skema Foreign Military Sales (FMS) dengan Amerika Serikat, di mana 23 unit sisanya dijadwalkan tiba pada akhir November 2026. Secara teknis, alutsista ini diklasifikasikan sebagai ranpur amfibi pengangkut personel yang memiliki kemampuan navigasi darat dan laut, dirancang untuk meningkatkan mobilitas dan daya gerak operasional Pasukan Pendarat Korps Marinir. Kehadiran AAV M-35 menjadi tonggak awal dalam modernisasi Brigade Infanteri 1 Marinir, dengan pembagian merata ke tiga Pasukan Marinir guna menyamakan peningkatan kekuatan tempur.
Spesifikasi Teknis dan Integrasi Operasional AAV M-35
AAV M-35 merupakan platform generasi mutakhir yang mengintegrasikan sejumlah inovasi teknologi untuk mendukung operasi amfibi modern. Berdasarkan data teknis yang diperoleh, kendaraan ini memiliki kapasitas angkut personel hingga 25 prajurit lengkap dengan perlengkapannya, serta mampu melaju di air dengan kecepatan 8 knot menggunakan dua unit propeler hidrolik. Sistem propulsi darat menggunakan mesin diesel turbocharged 525 tenaga kuda yang memberikan kecepatan maksimal 72 km/jam di jalan raya. Dari aspek persenjataan, AAV M-35 dipersenjatai dengan senapan mesin berat kaliber 12,7 mm dan pelontar granat 40 mm, memberikan daya tembak yang memadai untuk mendukung pendaratan pasukan. Untuk meningkatkan survivability, kendaraan ini dilengkapi dengan pelindung baja tahan tembakan senjata ringan dan fragmentasi, serta sistem perlindungan NBC (Nuclear, Biological, Chemical).
- Kapasitas personel: 25 prajurit + 3 kru (komandan, pengemudi, penembak)
- Kecepatan air: 8 knot (sekitar 15 km/jam) menggunakan propeler
- Kecepatan darat: 72 km/jam (maksimal) dengan mesin turbocharged
- Persenjataan utama: Senapan mesin berat M2HB 12,7 mm dan pelontar granat Mk 19 40 mm
- Proteksi: Baja armor tahan tembakan 7,62 mm; sistem NBC; sistem pemadam api otomatis
- Sistem navigasi: GPS, kompas digital, dan sistem komunikasi radio taktis terintegrasi
Dampak Strategis dan Kemandirian Industri Pertahanan
Penambahan 12 AAV M-35 ini bukan sekadar pengadaan alutsista konvensional, melainkan bagian dari roadmap pembangunan kekuatan TNI AL yang berfokus pada penguasaan wilayah laut strategis dan pertahanan pulau-pulau terluar. Secara operasional, kendaraan ini akan menjadi force multiplier dalam operasi amfibi, memberikan kemampuan proyeksi daya dari laut ke darat dengan kapasitas angkut infantri yang signifikan. Dari perspektif sustainment, kedatangan AAV M-35 menuntut penyiapan logistik suku cadang, program pelatihan kru, serta fasilitas pemeliharaan yang kompatibel dengan standar NATO. Langkah ini juga mencerminkan strategi diversifikasi sumber pengadaan dengan tetap mengutamakan prinsip kesiapan operasional maksimal. Kehadiran aset amfibi generasi ini memperkuat postur deterrence Indonesia di wilayah perairan yang kompleks, sekaligus menjadi basis evaluasi untuk pengembangan ranpur amfibi dalam negeri pada fase desain selanjutnya. Pelaku industri pertahanan nasional perlu mencermati kebutuhan akan transfer teknologi dan kemitraan strategis untuk memastikan kemampuan perawatan jangka panjang serta potensi produksi lisensi di masa depan.
Outlook teknologi ke depan, pengalaman operasional AAV M-35 akan menjadi masukan berharga bagi program pengembangan kendaraan tempur amfibi dalam negeri yang tengah dirancang oleh PT Pindad dan konsorsium industri pertahanan. Sinergi antara data lapangan, evaluasi keandalan sistem, serta integrasi dengan platform C4ISR (Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance) akan menentukan kelayakan desain generasi berikutnya. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri: percepat investasi di bidang material komposit tahan korosi air laut, sistem propulsi hibrida, dan konektivitas jaringan taktis untuk memenangkan kontes pengadaan ranpur amfibi masa depan yang lebih otonom dan adaptif terhadap medan tempur multidomain.