READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
RISET & INOVASI ALUTSISTA TRENDING

Luhut Dorong Konsorsium Dalam Negeri Kembangkan Radar 3D AESA untuk Kohanudnas

Luhut Dorong Konsorsium Dalam Negeri Kembangkan Radar 3D AESA untuk Kohanudnas

Pemerintah melalui Menko Marves Luhut mendorong konsorsium nasional yang terdiri dari PT Len Industri, PT Pindad, dan ITB untuk mengembangkan Radar 3D AESA guna menggantikan sistem usang di Kohanudnas. Teknologi AESA yang diusung mampu mendeteksi multi-target secara simultan dan tahan terhadap jamming, dengan target prototipe dalam 18 bulan. Program ini diharapkan mengurangi ketergantungan impor radar pertahanan udara dan membangun kemandirian alutsista nasional.

Kebijakan strategis percepatan kemandirian alutsista kembali digulirkan melalui rapat koordinasi yang dipimpin Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Fokus utama agenda tersebut adalah pengembangan Radar 3D AESA (Active Electronically Scanned Array) buatan dalam negeri untuk menggantikan sistem deteksi usang yang saat ini dioperasikan Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas). Teknologi AESA menawarkan lompatan kemampuan dibandingkan radar konvensional, terutama dalam hal deteksi multi-target secara simultan dan ketahanan terhadap gangguan elektronik (jamming). Langkah ini merupakan wujud nyata hilirisasi industri pertahanan yang tidak hanya mengurangi ketergantungan impor tetapi juga membangun ekosistem riset dan produksi domestik.

Spesifikasi Teknis dan Keunggulan Radar AESA Generasi Terbaru

Radar 3D AESA yang dikembangkan mengadopsi arsitektur phased array dengan elemen pemancar/penerima (Transmit/Receive Module) yang terintegrasi pada setiap antena. Keunggulan utama sistem ini meliputi:

  • Scanning elektronik instan: tanpa pergerakan mekanis, memungkinkan waktu reaksi lebih cepat terhadap ancaman yang bergerak dengan kecepatan tinggi.
  • Resistensi terhadap jamming: distribusi daya pada banyak elemen membuat radar sulit dideteksi dan diganggu oleh sistem peperangan elektronik lawan.
  • Deteksi multi-target: mampu melacak puluhan hingga ratusan target sekaligus, termasuk objek siluman (stealth) berkat pita frekuensi yang fleksibel.
  • Redundansi tinggi: kegagalan beberapa elemen tidak melumpuhkan keseluruhan sistem, menjamin kontinuitas operasi di medan pertempuran.

Dengan spesifikasi tersebut, radar ini diproyeksikan mampu menjangkau radius deteksi hingga lebih dari 400 km serta ketinggian operasional mencakup lapisan atmosfer bawah dan menengah, sesuai kebutuhan pertahanan udara nasional.

Strategi Konsorsium Nasional dan Target Produksi

Konsorsium yang terdiri dari PT Len Industri (integrator sistem), PT Pindad (manufaktur komponen), dan Institut Teknologi Bandung (riset dan pengembangan antena) ditargetkan menghasilkan prototipe fungsional dalam waktu 18 bulan. Tahapan pengembangan meliputi:

  • Fase desain dan simulasi: pemodelan digital beamforming serta optimasi pola radiasi antena.
  • Fabrikasi modul TR: produksi local content untuk komponen kritis gallium nitride (GaN) yang menjadi jantung kinerja radar.
  • Integrasi dan uji lapangan: kalibrasi dengan sistem Kohanudnas dan uji deteksi terhadap pesawat serta drone di area latihan.
  • Sertifikasi dan produksi serial: setelah prototipe lulus uji TNI AU, produksi massal direncanakan untuk memenuhi kebutuhan hingga 20 unit radar dalam lima tahun ke depan.

Keberhasilan program ini diproyeksikan menekan biaya pengadaan hingga 40% dibandingkan impor, sekaligus membuka peluang ekspor ke negara-negara Asia Tenggara dan Afrika yang membutuhkan radar pertahanan udara dengan biaya terjangkau.

Outlook teknologi ke depan, pengembangan Radar 3D AESA oleh konsorsium dalam negeri tidak hanya memperkuat Kohanudnas menghadapi ancaman di era perang elektronik, namun juga mendorong lahirnya ekosistem industri pertahanan berbasis riset. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri adalah mempercepat hilirisasi komponen semikonduktor GaN, memperluas kerja sama dengan universitas untuk rekayasa perangkat lunak radar, serta membangun skema pembiayaan multi-years agar kontinuitas produksi tetap terjaga. Dengan langkah ini, Indonesia berpotensi menjadi hub manufaktur radar AESA regional dalam satu dekade mendatang.

Radar 3D AESA|Kohanudnas|Konsorsium
ENTITAS TERKAIT
Topik: radar 3D AESA, Kohanudnas, pertahanan udara, konsorsium dalam negeri
Tokoh: Luhut Binsar Pandjaitan
Organisasi: Kohanudnas, PT Len Industri, PT Pindad, ITB
ARTIKEL TERKAIT