READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
RISET & INOVASI ALUTSISTA TRENDING

Litbang Kemhan Uji Coba Radar AESA untuk Pesawat Tempur KF-21 Boramae

Litbang Kemhan Uji Coba Radar AESA untuk Pesawat Tempur KF-21 Boramae

Litbang Kemhan dan PT LEN Industri sukses menguji coba radar AESA buatan dalam negeri dengan 1.024 modul T/R GaN, jangkauan deteksi 240 km, dan kemampuan multi-mode untuk KF-21 Boramae. Keberhasilan ini menjadikan Indonesia negara keenam pengembang radar AESA mandiri, mengurangi ketergantungan impor komponen alutsista. Proyek riset bernilai Rp2,5 triliun ini menjadi fondasi strategis bagi kemandirian industri elektronika pertahanan nasional hingga 2028.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan (Litbang Kemhan) bersama PT LEN Industri berhasil melaksanakan uji coba perdana radar Active Electronically Scanned Array (AESA) buatan dalam negeri yang dirancang untuk diintegrasikan pada pesawat tempur KF-21 Boramae tahap pengembangan Indonesia. Radar ini mengusung 1.024 modul Transmit/Receive (T/R) berbasis gallium nitride (GaN), dengan kemampuan deteksi hingga 240 kilometer terhadap target berRadar Cross Section (RCS) 1 m²—setara dengan pesawat tempur generasi 4,5 atau UAV taktis. Keberhasilan ini menempatkan Indonesia sebagai negara keenam di dunia yang mampu mengembangkan radar AESA secara mandiri, setelah Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Perancis, dan China. Capaian riset ini menjadi fondasi strategis bagi kemandirian industri elektronika pertahanan nasional, terutama dalam menghilangkan ketergantungan impor komponen kritis alutsista.

Spesifikasi Teknis dan Kemampuan Multi-Mode Radar AESA GaN

Radar AESA hasil riset Litbang Kemhan dan PT LEN Industri dirancang dengan arsitektur solid-state yang memungkinkan beam steering elektronik tanpa pergerakan mekanis, memberikan keunggulan dalam kecepatan scanning dan resistensi terhadap jamming. Berikut spesifikasi teknis utama yang dicatatkan dalam uji coba pertama:

  • Jumlah Modul T/R: 1.024 modul gallium nitride (GaN) yang memungkinkan daya pancar tinggi dan efisiensi termal optimal, mengungguli generasi sebelumnya berbasis gallium arsenide (GaAs).
  • Jangkauan Deteksi: 240 km untuk target dengan RCS 1 m², memberikan kemampuan deteksi dini terhadap ancaman udara pada jarak strategis.
  • Kemampuan Multi-Mode: Mencakup Synthetic Aperture Radar (SAR) untuk pemetaan permukaan resolusi tinggi, Ground Moving Target Indication (GMTI) untuk mendeteksi pergerakan darat, serta mode air-to-air dan air-to-ground.
  • Integrasi Pesawat: Dirancang untuk diintegrasikan pada KF-21 Boramae tahap pengembangan Indonesia, dengan arsitektur antarmuka yang kompatibel dengan sistem misi dan radar warning receiver.

Radar AESA ini juga mendukung electronic protection measures (EPM) dan low probability of intercept (LPI), yang krusial dalam skenario peperangan elektronik modern. Penggunaan modul T/R berbasis GaN memberikan keunggulan dalam daya tahan dan performa dibandingkan generasi GaAs yang masih dominan di radar AESA generasi sebelumnya. Inovasi ini memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok teknologi sensor global.

Implikasi Strategis bagi Kemandirian Industri Elektronika Pertahanan

Proyek riset radar AESA ini menelan biaya sebesar Rp2,5 triliun dan dijadwalkan rampung pada 2028. Komitmen pendanaan jangka panjang ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun ekosistem industri pertahanan yang mandiri, khususnya di sub-sektor elektronika dan sensor. Dengan keberhasilan uji coba ini, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi radar AESA, tetapi juga pemilik kemampuan desain, manufaktur, dan integrasi sistem. Hal ini membuka peluang untuk memproduksi radar serupa bagi platform alutsista lain, seperti pesawat patroli maritim, UAV tempur, atau sistem pertahanan udara berbasis darat.

Dalam konteks KF-21 Boramae, integrasi radar AESA buatan dalam negeri akan mengurangi ketergantungan impor komponen kritis sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam program pengembangan bersama dengan Korea Selatan. Ekosistem riset yang terbangun—dari Litbang Kemhan, PT LEN Industri, hingga perguruan tinggi—menciptakan transfer knowledge yang berkelanjutan. Ke depannya, teknologi ini dapat menjadi katalis bagi pengembangan electronic warfare suite nasional dan sistem sensor multi-platform yang terintegrasi dalam konsep Network-Centric Warfare (NCW).

Sebagai outlook teknologi bagi pelaku industri pertahanan nasional, keberhasilan uji coba radar AESA ini menandai momentum kritis untuk mempercepat substitusi impor komponen elektronika militer. Rekomendasi strategisnya adalah mendorong konsolidasi antar stakeholder—pemerintah, industri, dan akademisi—dalam membangun roadmap produksi massal modul T/R GaN serta standardisasi antarmuka untuk berbagai platform alutsista. Dengan fondasi riset yang sudah teruji, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi hub manufaktur radar AESA di kawasan Asia Tenggara, memperkuat daya saing sekaligus kedaulatan teknologi pertahanan.

radar|aesa|kf-21|riset
ENTITAS TERKAIT
Topik: radar AESA, pesawat tempur KF-21 Boramae, industri pertahanan
Organisasi: Badan Litbang Kemhan RI, PT LEN Industri
Lokasi: Indonesia
ARTIKEL TERKAIT