Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) berhasil mengukir tonggak sejarah dalam riset kemandirian alutsista maritim melalui uji lapangan prototipe radar multifungsi AESA (Active Electronically Scanned Array) yang dirancang khusus untuk kapal perang. Sistem ini beroperasi pada frekuensi S-band dengan elemen pancar berbasis gallium nitride (GaN) — material semikonduktor generasi terbaru yang memberikan efisiensi daya tinggi dan ketahanan termal superior dibandingkan gallium arsenide (GaAs) konvensional. Dalam pengujian, radar mampu mendeteksi target udara pada jarak 250 km dan target permukaan laut hingga 80 km, dengan kemampuan beamforming digital untuk melacak 50 target secara simultan. Capaian ini menempatkan Indonesia dalam peta kecil negara pengembang radar AESA kelas atas — setara dengan sistem Thales NS100 atau Leonardo Kronos — namun dengan biaya pengadaan dan perawatan yang lebih kompetitif.
Spesifikasi Teknis Radar AESA LAPAN: GaN dan Beamforming Digital
Prototipe radar hasil riset LAPAN mengusung arsitektur digital penuh yang memungkinkan pembentukan berkas elektronik secara dinamis tanpa pergerakan mekanis. Teknologi ini selama ini hanya dikuasai oleh segelintir negara seperti AS, China, dan beberapa negara Eropa. Berikut rincian spesifikasi teknis utama sistem:
- Frekuensi Operasi: S-band (2–4 GHz) — optimal untuk deteksi jarak jauh dan ketahanan terhadap cuaca buruk.
- Elemen Pancar: Monolithic Microwave Integrated Circuit (MMIC) berbasis GaN, menghasilkan daya pancar lebih tinggi dengan konsumsi panas lebih rendah.
- Jangkauan Deteksi: 250 km untuk target udara (RCS 1 m²) dan 80 km untuk target permukaan laut.
- Kapasitas Tracking: 50 target simultan dengan pembaruan data kurang dari 1 detik.
- Mode Operasi: Air Search, Surface Search, Track-While-Scan, dan mode Electronic Counter-Countermeasures (ECCM).
- Integrasi: Antarmuka digital yang kompatibel dengan Combat Management System (CMS) existing pada fregat kelas Martadinata.
Keunggulan teknologi beamforming digital tidak hanya meningkatkan kemampuan deteksi dan tracking, tetapi juga memperkuat ketahanan terhadap jamming dan serangan elektronik — aspek krusial dalam peperangan asimetris modern. Dengan spesifikasi ini, radar AESA LAPAN siap menjadi tulang punggung sistem sensor kapal perang TNI AL.
Roadmap Integrasi: Menuju Kemandirian Alutsista Maritim
Prototipe radar AESA ini merupakan hasil riset intensif selama 4 tahun dengan total anggaran Rp 900 miliar, melibatkan kolaborasi antara LAPAN dengan BUMN dan universitas dalam negeri. Langkah selanjutnya adalah sertifikasi dan uji integrasi ke fregat kelas Martadinata yang ditargetkan rampung pada 2027. Keberhasilan ini membuka peluang tidak hanya untuk kebutuhan TNI AL, tetapi juga untuk platform maritim multi-role lainnya seperti kapal cepat rudal, LPD, atau bahkan sistem radar darat jarak jauh. Dari segi industri, penguasaan teknologi GaN dan beamforming digital menjadi fondasi untuk pengembangan radar multifungsi berdaya saing global, sekaligus mendorong kemandirian alutsista nasional.
Outlook teknologi ke depan, LAPAN direkomendasikan untuk mempercepat program produksi massal dan transfer teknologi ke industri pertahanan dalam negeri seperti PT Pindad atau PT PAL. Langkah strategis ini akan memperkuat ekosistem riset dan industri pertahanan nasional, mengurangi ketergantungan pada impor, serta membuka peluang ekspor radar AESA ke negara-negara sahabat. Dengan fondasi teknologi yang sudah teruji, Indonesia memiliki posisi tawar lebih kuat dalam kemandirian alutsista maritim di kawasan Indo-Pasifik.