Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) menuntaskan uji terowongan angin kecepatan tinggi Mach 6 untuk sistem propulsi scramjet yang dirancang bagi kendaraan hipersonik, termasuk aplikasi rudal. Uji yang berlangsung di Laboratorium Aerotermodinamika ITB ini menjadi tonggak penting dalam validasi desain propulsi, sekaligus menegaskan keseriusan Indonesia menguasai teknologi scramjet — mesin yang mampu beroperasi pada kecepatan sangat tinggi dengan memanfaatkan udara atmosfer. Material komposit C/SiC tahan panas tinggi digunakan sebagai bahan dasar nosel, komponen yang harus menahan beban termal ekstrem saat terbang pada Mach 6. Target awal pengembangan adalah prototipe rudal jelajah hipersonik dengan kecepatan Mach 5+ pada tahun 2029.
Scramjet dan C/SiC: Pilar Teknologi Propulsi Hipersonik Masa Depan
Keberhasilan uji terowongan angin Mach 6 ini bukan sekadar capaian teknis. Sistem propulsi scramjet adalah jantung dari kendaraan hipersonik; ia harus mampu membakar bahan bakar dalam aliran udara supersonik secara stabil. Pada kecepatan tersebut, suhu permukaan nosel dapat melampaui batas material logam konvensional, sehingga penggunaan komposit C/SiC — dikenal karena ketahanannya terhadap oksidasi dan kejut termal — menjadi keharusan. LAPAN dan ITB memadukan keahlian aerotermodinamika dengan ilmu material untuk memastikan setiap komponen mampu bertahan pada kondisi penerbangan yang belum pernah diuji sebelumnya. Hasil riset ini sekaligus membangun basis data teknis yang akan mempercepat iterasi desain prototipe.
Spesifikasi dan peta kerja pengembangan yang terungkap dari proyek ini meliputi:
- Kecepatan uji terowongan angin: Mach 6, setara enam kali kecepatan suara untuk memvalidasi performa scramjet.
- Material nosel: komposit C/SiC tahan panas tinggi, dirancang menahan siklus termal ekstrem.
- Target aplikasi: kendaraan hipersonik dan rudal jelajah dengan kecepatan jelajah Mach 5+.
- Pendanaan: Rp 800 miliar dari Kemenristek dan Kemenhan untuk program riset dan pengembangan propulsi.
Target 2029 dan Dampaknya bagi Kemandirian Alutsista Nasional
Dengan nilai investasi Rp 800 miliar yang dialokasikan Kemenristek dan Kemenhan, proyek ini menjadi salah satu program prioritas pengembangan alutsista dalam negeri. Target prototipe rudal jelajah hipersonik Mach 5+ pada 2029 menuntut percepatan integrasi antara desain aerodinamika, sistem propulsi, dan material tahan panas. Keberhasilan LAPAN dan ITB membawa konsep ini menuju prototipe akan menempatkan Indonesia di jajaran negara pengembang rudal hipersonik, bersama Amerika Serikat, Rusia, dan China. Ini adalah lompatan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga strategis dalam membangun daya tangkal.
Dari sisi industri pertahanan, proyek ini membuka peluang hilirisasi teknologi material C/SiC dan komponen propulsi. Pelaku industri nasional perlu segera menyiapkan kapasitas produksi nosel, jalur uji kualifikasi, serta penguatan sumber daya manusia di bidang aerodinamika komputasi dan aerotermodinamika. Jika ekosistem riset LAPAN dan ITB dapat dijembatani dengan industri, maka kemandirian alutsista hipersonik bukan lagi mimpi, melainkan sebuah peta jalan yang harus dijaga konsistensinya.