Kementerian Pertahanan RI resmi menandatangani kontrak integrasi radar multifungsi 'Lengkong' berbasis Gallium Nitride (GaN) buatan PT LEN Industri ke dalam Combat Management System (CMS) frigat KRI Martadinata. Radar dengan kemampuan deteksi target udara hingga 200 km dan pelacakan simultan 100 target ini menghadirkan lompatan signifikan dalam situational awareness TNI AL. Proses integrasi selama 18 bulan di galangan PT PAL mencakup pembaruan perangkat lunak CMS, kalibrasi sensor siluman (stealth calibration), dan pengujian interoperabilitas dengan sistem senjata seperti rudal surface-to-air, menandai modernisasi kapal perang nasional yang berbasis teknologi mutakhir.
Revolusi GaN: Efisiensi Energi dan Superioritas Elektronik
Teknologi Gallium Nitride (GaN) memberikan keunggulan komparatif signifikan dibandingkan pendahulunya, Gallium Arsenide (GaAs). Efisiensi energi yang lebih tinggi memungkinkan radar beroperasi dengan konsumsi daya lebih rendah sekaligus menghasilkan daya pancar yang lebih besar, memperpanjang durasi misi tanpa mengorbankan performa. Ketahanan terhadap electronic countermeasures (ECM) juga meningkat berkat noise figure yang lebih rendah dan bandwidth operasi yang lebar. Hasil uji coba operasional menunjukkan peningkatan waktu reaksi sistem pertahanan udara kapal hingga 40%, mengonfirmasi keunggulan taktis yang dihadirkan oleh teknologi GaN.
- Deteksi target udara hingga 200 km
- Pelacakan simultan 100 target
- Peningkatan efisiensi energi hingga 30% dibandingkan radar GaAs
- Ketahanan terhadap jamming dan ECM frekuensi tinggi
- Integrasi penuh dengan CMS dan sistem rudal surface-to-air
Menuju Kemandirian Alutsista: Target TKDN dan Ekspor Radar
Proyek integrasi ini merupakan milestone kritis dalam program lokalisasi komponen sensor kapal perang, dengan target pencapaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 30% pada sistem sensor tahun 2028. Keberhasilan teknis dan operasional radar Lengkong membuka jalur ekspor ke pasar global, sekaligus menjadi fondasi pengembangan radar Active Electronically Scanned Array (AESA) generasi berikutnya buatan dalam negeri. Langkah ini memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok elektronika pertahanan dunia, khususnya di segmen radar multifungsi berbasis GaN.
Bagi pelaku industri pertahanan nasional, momentum ini menuntut akselerasi investasi riset material semikonduktor dan penguatan ekosistem komponen lokal. Pencapaian TKDN 30% bukan sekadar target administratif, melainkan fondasi bagi pengembangan roadmap teknologi radar yang otonom dan adaptif terhadap spektrum ancaman masa depan. Keberhasilan integrasi sistem ini juga memperkuat argumentasi bagi pemerintah untuk memperluas kebijakan offset dan transfer of technology dalam setiap pengadaan alutsista baru.
Outlook ke depan, keberhasilan proyek KRI Martadinata diharapkan dapat direplikasi pada platform kapal perang lain, seperti korvet dan frigat kelas Parchim yang akan menjalani masa tengah umur (mid-life upgrade). Penguasaan teknologi GaN dan kemampuan integrasi sistem yang terbukti akan menjadi modal berharga bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pengembang dan pemasok radar pertahanan di kawasan. Industri sensor nasional dituntut untuk terus meningkatkan kapabilitas in-house dalam desain array, pemrosesan sinyal digital, serta electronic warfare agar dapat bersaing di panggung global.