Kementerian Pertahanan (Kemhan) resmi merilis dokumen strategi kemandirian industri pertahanan periode 2026–2030, yang menempatkan pengembangan alutsista cerdas sebagai prioritas utama. Strategi ini mengintegrasikan Kecerdasan Buatan (AI) dan Internet of Military Things (IoMT) ke dalam sistem persenjataan utama—termasuk rudal, kendaraan tempur, dan radar—sebagai langkah transformasi menuju militer berbasis data dan otomatisasi. Inisiatif ini diyakini akan meningkatkan efisiensi operasional dan daya tahan di medan tempur modern, sekaligus menandai pergeseran paradigma dari manufaktur tradisional menuju platform digital dan otonom.
Target TKDN 80% dan Konsolidasi Holding BUMN Industri Pertahanan
Pilar utama dalam strategi kemandirian ini adalah peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) hingga 80% untuk sistem persenjataan utama. Untuk mencapai target ambisius tersebut, Kemhan berencana membentuk holding BUMN industri pertahanan yang akan mengonsolidasikan sumber daya, teknologi, dan kapasitas produksi. Langkah ini diharapkan menekan ketergantungan pada impor serta mempercepat adopsi teknologi lokal. Selain itu, anggaran riset dan pengembangan akan ditingkatkan hingga 0,5% dari PDB, mengakselerasi inovasi di sektor pertahanan. Beberapa spesifikasi teknis yang menjadi fokus pengembangan meliputi:
- Rudal cerdas: integrasi AI untuk navigasi otonom, pengenalan target, dan adaptasi terhadap gangguan elektronik.
- Kendaraan tempur: sistem IoMT yang memungkinkan komunikasi real-time antar unit, sensor multi-spektrum, dan kemampuan manuver otonom.
- Sistem radar: jaringan radar cerdas dengan kemampuan deteksi siluman, pemrosesan sinyal berbasis AI, dan resistensi terhadap serangan cyber.
Kolaborasi dengan Ekosistem Startup untuk Mempercepat Inovasi Alutsista Cerdas
Strategi ini juga menekankan pentingnya integrasi dengan ekosistem startup teknologi untuk mempercepat inovasi. Kemhan akan membuka akses ke data militer non-klasifikasi, fasilitas uji coba, dan pendanaan bagi startup yang fokus pada pengembangan solusi AI, IoMT, dan keamanan siber. Pendekatan ini diharapkan menciptakan efek multiplier, di mana teknologi yang dikembangkan untuk militer dapat diadopsi untuk kebutuhan sipil, mengurangi biaya produksi, dan memperkuat ekosistem industri nasional. Dengan target TKDN tinggi dan kolaborasi lintas sektor, strategi kemandirian 2026–2030 menjadi kerangka kerja komprehensif untuk memperkuat kemandirian alutsista cerdas nasional.
Outlook teknologi dari strategi ini menunjukkan bahwa dalam dekade mendatang, industri pertahanan nasional harus bergeser dari model manufaktur tradisional menuju platform digital dan otonom. Pelaku industri diharapkan segera mengidentifikasi celah teknologi dan membangun kemitraan strategis dengan lembaga riset dan startup. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri pertahanan adalah memfokuskan investasi pada pengembangan perangkat lunak dan sistem kontrol otonom, serta memperkuat rantai pasok komponen elektronik dan sensor dalam negeri. Hanya dengan langkah ini, ekosistem industri pertahanan nasional dapat mencapai kemandirian yang berkelanjutan dan berdaya saing global.