READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
OPTIMALISASI KEBUTUHAN TRENDING

Kemhan Evaluasi Kebutuhan Radar Pertahanan Udara untuk Pulau Terluar, Prioritaskan Produk Lokal

Kemhan Evaluasi Kebutuhan Radar Pertahanan Udara untuk Pulau Terluar, Prioritaskan Produk Lokal

Kemhan mengevaluasi kebutuhan radar pertahanan udara untuk 12 pulau terluar dan membandingkan radar impor dengan radar buatan PT Len Industri (Sentinel-200) yang mampu mendeteksi target hingga 250 km serta menghemat devisa 40%. Namun, masih terdapat gap pada kemampuan radar over-the-horizon (OTH) yang tengah diriset BRIN dengan prototipe berbasis gelombang HF yang ditargetkan selesai 2027. Keputusan mengadopsi produk lokal ini menjadi langkah strategis menuju postur pertahanan udara yang mandiri, efisien, dan berbasis teknologi dalam negeri.

Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan (Kemhan) tengah menggelar evaluasi kebutuhan radar pertahanan udara untuk 12 pulau terluar yang memiliki kerentanan tinggi terhadap ancaman udara, mencakup Natuna, Morotai, dan Sabang. Proses evaluasi kebutuhan ini membandingkan spesifikasi teknis radar impor dengan radar buatan PT Len Industri, varian Sentinel-200. Hasil sementara menunjukkan bahwa radar buatan dalam negeri mampu memenuhi persyaratan deteksi target pada ketinggian rendah hingga menengah dengan jangkauan 250 km, serta menawarkan integrasi yang lebih mulus dengan Sistem Komando Kontrol Nasional (SKKN). Keputusan mengadopsi produk lokal diperkirakan menghemat devisa hingga 40% dibandingkan alternatif asing, memperkuat postur pertahanan udara yang mandiri dan efisien.

Spesifikasi Teknis Sentinel-200 dan Keunggulan Integrasi SKKN

Radar Sentinel-200 dirancang sebagai sistem radar pertahanan udara taktis dengan kemampuan deteksi multi-target pada ketinggian rendah hingga menengah. Berdasarkan hasil evaluasi teknis, radar ini memiliki sejumlah spesifikasi kunci yang relevan dengan kebutuhan alutsista maritim di pulau terluar:

  • Jangkauan deteksi hingga 250 km untuk target udara pada ketinggian rendah (0-500 m) dan menengah (500-10.000 m).
  • Ketepatan pelacakan (tracking accuracy) dalam azimuth dan elevasi dengan toleransi di bawah 0,5°, mendukung akurasi tembakan sistem pertahanan udara.
  • Integrasi penuh dengan SKKN melalui protokol digital standar militer, memungkinkan pertukaran data real-time dengan pusat komando dan baterai rudal darat-ke-udara.
  • Kemampuan Electronic Counter-Countermeasures (ECCM) untuk mengurangi gangguan elektronik dari lawan.
  • Efisiensi daya dan perawatan rendah, cocok untuk operasi di pulau terluar dengan infrastruktur terbatas.

Dengan mengadopsi radar Sentinel-200, Kemhan tidak hanya memperkuat produk lokal tetapi juga mempercepat kemandirian industri pertahanan nasional, mengurangi ketergantungan pada komponen luar negeri yang sering memerlukan biaya lisensi dan logistik tinggi.

Tantangan Radar Over-the-Horizon dan Riset BRIN untuk Pulau Terluar

Meskipun Sentinel-200 unggul dalam deteksi garis pandang langsung, evaluasi mengidentifikasi celah signifikan pada kemampuan over-the-horizon (OTH) untuk pulau terluar dengan jarak antar pulau yang jauh. Untuk mengatasi hal ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan prototipe radar OTH berbasis gelombang permukaan frekuensi tinggi (HF). Radar OTH HF mampu mendeteksi target di luar cakrawala—hingga 500 km—dengan memanfaatkan pemantulan gelombang pada lapisan ionosfer. Proyek riset ini ditargetkan rampung pada 2027 dan akan menjadi komponen kunci dalam ekosistem alutsista maritim untuk pengawasan batas wilayah negara. Keberhasilan radar OTH HF akan melengkapi radar pertahanan udara yang ada, menciptakan lapisan deteksi berlapis (layered defense) yang sulit ditembus lawan.

Langkah riset ini sejalan dengan evaluasi kebutuhan yang dilakukan Kemhan, di mana kebutuhan spesifik radar OTH untuk pulau terluar seperti Sabang dan Natuna mendapat prioritas tinggi. Dengan integrasi antara radar Sentinel-200 dan radar OTH HF, postur pertahanan udara Indonesia akan memiliki cakupan deteksi dari permukaan laut hingga lapisan atmosfer bawah, mengurangi blind spot yang selama ini menjadi kelemahan sistem pertahanan terpusat.

Outlook teknologi ke depan menuntut kolaborasi erat antara BUMN pertahanan seperti PT Len Industri, BRIN, dan industri swasta nasional. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri pertahanan adalah mempercepat pengembangan radar OTH HF dengan mengadopsi teknologi software-defined radar dan kecerdasan buatan untuk pengolahan sinyal, agar dapat memenuhi target 2027. Selain itu, program substitusi impor komponen radar—seperti transmit/receive module (TRM) dan antenna array—harus terus didorong untuk menekan biaya produksi dan memperkuat rantai pasok lokal. Dengan langkah ini, Indonesia tidak hanya mencapai kemandirian alutsista tetapi juga berpotensi menjadi pemasok radar pertahanan udara bagi negara-negara Asia Tenggara di masa depan.

radar pertahanan udara|pulau terluar|evaluasi kebutuhan|produk lokal|alutsista maritim
ENTITAS TERKAIT
Topik: pertahanan udara, radar, pulau terluar, produk lokal
Organisasi: Kementerian Pertahanan, Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan, PT Len Industri, BRIN
Lokasi: Natuna, Morotai, Sabang
ARTIKEL TERKAIT