Kementerian Pertahanan RI resmi menandatangani kontrak senilai $320 juta dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Saab untuk pengadaan sistem radar MESA (Multi-role Electronically Scanned Array) yang akan diintegrasikan pada platform CN-235 guna mendukung misi AEW&C (Airborne Early Warning and Control). Radar MESA, yang menggunakan teknologi electronically scanned array generasi terbaru, mampu mendeteksi target udara pada jarak hingga 450 km dan melacak secara simultan hingga 200 target dalam berbagai kondisi cuaca. Langkah ini menandai loncatan signifikan dalam sistem pengadaan alutsista nasional, sekaligus memperkuat arsitektur pertahanan udara berbasis network-centric warfare.
Integrasi Radar MESA pada CN-235: Lompatan Teknologi Early Warning
Kontrak yang mencakup integrasi sistem, pelatihan kru, dan dukungan logistik selama 10 tahun ini merupakan proyek strategis yang memanfaatkan kemampuan industri dalam negeri dalam perakitan dan integrasi sistem. Dengan melibatkan PTDI sebagai mitra utama, proyek AEW&C ini dijadwalkan rampung pada 2029 dan akan menjadi tulang punggung early warning di kawasan. Radar MESA, yang merupakan varian canggih dari radar Erieye, memiliki kemampuan 360° coverage tanpa rotasi mekanis, memungkinkan deteksi multi-arah secara real-time. Berikut adalah spesifikasi teknis utama sistem radar MESA yang diadopsi:
- Jarak deteksi maksimum: 450 km untuk target udara dengan RCS (Radar Cross Section) menengah, hingga 300 km untuk target siluman
- Kapasitas pelacakan: Hingga 200 target simultan dengan pembaruan data setiap 2 detik
- Mode operasi: Air-to-Air, Air-to-Surface, dan Electronic Support Measures (ESM) terintegrasi
- Platform: CN-235-220 dengan modifikasi struktur sayap dan sistem pendingin untuk menopang antena array
- Daya tahan misi: Hingga 8 jam dengan satu kali pengisian bahan bakar, mencakup radius operasi 1.500 km
Dampak Strategis bagi Kemandirian Industri Pertahanan Nasional
Keterlibatan PTDI sebagai integrator utama dalam proyek ini tidak hanya memperkuat kapabilitas pengadaan alutsista, tetapi juga membuka jalur transfer teknologi radar dan avionics dari Saab. Menteri Pertahanan menegaskan bahwa proyek AEW&C ini merupakan wujud nyata kemandirian industri pertahanan nasional, di mana komponen lokal mencapai 35% dari total sistem, termasuk perakitan antena, kabel interkoneksi, dan integrasi data link. Ke depan, kemampuan ini dapat diduplikasi untuk platform lain seperti NC-212 atau N-219, memperluas jejaring early warning di seluruh kepulauan Indonesia. Proyek ini juga sejalan dengan Defense Industrial Roadmap 2025-2040 yang menargetkan peningkatan TKDN alutsista hingga 50% pada 2030.
Dari sisi strategis, pengadaan radar MESA untuk AEW&C akan memperkuat sensor grid pertahanan udara Indonesia yang saat ini masih bergantung pada radar darat dan sistem peringatan dini konvensional. Dengan kemampuan deteksi 450 km, satu unit CN-235 MESA dapat mencakup area seluas 630.000 km² per misi, secara signifikan menutup celah pengawasan di wilayah perbatasan dan Laut Natuna. Integrasi data link Tactical Data Link (TDL) NATO standar juga memungkinkan berbagi data real-time dengan pesawat tempur seperti F-16 dan Su-30, menciptakan kill chain yang lebih responsif.
Bagi pelaku industri pertahanan nasional, proyek ini menjadi momentum untuk menguasai teknologi Active Electronically Scanned Array (AESA) yang merupakan kunci sistem radar generasi kelima. Rekomendasi strategisnya adalah mempercepat pembentukan pusat riset radar dan electronic warfare di dalam negeri, serta menjalin kemitraan jangka panjang dengan Saab untuk pengembangan varian radar MESA dengan kemampuan anti-jamming dan low probability of intercept. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga produsen sistem radar AEW&C yang kompetitif di pasar global.